IMPIANKU

IMPIANKU
ch.35 (Nevan)


__ADS_3

Mereka berjalan meninggalkan perpustakaan yang sudah dimasuki berandal kelas teri.


Tiba-tiba Desi mengusulkan saran "Bagaimana kalau belajar dirumahku saja?, disana tidak berisik dan suasananya tenang."


"Aku gak mau." Dhafin langsung menjawab dengan tegas dan tanpa ragu.


Lalu Erina menatap kearahnya, Dhafin menyadarinya dan langsung menarik perkataannya "Em... Maksudku boleh saja, asal ada camilan manis dan utamakan cokelat."


Desi langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kepala pembantu rumahnya "Iya nanti beli coklat 10kg, jangan lupa kue coklatnya juga 5, oh iya coklat hangat itu harus."


Dhafin langsung berbicara "Hei jangan berlebihan jugaa..."


Dia melanjutkan sambil memegangi perutnya "Nanti aku diabetes woy diabetes."


Desi tersenyum ringan sebelum berbicara "Hihihi, aku becanda kok. Lihat aku tidak menghubungi siapapun, untuk camilan dirumah sudah banyak."


Dia melanjutkan dengan menelfon supirnya, kali ini sungguhan. "Yasudah aku hubungi supirku dulu, tunggu sebentar ya."


Tak lama kemudian, datang sebuah mobil rolls royce Phantom Extended Wheelbase berwarna silver yang terlihat sangat elegan. Mobil itu bahkan hanya diproduksi sebanyak 25 unit didunia ini, hanya ada 2 orang yang memiliki mobil itu di negara ini.


Ternyata salah satunya adalah keluarga Desi, tentunya satu lagi adalah milik Dhafin. Tapi ini masih membuat Dhafin cukup terkejut, tidak lama kemudian mobil sudah benar-benar berhenti tepat dihadapan mereka.


Desi baru mengingat sesuatu "Oh iya, kita kan berempat. Kurang satu kursinya."


Dhafin lalu menjawabnya "Tidak masalah, aku akan menggunakan taksi."


"Yakin?."


"Iya."


Dhafin akhirnya memanggil taksi, saat mereka jalan Dhafin meminta kepada pak supir untuk mengikuti mobil Desi. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah Desi, Reno dan Erina dibuat terkejut dengan rumahnya yang sangat besar seperti istana.

__ADS_1


Rumah dengan disain klasik berwarna krem itu sangat memukai di mata setiap orang, tapi Dhafin tidak merasakannya. Ya luas tanahnya masih lebih luas rumah Dhafin yang baru, kalau dia mau dia bisa membuat yang lebih besar lagi.


Saat mereka masuk, salah seorang pembantu menyambut mereka dengan antusias "Selamat datang nona, apa mereka ini teman-teman nona?."


"Iya, pastikan untuk memperlakukan mereka dengan baik."


Orang itu lalu menunduk dan berkata "Baik nona, teman-teman anda tinggal mengatakan apa yang mereka butuhkan. Saya akan segera melayaninya."


Sebelum lanjut berjalan, Desi mengatakan sesuatu lagi "Oh iya, tolong bawakan beberapa camilan coklat ya." Dhafin merasa tidak enak dibagian ini.


"Kalau begitu ayo ke kamar ku!."


Saat sampai didepan kamarnya, tiba-tiba perasaan Reno menjadi gugup. Sebenarnya Dhafin juga merasakan hal yang sama, hanya saja dia masih bersikap tenang.


Lalu Reno berkata "Apakah harus disini?, aku belum pernah masuk ke kamar perempuan sebelumnya. Jadi agak gimana gitu, apa tidak ada tempat lain?."


Desi langsung terdiam 'Benar juga, aku tidak mungkin sembarangan mengizinkan orang untuk masuk, apalagi lelaki!.'


Untuk mengalihkannya dia mencari hal lain "Ah benar juga ya, bagaimana kalau diruang keluarga saja? aku akan meminta para pembantu untuk menyiapkannya."


Mereka belajar lagi sampai sore, Dhafin berulang kali membantu Desi, jadi perasaanya sudah agak lepas padanya. Mereka semua pulang kerumahnya masing-masing dan kembali bersekolah di keesokan harinya.


***


Mereka sudah sekolah lagi sekarang dan hendak makan siang, mereka berempat duduk di satu meja yang berada diluar kantin.


