IMPIANKU

IMPIANKU
ch.20 (Sekolah 2 END)


__ADS_3

Setelah beberapa saat mengikutinya, Dhafin mendapati anak itu yang duduk di kursi dekat tong sampah sendirian. Dhafin sebenarnya agak kesal dengannya, tapi dia masih berusaha berempati. Dhafin akhirnya duduk disebelahnya "Siang-siang kayak gini kok ada ya orang yang duduk sendirian." ucap Dhafin sambil memakan kentang goreng milik perempuan itu.


Anak itu menunduk sebelum berbicara "Sebaiknya kamu jangan mendekatiku."


"Hm?." Dhafin menatapnya dan melanjutkan "Apa kamu marah aku mengambil kentang goreng milikmu? aku akan menggantinya kok."


Anak itu segera berdiri dan pergi menjauhi Dhafin, saat dia berjalan dia tak sengaja menjatuhkan sesuatu dari sakunya. Itu adalah kalung liontin yang pernah dilihat Dhafin sebelumnya, saat Dhafin berdiri ingin mengambilnya anak tadi langsung menyadari dan segera mengambilnya sebelum Dhafin dan dia langsung berlari.


Dhafin kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya "Sebenarnya anak itu kenapa sih..."


Dhafin melanjutkan "Kalung tadi... aku benar-benar seperti mengenalnya, aku harus mencari tahu tentang dirinya dan apa yang dia sembunyikan."


Dhafin berinisiatif untuk menyelidiki anak itu, Dhafin mulai tertarik dengannya!.


Saat sekolah berakhir Dhafin mengikutinya pulang, untuk memastikan dia tidak diganggu serta ingin mulai menyelidikinya. Sayangnya dia kehilangan jejak saat dia berbelok "Kemana dia?." Dhafin berlari menelusuri area sekitar "Tidak mungkin hilang begitu saja!, pasti dia sadar kalau aku mengikutinya."


Keesokan harinya dia mencoba cara lain dan kembali gagal, rencana selanjutnya pun selalu gagal. Karna lelah dia ingin memutuskan untuk berhenti, sesaat sebelum Dhafin memutuskan berhenti dia teringat dengan kalung yang dijatuhkan perempuan itu dan mulai mencari kalung miliknya yang diberikan oleh temannya dulu. "Aku merasa kalau liontin kalung itu cocok bentuknya, ah sial dimana aku meletakkan milikku."


Saat dia menemukan miliknya, dia segera berlari kebawah untuk mencari tahu.


"Zero, apakah ada salah satu satelit kita yang menangkap gambarku pada saat aku disekolah?."


"Tuan, anda menciptakan banyak sekali satelit dan ada salah satu dari mereka yang dirancang untuk bertugas mengawasi anda setiap hari. Ada banyak tampilan ketika anda bersekolah."


"Cari salah satu ketika aku sedang dibelakang kantin bersama seorang gadis!."


"Baiklah tuan, tunggu sebentar..."


Zero kembali bersuara setelah beberapa saat "Tuan, hanya ini yang menurut saya paling cocok dengan deskripsi anda."


"Iya bagus, itu dia yang ku cari. Bisa kah kamu memperjelas benda yang terjatuh itu?, itu adalah kalung dengan liontin setengah merpati. Aku pikir liontin itu selaras dengan milikku, bisakah kamu menampilkannya? lalu menyelaraskannya, apakah cocok?."


Setelah memproses, hasil yang keluar diluar dugaan. Kalung itu 100% cocok dengan milik Dhafin "Apa ini? tidak mungkin itu adalah dia. Zero, sekarang kamu cari data diri anak perempuan yang menjatuhkan benda itu!."

__ADS_1


Dalam sekejap muncul informasi detail tentang anak perempuan itu.


Dhafin terkejut dan kakinya sangat lemas hingga dia terjatuh "Tidak mungkin... Tidak mungkin itu dia. Aku harus menanyakannya langsung besok!."


Keesokan harinya saat disekolah, Dhafin datang awal lagi untuk berbicara dengan perempuan itu. Saat dia sampai dikelas, perempuan itu menyadari keberadaannya dan mulai beranjak pergi. Anak itu sudah berlari cukup jauh ketika Dhafin berteriak "Erina!." dengan suara lantang.


Sontak perempuan itu langsung terdiam seperti patung, dia hanya bisa berdiri dan menunduk sampai akhirnya Dhafin menghampirinya.


