
Pemandangan yang sangat indah seketika langsung tersaji dihadapan Erina, dia tidak menyangka akan melihat pemandangan ini dalam hidupnya.
Matanya seakan-akan disihir, dia hanya berdiam selama beberapa saat dalam kondisi memandangi langit yang sangat indah dan dihiasi oleh banyak cahaya bintang. Dia menatap Dhafin dengan mata berkaca-kaca setelah hanya diam sejak awal, dia tidak berhenti mengucapkan kata 'terimakasih' kepada Dhafin, Erina bahkan memeluknya karna bahagia.
Sudah sangat lama dia mengidamkan pemandangan seperti ini, dia tidak menyangka kalau hari ini adalah saat baginya untuk melihat sesuatu yang ia impikan sejak dulu.
Dia lantar bertanya kepada Dhafin "Sebenarnya ini dimana?." Erina melihat sekelilingnya dan melanjutkan "Tempat apa ini?, disini sangat luas dan gelap."
"Ini cuma dibukit yang terletak dipinggiran daerah timur kok, apa kamu pernah mendengar bukit cungu?."
Erina menyeka matanya lalu berkata "Oh iya, aku tau." Dhafin mengangguk dan menjelaskan "Sekarang kita berada di bikin cungu, disini tempat yang cocok untuk melihat bintang. Bahkan jika kamu tidak memiliki teleskop kamu masih bisa melihat ratusan bintang dilangit dengan jelas, disini juga sangat minim cahaya. Karna letaknya dipinggiran kota dan hanya ada 1 desa disini, itupun desa tradisional dan tidak memakai listrik."
Dhafin masih melanjutkan penjelasannya itu dengan Erina yang menyimak dengan seksama "Jika aku menghidupkan lampu mobil pun, langit malam itu tidak akan terpengaruh."
Dhafin teringat 1 hal lagi lalu berkata "Oh iya, aku sudah menyiapkan teleskop. Kamu bisa mengamati bintang-bintang sesukamu, sebentar ya." Dhafin lalu meminta Harold yang berada tidak jauh darinya untuk mengambilkan teleskop yang dia minta, Harold dengan cepat melaksanakan keinginan tuan mudanya itu.
Langit diatasnya adalah mimpi terindah Erina saat ini, dia terus mengamati bintang-bintang di langit. Dia menjadi lebih senang setelah Dhafin memberikan teleskop untuknya, dia terus saja melihat di teleskopnya itu tanpa henti.
Dhafin yang menyadari kalau nyamuk mulai menggigiti Erina akhirnya mengeluarkan pelembab khusus untuk menangkal gigitan nyamuk. [Pawang nyamuk/sofel/dll]
Dia meraih tangan Erina yang saat itu sedang memegangi teleskop sambil berkata "Pakai ini biar kulitmu yang halus itu tidak dilukai oleh serangga menyebalkan."
Erina yang sedang fokus saat itu sangat merasa terkejut ketika tangannya disentuh, dia langsung menoleh karna kaget. Dia hanya menatap Dhafin dengan diam, dia tidak bisa berkata apa-apa karna malu. Hanya dipakaikan sofel saja sampai seperti itu, bukankah perasaan beberapa wanita itu sangat tulus?.
__ADS_1
***
Setelah beberapa jam mengamati langit, Erina memutuskan untuk pulang karna waktu sudah semakin larut dan besok masih ada ujian praktik. Dhafin berkata saat Erina membereskan teleskop yang dipakainya "Teleskop itu buat kamu, tempat diatas rumah juga sudah aku rapihkan dan bisa dipakai untuk duduk-duduk tanpa khawatir akan kotor."
Erina memeluk teleskop itu dengan wajah tersipu malu dan berkata "M-...Terimakasih, aku akan menyimpan dan merawatnya dengan baik."
Dhafin mengangguk dan hendak mengambil teleskop itu dari pelukan Erina "Sini biar aku bawakan, aku terkejut kamu bisa memeluknya dengan mudah, soalnya berat teleskop ini hampir 20 kg."
Setelah mendengar itu Erina langsung terjatuh sebelum dia memberikannya kepada Dhafin, dari pada menghawatirkan dirinya, Erina langsung mengecek teleskopnya itu dan menghela nafas lega.
Dhafin kemudian membantunya untuk bangun dan berkata "Haha, kamu terlalu bersemangat sampai tidak bisa merasakan bobotnya."
Erina hanya diam tersipu malu, dia memang benar-benar gembira karna mendapatkan benda itu, mungkin Dhafin benar.
