
*
*
*
"Dhafin......"
*
"Dhafin bangun..."
*
"Fin??.."
*
*
"Dhaafin?."
Dhafin mendengar suara yang lembut samar-samar ditengah kegelapan dan keheningan itu, sampai akhirnya....
*Byuurrrrr
Alam yang tadinya terlihat sangat gelap dan sunyi bagi Dhafin, tiba-tiba langsung terpenuhi oleh air. Dia langsung terbangun dari tidurnya, dia mengira bahwa dirinya sudah pergi meninggalkan dunia.
Dia melihat jam dan ternyata semua itu hanya mimpi belaka!.
Erina tepat ada disampingnya membawa wadah kecil bekas air yang dia siram tadi, dia lantas berkata "Fin, bangun cepet!. Mandi, kita udah hampir telat!!."
"Ah iya." Dhafin langsung bangun dari tempat tidur, dia meminta Erina keluar sementara Dhafin bersiap untuk mandi di kamar mandi pribadinya. Dhafin sudah siap dan selesai sekitar 10 menit kemudian, dia hanya mengambil roti dari lemari di dapur untuk sarapan dan segera mengambil kunci mobilnya.
"Rin ayo, kita pakai mobil aja hari ini. Kita udah ketinggalan kereta!."
Erina memiringkan kepalanya lalu membalas perkataan Dhafin "Bukankah lebih baik kalau kita diantar pak Eno?." Dia melanjutkan perkataannya "Pak Eno sudah bersiap didepan, ayo kita segera keluar."
__ADS_1
"Benar juga ya."
Mereka berdua segera jalan keluar rumah setelah itu.
Dalam perjalanan Erina bertanya apa yang membuatnya susah bangun seperti itu, "Fin, kamu tidur jam berapa sih?. Tadi kayak ngebangunin mayat aja."
Dhafin tertawa kecil sebelum menjawab "Itu ya.. Tadi aku mimpi sesuatu yang aneh aja, dan itu adalah lucid dream, jadi aku terbawa suasana didalam mimpi itu."
"Gitu ya.. Memang mimpi yang seperti apa?."
Dhafin menjawab dengan agak ragu "Emm, agak susah ngejelasinnya karna mimpi tadi tuh agak.... Gitu deh."
Erina menghela nafas lalu menjawab "Yasudah lah, gak perlu dibahas. Yang jelas kalau kita telat itu salahmu."
"Iya iya, maaf."
***
Pak Eno mengendarai mobil dengan cepat dan mulus, sampai-sampai Dhafin dan Erina tidak sadar bahwa mereka sudah hampir sampai hanya dalam beberapa menit!. Mereka bergegas segera berlari ke arah gedung kelas mereka, akhirnya mereka sampai dan tepat beberapa detik kemudian bel masuk berbunyi.
Erina menepuk jidatnya lalu menggelengkan kepalanya kemudian menjawab "Ahh... Anak bodoh itu, tidur seperti pindah alam saja. Aku sampai harus menyiramnya agar bangun, lihatlah dia bahkan mau segera melanjutkan tidurnya. Menyebalkan sekali ckck."
Desi menepuk bahunya lalu berkata "Sabar ya, mungkin kamu harus menyewa drum band untuk membangunkannya di lain waktu."
Akhirnya pada saat itu juga pak Anton sudah ada didepan pintu dan Desi beserta siswa lainnya bergegas kembali ke tempat duduk masing-masing, sedangkan Dhafin sudah kembali tertidur. Sejujurnya Dhafin tidak benar-benar kembali tidur, dia hanya memikirkan mimpi bodohnya sampai dia melamun dan seperti orang yang sedang tidur, dia hanya berharap tidak akan mendapati mimpi bodoh seperti itu lagi.
Karna muak dia akhirnya terbangun dan hendak keluar kelas, dia berdiri lalu berjalan kearah pintu dan berkata "Kalau ada hal penting hubungi saja ya pak guru."
Dia lanjut keluar dan menutup pintu, Gavin yang melihat hal itu juga mengikuti Dhafin keluar kelas. Dhafin terkejut saat melihat Gavin mengikutinya kemudian berkata "Kenapa kamu mengikutiku?."
Gavin lalu menjawab dengan santai "Takut kamu kesepian terus gantung diri di pohon toge."
Dhafin menjawabnya dengan sedikit kesal "Jangan berkata sesuatu yang bodoh, lagi pula kamu itu kan memang bodoh, kenapa membolos kelas?. Aku heran kenapa kamu bisa lolos tes masuk di sekolah ini."