Tiba-tiba Nevan datang lagi bersama anak-anak yang kemarin dan langsung menendang meja Dhafin sampai semua makanan yang ada diatasnya tumpah, karna kehebohan itu semua yang berada di dalam kantin langsung melihat karna penasaran.


Anak-anak didalam heboh membicarakan Nevan "Hey anak itu kan Nevan?, kudengar dia memang anak yang bermasalah. Kupikir kita tidak boleh macam-macam dengannya."


Disisi lain, Dhafin mulai naik darah dan kehabisan kesabaran. Lalu Dhafin menatapinya dengan tatapan yang sangat dingin, bahkan lebih dingin dari kulkas kalian dirumah!.

__ADS_1


Nevan merasakan tekanan yang hebat saat ditatap oleh Dhafin, dia dengan perasaan kesal langsung menarik kerah seragam Dhafin dan berteriak "Apa kamu lihat-lihat hah?, gak terima?!."


Dia melanjutkan dengan nada yang semakin membentak "Kamu hanyalah sampah!, jadi bersikaplah selayaknya sampah!."


Dhafin terdiam sejenak lalu mengatakan "Begitu ya?, lucu sekali mendengar sampah yang sebenarnya meneriaki orang lain sebagai sampah."


Erina lalu berdiri melerainya "Sudahlah Fin, dia tidak akan melepaskanmu dengan mudah nanti. Dia benar, kamu mungkin gak ada apa-apanya. Usaha keluarganya lumayan besar disini."


Dhafin lalu mendengus "Huh... Baiklah, maafkan aku dan sekarang lepaskan kerah bajuku."


Nevan lalu melepaskannya, Dhafin berbalik dan saat itu Nevan kembali mengejeknya "Haha patuh sekali dia pada istrinya, ku dengar anak perempuan itu sangat miskin. Beruntung sekali dia dapat teman anak orang kaya, hahaha."


*Buaakkk!


Kaki Dhafin yang panjang itu langsung menendang kepala Nevan dengan tendangan nuklir yang lumayan kuat, tendangannya tepat mengenai pelipisnya dan seketika itu juga Nevan langsung terpental lemas walaupun tidak pingsan. Dia masih bertahan karna Dhafin masih menahan kekuatan tendangannya itu, Dhafin langsung terpancing ketika dia melihat Erina yang murung saat direndahkan.


"Aku tidak peduli kalau kamu tidak melepaskanku, malahan aku yang akan tidak akan melepaskanmu dikemudian hari kalau kamu sampai merendahkan Erina lagi!."


Nevan lalu berteriak dengan keras "Hey!, kenapa kalian semua diam saja?. Hajar dia!, kalian tidak mungkin kalah karna kalian menang jumlah!."


Dhafin lalu menyeringai "Tidak mungkin ya?, kalau gitu akan aku ubah kemungkinan itu!."


Tidak lama kemudian gerombolan Nevan yang berjumlah 6 orang itu dikalahkan oleh Dhafin dengan cepat, lalu Dhafin berjalan kesalah satu dari mereka, jongkok, lalu mengangkat kepalanya.


Dia mengangkat kepala orang itu dengan cara menjambaknya "Kenapa kalian mau jadi budaknya anak itu sih, coba aja kalian gak terlibat, kalian gak akan berakhir seperti ini." Lalu Dhafin mengamati mereka lebih serius "Aku tidak pernah melihat kalian dikelasku, sepertinya kalian anak kelas sebelah ya?, apa kalian dibayar untuk menurutinya? haha payah."


Lalu Dhafin melepaskan jambakannya dan berdiri lagi, dia lalu mendekati Erina dan berkata "Jangan kamu masukan kedalam hati ya ucapan sampah itu, ayo kita semua kembali ke kelas."


Erina mengangguk, lalu mereka berempat berjalan meninggalkan kantin. Saat perlahan mulai menjauh, Nevan mengumpati Dhafin "Awas saja kau, kamu tidak akan kubiarkan!."


Sepanjang perjalanan menuju kelas, isi kepala Desi menjadi bimbang karna melihat Dhafin yang sepertinya sangat membela Erina. Apakah itu memang sifatnya ketika sudah menganggap seseorang sebagai teman?, atau dia menyukai Erina?.

__ADS_1


Tapi kan Dhafin sudah mulai menaruh perhatian padanya!, mungkin dia masih punya kesempatan.


Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi dan mereka semua melanjutkan kegiatan belajarnya.


__ADS_2