Harold mengambilnya dan lekas menuju mobil jepnya, Dhafin sampai kerumah setelah beberapa saat menyetir.
Sepanjang perjalanan, Erina tidak berhenti berterimakasih kepada Dhafin. Baginya malam ini sangatlah bermakna, dia bisa mewujudkan keinginan bersama Ayahnya dulu. Dia merasakan keberadaan Ayahnya saat disana seolah-olah dia datang untuk menemani Erina melihat bintang-bintang itu, Dhafin hanya tersenyum sepanjang jalan sambil mendengarkan cerita Erina tentang ayahnya itu. Walaupun sebelumnya sudah pernah diceritakan, Dhafin masih tetap mendengarkannya dengan antusias, karna baginya Erina adalah segalanya saat ini.
***
Keesokan harinya Erina terbangun dengan kondisi yang sangat menyenangkan serta menyegarkan, dia mencium aroma lezat dari dalam kamarnya. Dia segera keluar dan pergi ke kamar Dhafin untuk membangunkannya terlebih dahulu, tanpa disangka Dhafin sudah tidak ada dikamarnya. Melihat kamar Dhafin yang berantakan, Erina tidak tahan dan bergerak untuk membersihkannya.
Setelah itu dia kembali dan pergi mandi serta siap-siap, dia pikir Dhafin sudah ada dibawah karna handuknya sudah tergeletak dikasur dalam keadaan basah tadi.
__ADS_1
Saat selesai Erina pergi kebawah dan menuju dapur, dia sangat terkejut karna bau sedap yang diciumnya tadi itu bukan berasal dari masakan yang dibuat bi Siti, melainkan masakan yang dibuat oleh Dhafin!.
Sedangkan bi Siti dan pak Eno berdiri tidak jauh dari sana sambil memandangi Dhafin, sadar akan kehadiran Erina, Dhafin menoleh kearahnya dengan senyum tulus "Wah. Rina udah bangun?.", dia berkata demikian sambil mengaduk masakannya dengan gaya ala-ala chef kelas dunia tanpa tumpah meskipun sedang menoleh.
Erina hanya mengangguk dan menarik kursi untuk duduk, bi Siti kemudian menghampirinya lalu berbisik pelan "Lihatlah pemuda itu, entah karna apa dia sangat bersemangat dan tidak membiarkanku untuk membantunya, ditambah bibi baru tau kalau dik Dhafin bisa melakukan hal seperti itu.". Erina tersenyum dan mengangguk sambil berkata "Iya aku juga baru tau, aku pikir cuma jago dalam hal rasa masakan, tapi siapa sangka kalau Dhafin juga sangat ahli dalam mengelolanya."
Erina bangkit dan menghampiri Dhafin sambil bertanya "Sebenarnya apa yang kamu buat sih sampai aromanya menerobos masuk ke pintu kamarku?."
Dhafin mematikan kompornya dan menjawab sambil melepas apron miliknya "Apasih berlebihan sekali, aku hanya memasak nasi goreng kok."
Erina terkejut mendengarnya sampai-sampai mulutnya terbuka walau tidak lebar, dia menatap berulang kali kearah bi Siti. Bi Siti akhirnya mengangguk-angguk "Ya, gitudeh. Dhafin memang menakutkan kalau dalam hal memasak, mungkin dia bisa disejajarkan dengan koki kelas dunia."
Tidak lama kemudian nasi goreng itu sudah selesai disajikan diatas meja, Dhafin kembali menyiapkan kursi untuk Erina sambil tersenyum "Silahkan duduk."
Erina kembali berjalan kearah kursinya dengan wajah yang masih terlihat bingung, dia mengambil sesendok nasi itu dan memakannya.....
Dia merasakan ledakan rasa yang bergejolak didalam mulutnya, rasanya sangat enak sampai-sampai akan ada kembang api yang keluar dari kepalanya. Dia tidak tahan untuk kembali bertanya "Sebenarnya bumbu apa sih yang kamu masukan kedalam nasi ini?."
Dhafin mengangkat bahunya acuh tak acuh "Hmm, apa ya... Aku hanya memakai bumbu-bumbu yang normal kok, hanya saja ada taburan rohani didalamnya haha."
Erina mendengus kesal mendengar jawaban itu "Ck, mana ada coba yang seperti itu. Ngawur kamu,
Dhafin tertawa kecil "Udah selesaikan dulu makannya, gak baik makan sambil berbicara."
__ADS_1