IMPIANKU

IMPIANKU
ch.23 (Erina 3)


__ADS_3

Seketika wajah Dhafin mengeluarkan ekspresi takjub setelah mencoba masakan Erina "Whoaa... apa inii??." Dhafin melanjutkan dengan mengambil potongan daging yang lumayan besar "Ini sih gokil!, kamu belajar masak dari mana Rin?." Dhafin kemudain memasukan potongan daging itu kemulutnya.


Erina juga menjawab "Aku selalu melihat ibuku memasak macam-macam dulu, dan aku masih mengingatnya sampai sekarang, syukurlah kalau kamu menyukainya."


Bu Siti tiba-tiba ikut berbicara "Dek Rin, apa kamu tau kalau Dhafin juga sebenarnya jago memasak?."


"Benarkah itu?."


Disaat yang sama Dhafin batuk dan bertanya


"Hey... Kamu sudah makan?."


"Aku sudah dengan bibi dan pak Eno tadi, tinggal kamu saja, setelah ini ayo berangkat sekolah nanti terlambat."


Sebelum berangkat, Dhafin memberi tahu kalau mulai saat ini Erina harus terus bersamanya selama disekolah.


Tapi Erina berkata lain "Gak boleh, kamu gak boleh dekat-dekat aku disekolah."


"Huh?, kenapa?."


Erina menjelaskan kalau dulu ada satu anak yang bunuh diri akibat di buli karna dekat dengan Erina, tapi Dhafin tidak peduli "Terus?, kalau seandainya aku di buli aku tidak peduli. Kamu pikir dulu aku tidak pernah?, aku dulu itu miskin dasar. Sudahlah jangan terlalu difikirkan, ayo berangkat."


Saat berjalan menuju stasiun terdekat Dhafin bertanya kepada Erina "Kamu selama ini berangkat sekolah jalan kaki?."


"Iya, karna jarak rumahku dan sekolah terbilang dekat aku selalu jalan."


Dhafin memberikan tiket elektronik dengan saldo yang unlimited "Kalau begitu nih, pakai ini buat naik kereta, bisa buat bus antar kota juga lho."


"Apa ini?, kenapa berbeda dengan yang lain?."

__ADS_1


"Hm?, oh itu.. Itu memang beda dari yang lain, dulu ayah membuatkannya khusus untukku dan Dafa, jadi ini adalah miliknya. Ini berbeda karna ini adalah kartu dengan unlimited saldo, kamu gaakan kehabisan saldo didalam kartu ini."


"Ternyata bisa seperti itu ya."


Dhafin hanya tersenyum dan mengangguk.


Erina yang tadinya pendiam sudah mulai terbuka lagi seperti dulu, dia mulai penasaran tentang orang tua Dhafin dan siapa itu Dafa. Tapi dia tetap menahan rasa penasarannya itu dan menunggu waktu yang tepat untuk bertanya kepada Dhafin.


Mereka sampai disekolah tepat sesaat sebelum bel berbunyi, ketika memasuki kelas, Dhafin melihat perilaku siswa disana terhadap Erina yang sudah terlihat. Begitu Erina masuk semua tatapan menuju kepadanya seolah-olah mengatakan "Mati saja kau!".


Erina hanya bisa menunduk sambil berjalan masuk, tapi tiba-tiba Dhafin menggandeng tangannya dan menariknya agar cepat-cepat duduk.


Saat jam istirahat telah tiba, semua siswa kelas tidak habis-habis membicarakan mereka. Bahkan ada yang menuduh mereka berpacaran setelah 2 hari tidak hadir sekolah, tapi Dhafin dan Erina tidak memperdulikan perkataan mereka dan makan di tempat biasa Erina duduk.


Tiba-tiba ada anak yang menghampirinya bersama temannya, dia adalah Daniel dan Reno.


Daniel mencibir sebelum berkata dengan nada merendahkan "Lihatlah anak ini, ternyata setelah 2 hari tidak masuk sekolah kemarin dia sudah mendapatkan perisai ya.". Sedangkan Reno hanya diam berdiri dan tidak mengatakan sepatah kata pun, Dhafin lantas membalas dengan tatapan dingin "Apa maksudmu?." Daniel menjawab lagi "Ahh.. aku tidak bermaksud menyinggung murid baru lho ya, sepertinya kamu akan dimanfaatkan nih, apa kamu bodoh?."