"Aku benarkan, kamu Erina yang dulu itu... Sudah lama sekali, kenapa kamu diam saja." Dhafin melanjutkan "Kenapa kamu selalu menghindari ku?."


Saat Dhafin sampai di depan Erina dia melihat wajahnya yang memerah dan matanya yang berkaca-kaca "Hey kau kenapa." ucap Dhafin sambil merendahkan tubuhnya untuk menatap matanya.


"Tidak... Kamu mengingatku?."


"Iya, aku ingat setelah melihat kalungmu kemarin. Lihatlah, aku masih menyimpan pasangannya, kamu yang memberikan ini dulu sebelum per_"


Dengan cepat Erina memotong "Menjauh lah dari ku."


Dhafin menarik tangan Erina sebelum berkata "Sudahlah, ayo kita cari tempat yang lebih tenang untuk berbicara. Bolos saja hari ini!."


Erina hanya bisa pasrah dan mengikuti Dhafin, saat perjalanan Dhafin mengambil ponselnya untuk menghubungi Harold "Harold, aku butuh tempat dengan privasi penuh untuk berbincang dengan teman ku, dimana aku bisa menemukannya?."


"Anda sekarang dimana tuan?."


"Distrik 12."


Suara ponsel sempat terhenti sebentar, kelihatannya Harold sedang berfikir "Ah kita memiliki restoran yang menyediakan ruangan khusus untuk orang tertentu saja, pastinya anda bisa menggunakannya secara bebas. Letaknya di distrik 12, jalan malaka no.1.


"Baiklah, bagaimana caraku masuk? mereka semua belum mengenalku kan? ingat untuk tetap merahasiakan identitasku."


"Tuan tidak perlu khawatir, anda hanya perlu menunjukan pesan yang akan ku kirimkan nanti jika ditanya oleh penjaga."


Sebuah pesan masuk ke ponsel Dhafin yang terlihat seperti sebuah undangan, tidak! itu memang benar undangan.

__ADS_1


"Baiklah terimakasih."


"Sebuah kehormatan untukku bisa melayani anda." *tut...tut....tut....


Saat sampai Dhafin terkejut mendapati yg dikunjunginya adalah restoran ternama 'vandelises', Dia berfikir di dalam benaknya apakah ini sungguh salah satu resto miliknya?.


Dhafin memutuskan untuk masuk saja terlebih dahulu "Hei ayo jangan diam saja." Erina hanya mengangguk dan jalan perlahan.


Dia dihadang saat hendak memasuki area restoran oleh penjaga disana, tanpa berlama-lama dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukan pesan undangan yang dikirim oleh harold.


Saat melihat pesan itu, sang penjaga sedikit panik dan membungkuk dengan sopan "Maaf tuan, silahkan masuk."


Penjaga melanjutkan dengan memerintahkan orang didalam untuk membimbingnya "Hei, tolong antar tuan ini dan temannya ke ruangan A05."


Secara singkat, Dhafin belum mengerti dengan cara kerja restoran miliknya ini, tapi dia tidak peduli dan lebih memilih fokus kepada Erina.


"Ini dia ruangannya tuan, jika ingin memesan sesuatu didalam sudah ada menunya dan anda tinggal memesan lewat interkom yang ada didalam. Saya permisi..." sang pemandu akhirnya pergi dengan sopan.


Dhafin menatap Erina sebelum berbicara "Ayo, kamu jangan diam saja. Kita sudah lama tidak bertemu, kamu tidak boleh mematung terus." setelah mengatakan itu Dhafin langsung menariknya kedalam.


"Duduklah, aku akan memesankan sesuatu."


Setelah beberapa saat memesan, Dhafin mulai duduk dan bertanya "Nah... Jadi.. Apa alasanmu?, apa kamu masih tidak mau berbicara dan menjelaskan semuanya?."


Erina yang sedari tadi bungkam akhirnya mulai membuka mulut "Kedua orang tuaku sudah tiada..."


Dhafin yang saat itu baru saja akan memasukan pisang yang tersedia diatas meja langsung terhenti dan menaruhnya lagi, Erina juga melanjutkan "Usaha keluargaku bangkrut setelah mereka meninggal karna karyawan yang korupsi, aku tidak punya apa-apa sekarang. Aku hanya malu untuk menemui mu dikondisiku yang sekarang."


Dhafin menjawab dengan wajah menunduk "Maaf aku tidak tau..."


"Tidak masalah, itu bukan salahmu."


Dhafin mengangkat kepalanya "Bisakah kamu menceritakannya kepadaku?."

__ADS_1


__ADS_2