Gavin dengan rasa percaya diri yang tinggi kemudian menjawab "Tentu saja dengan kekuatan orang dalam." wajahnya berubah menjadi sedikit serius kemudian bertanya kepada Dhafin "Oh iya, kamu sendiri kenapa?. Apa ada yang menganggu fikiranmu?."
Dhafin lalu melihat kearah atas kanan dan kiri sebelum mendengus kencang dan menjawab "Enggak sih, hanya saja aku ingin mencari hiburan untuk menghilangkan sisa-sisa mimpiku tadi." Dia melanjutkan "Mimpi yang sangat mengganggu dan sangat sulit dilupakan!."
__ADS_1
Gavin melirik kearah Dhafin dan bertanya "Memangnya mimpi seperti apa?." sebelum Dhafin menjawab. Gavin terlebih dahulu melanjutkan perkataannya "Gak deh, kalau kamu jawab malah akan lebih susah melupakannya."
"Itu kamu tau."
Gavin diam sejenak lalu bertanya lagi "Lalu kita akan melakukan apa sekarang?, tidak mungkin kita hanya berjalan mengelilingi sekolah sepanjang waktu kan sialan?."
Dhafin berhenti berjalan dan berkata "benar juga ya, kita hampir menyelesaikan satu putaran mengelilingi sekolah yang luas ini." Gavin menepuk jidatnya lalu Dhafin melanjutkan ucapannya "Kamu bisa menunggangi segala jenis motor kan?." Gavin mengangguk. "Nah, bagaimana kalau kita balapan?." ucap Dhafin.
Gavin terkejut dengan pernyataan Dhafin lalu berkata "Kamu serius?, memangnya kamu bisa mengendarai motor-motor itu?."
Dhafin kemudian menjawab "Tentu saja bisa, aku punya sirkuit pribadi dasar konyol. Ayo kita kesana!, banyak motor lho."
Gavin tiba-tiba jadi sangat bersemangat karna dia memang menyukai balapan dan bermimpi ingin menjadi pembalap, dia akhirnya bisa merasakan balapan di sirkuit hari ini!. Dia lalu berkata dengan semangat "Kalau begitu tunggu apalagi?, ayo kita ketempat yang kamu bilang itu!."
***
Beberapa jam kemudian mereka sampai ke sirkuit dengan menaiki transportasi umum, karna jaraknya yang cukup jauh dan harus menunggu kereta datang serta mencari taksi, butuh waktu yang cukup lama untuk mereka sampai.
Gavin sangat terpukau begitu melihat lingkungan sirkuit yang sangat luas, dia lebih terkejut lagi saat melihat garasi motor Dhafin yang berisi banyak motor dengan kapasitas mesin yang berbeda-beda. Dhafin lalu bertanya kepada Gavin "Kamu mau balap dengan motor berapa cc?, dini ada mulai dari seratus limapuluh sampai seribu cc lho!."
Gavin menjawabnya "Seribu cc dong!." dia lalu melanjutkan perkataanya "Kamu kenapa bisa memiliki sirkuit balap seperti ini?."
"Aku terkadang bosan dan menghabiskan waktu disini untuk memacu motor-motor itu, dari pada selalu diam digarasi dan berdebu. Kamu boleh datang kapanpun kalau mau, nanti aku berikan kuncinya!."
Gavin melompat kegirangan "Benarkah itu?."
Dhafin mengangguk ringan lalu berkata "Tentu saja, kalau begitu tunggu apalagi?. Ayo mulai balapannya, kunci motor seribu cc ada disana, pilih satu dan ambilkan lagi satu untukku."
"Baiklah. kamu mau pakai yang mana?." Dhafin kemudian menjawab "Terserah, pilihkan saja yang akan memudahkan mu, soalnya aku profesional sih."
"Nyenyenye."
Gavin tidak menyangka kalau dia akan berlaga di sirkuit sungguhan, ya walaupun bukanlah pertandingan sungguhan dia tetap senang. Karna selama ini dia hanya melakukan balap liar bersama orang-orang yang tidak dia kenal, dia hanya melihat dan kemudian mengikutinya sampai-sampai dia beberapakali terkena kasus. Untung dia selalu bisa lolos karna pengaruh Ayahnya.
[Note* Jangan ditiru ya, melakukan balap liar itu ilegal oke?^,^]
Setelah beberapa saat memilih, Gavin sudah selesai dengan pilihannya. Walaupun sebenarnya motor miliknya juga sama-sama seribu cc, tapi dia terkadang ingin mencoba motor seribu cc dari merek lain. Dia mengambil motor BMW H4P Race dan siap untuk turun di sirkuit!...
__ADS_1