Daniel menatap Erina dengan tatapan merendahkan sebelum berbicara "Kamu? teman dia?, berarti kamu sudah lama berteman dengan si miskin ini dong?." Dia menutup perkataannya dengan tertawa.


Dhafin melontarkan perkataan dengan sedikit perasaan emosi "Apa kamu tidak bisa mengerti perasaan orang yang kamu buli?."


"Ah tentu saja tidak, karna memang orang seperti dia itu sasaran untuk kami." ucap Daniel menyeringai sambil membalikan badan kemudian pergi. Sampai pergi, Reno hanya terdiam melihat Daniel dan Dhafin, dia hanya menunduk. Sepertinya dia sebenarnya anak yang tidak terlalu jahat, toh lagian sebenarnya dia yang pertama dekat dengan Dhafin di sekolah itu.


Kemudian Dhafin berteriak dengan percaya diri "Kalau begitu!, kamu akan merasakan hal yang sama sebentar lagi!."


Perlu diketahui kalau Daniel adalah anak terkaya disekolah itu, tapi sifatnya sangat sombong!. Terkadang dia bahkan berperilaku tidak sopan terhadap guru hanya karna dia kaya, tapi dia akan segera merasakan akibat dari sikapnya itu.


Kemarin, saat melakukan panggilan dengan pak Budi, dia juga menghubungi Harold untuk menanyakan apakah ada karyawan GWC yang anaknya bersekolah di tempat yang sama dengannya. Ada 7 anak yang orang tuanya bekerja untuk Dhafin, salahsatunya adalah ayah Daniel. Sayang sekali identitas Dhafin disembunyikan, tapi berkat itu dia bisa tau sifat asli semua orang karna dia tampil sebagai orang biasa. Jika Daniel tau bahwa ayahnya bekerja untuk Dhafin, mungkin dia akan rela menjilati sepatunya!.

__ADS_1


Ayah Daniel adalah manager keuangan di perusahaan milik Dhafin, oleh sebab itu dia sangat kaya dibanding anak kelas yang lain.


Setelah Daniel pergi, Dhafin mengirimi pesan untuk Harold "Pecat ayah Daniel sekarang juga!."


Disisi lain Harold kebingungan, dia membalas "Ada apa tuan?, apakah dia menyinggungmu?."


"Dia tidak hanya menyinggung, tapi dia sangat meremehkan orang seperti Erina hanya karna perbedaan kasta. Orang sepertinya harus diberi contoh nyata langsung agar dapat berubah."


"Baiklah, saya mengerti. Akan segera saya lakukan." Harold mengirim pesan lagi "Tuan, sudah lama anda tidak terlibat langsung dalam bisnis. Bisakah anda datang hari minggu nanti untuk membahas sesuatu?."


"Apa itu?."


"Tentunya sesuatu untuk memperluas koneksi kita."


"Ya aku akan datang, lebih baik kamu kerjakan saja apa yang aku minta terlebih dahulu."


"Baik."


Keesokan harinya, kabar pemecatan Kevler sang manajer keuangan yang terkenal dikalangan orang terpandang segera menyebar dengan cepat. Daniel masih datang dengan wajah sombongnya saat itu tanpa tau apapun, seperti biasa dia memerintah orang untuk melakukan apa yang dia mau. Dia lalu meminta Erina dengan nada sombongnya untuk membelikannya roti, tiba-tiba Dhafin yang sedang duduk santai angkat suara "Hei Daniel~, apa kamu tidak tahu apa yang terjadi pada ayahmu? berani-beraninya kamu masih merasa paling berkuasa disini."


Daniel merasa kesal mendengar perkataan Dhafin "Apa katamu?!.. Kamu berani ma-"


Dhafin memotong perkataan Daniel dengan cepat "Apa lagi yang mau kau banggakan?, bahkan seluruh kelas sudah mengetahui yang sebenarnya."


"Apa maksudmu sebenarnya?."


Dhafin melempar ponselnya ke Daniel "Lihatlah, setelah ayahmu dipecat kamu bahkan masih berani bersikap sombong. Kamu anaknya tapi kamu bahkan tidak tau apa yang terjadi pada ayahmu, menyedihkan sekali."


Daniel terpaku sejenak saat melihat berita di ponsel Dhafin "Apa ini? ini pasti bohong!."

__ADS_1


Dhafin berjalan ke-arah Daniel dan mengambil ponselnya "Kenyataannya memang begitu payah!." Dhafin melanjutkan "Sekarang kamu bukanlah apa-apa, masih beranikah kamu menyombongkan diri disini?."


__ADS_2