IMPIANKU

IMPIANKU
ch.56 (Persiapan 2 END)


__ADS_3

Dhafin menambah kecepatan berjalannya, dia juga langsung memegangi tangan Erina agar dia juga berjalan lebih cepat. Erina yang terkejut tiba-tiba wajahnya memerah karna malu 'Anak ini apasih, sifatnya gajelas gitu, main tarik aja lagi.' Erina membatin didalam hati.


Mereka dengan cepat sampai di stasiun kereta dan dalam waktu beberapa puluh menit mereka berdua sudah ada dirumah, "Rin, jangan lupa nanti jam setengah delapan ya. Aku mau mandi, kamu istirahat sana biar nanti pas keluar gak kecapean."


Erina mengangguk lalu naik terlebih dahulu ke kamarnya, sedangkan Dhafin menemui Pak Eno dan memintanya untuk membersihkan mobilnya guna dipakai malam nanti. Setelah itu dia pergi keatas menuju kamarnya untuk mandi, dia mendapat pesan dari Harold saat menaiki tangga yang berbunyi 'Tuan, apakah barang terakhirnya sudah siap untuk diambil?.'


Dhafin dengan cepat mengetik pesan balasan 'Entahlah, kamu periksa aja langsung, bisa kan?.' Dengan cepat secepat kedipan mata Harold langsung membalas balik 'Baik tuan, saya tidak akan mengecewakan anda.'


"Wah dia bisa baca pikiran orang ya?, aku bahkan baru membalas tapi dia sudah membalas lagi." ucap Dhafin yang berbicara pada diri sendiri.


Dia langsung lanjut menaiki tangga setelah beberapa saat berhenti untuk membalas pesan tadi, dia keluar terlebih dahulu untuk menghadiri acara rutinnya pada bulan ini.


***


Dhafin kembali pukul 6 sore, dia disambut dengan aroma masakan yang sangat lezat. Tapi sangat disayangkan dia sudah makan diluar tadi, namun aroma yang sangat lezat ini seakan-akan menghipnotis perutnya untuk kembali menyediakan ruang didalam.


Dhafin langsung berlari kedapur seperti anak kecil dan langsung bertanya "Masak apa nih?, baunya enak banget."


Bu siti yang sedang ada disana bersama Erina langsung menoleh kebelakang sambil mengatakan "Wah, dik Dhafin udah pulang?. Kok gak kedengeran sih?."


"Haha, aku ingin mengejutkan kalian. Ini ada oleh-oleh buat orang rumah, aku juga udah lapar ayok makan."


Erina berkata sambil membawa makanan ke atas meja "Ayo, pak Eno kemana?, biar makan bareng sekalian." bu Siti teringat kalau dia sedang ada digarasi untuk memeriksa mobil yang digunakan olehnya sebagai transportasi guna mengantarnya berbelanja, dia langsung berkata "Hm, biar aku yang memanggilnya, dik Rina tolong siapkan dulu ya."


Dhafin langsung menyela dengan nada percaya diri "Iya bi, aku yang akan membantunya."


***


Setelah semuanya sudah selesai makan dan membersihkan piringnya, waktu sudah hampir menunjukan pukul 7.30 malam. Mereka semua berbincang dengan riang setelah makan yang membuat waktu tidak terasa sudah banyak berlalu, Dhafin langsung meminta Erina untuk bersiap-siap karna mereka akan segera berangkat keluar.

__ADS_1


Erina segera mengerti dan langsung menuju ke kamarnya, sedangkan Dhafin bertanya kepada pak Eno yang duduk disampingnya "Pak, gimana mobil yang aku minta di cucinya?."


Pak Eno menjawab dengan hormat menyelimuti kalimatnya "Sudah, mobil dik Dhafin yang itu sudah sangat lama tidak dipakai dan tersimpan digarasi rumah ini. Walaupun agak sulit membersihkannya tapi aku sudah memanggil beberapa ahli tadi, aku juga sudah membetulkan mobil yang anda berikan untukku."


Dhafin bertanya dengan heran "Apakah mobilnya sudah rusak?, bilang saja maka aku akan membelikan yang lebih bagus."


Pak Eno dengan rasa canggung langsung membantahnya "Enggak-enggak, hanya ada beberapa part yang eror dan masih bisa dipakai. Lagi pula diberikan BMW seri 3 saja sudah sangat cukup bagiku, memangnya apa lagi yang bisa aku terima dari kamu, semua sudah sangat banyak."


Dhafin berkata dengan enteng "Aku bisa kok memberikan seri kedelapan, atau bapak mau memakai rolls-royce milikku yang ada dirumah sana?."


Pak Eno semakin tidak enak dan merasa menyesal memberitahukan kalau dia habis membenarkan mobilnya, dia lantas berkata "Tidak pelu, kalau begitu yang aku miliki akan lebih tinggi dari punyamu. Bapak sudah bilang kalau seri 3 saja sudah lebih dari cukup, aku tidak butuh apapun lagi."


Dhafin tertawa dengan lepas lalu berkata "Iya deh iya, lagi pula memangnya kenapa?. Akukan sebenarnya masih punya Chiron dan Divo, bapak tinggal bilang saja kalau mau sesuatu, bi Siti juga ya~."


Beberapa saat kemudian Erina sudah turun dengan memakai pakaian yang sangat sederhana, tapi kesederhanaan itulah yang membuat Dhafin tertarik dengannya. Dari dulu dia bukanlah orang yang sombong, meskipun dulu sangat kaya dia tetap sopan dan rendah hati pada saat itu.


Dia langsung berkata setelah menuruni semua anak tangga "Fin, aku udah siap."


Beberapa detik kemudian Erina melihat mobil berwarna merah elegan muncul didepannya, desainnya sangat futuristik dan bagus dimatanya. Dhafin keluar dan berlari kearah pintu kursi disamping pengemudi dan membukakan pintu untuk Erina, setelah itu mereka mulai pergi keluar dari gerbang.


Erina bertanya saat mereka mulai jalan "Mobil apa ini?, aku tidak pernah tau kamu memilikinya."


"Iya, mobil ini sudah sangat lama berada digarasi dan tidak pernah dipakai."


Erina keheranan dan bertanya lagi "Sudah lama?, memangnya ini mobil tahun berapa?, dari yang aku liat disainnya sangat tajam."


Dhafin terkekeh pelan dan menjawab "Mobil ini debut pada tahun 2016, tapi aku baru membelinya beberapa tahun yang lalu. Apa kamu tidak suka?."


Erina menggelengkan kepalanya dan berkata "Bukan begitu, dulu orang tuaku hanya memiliki mobil dengan disain klasik dan tidak menyukai sport. Jadi aku hanya tidak terbiasa dengan mobil seperti ini."

__ADS_1


"Hahaha, maka kamu harus membiasakan diri karna semua mobilku rata-rata adalah sport!."


Erina bingung, dia lantar bertanya dengan penasaran "Memangnya kamu masih punya banyak mobil ya?.”


Sial!.


Dhafin akhirnya menjawab dengan sedikit gugup "Yaa.... ummm, mungkin suatu saat nanti!."


Erina mengangguk lantas berkata "Heem, kamu masih bisa lebih sukses dengan usahamu itu!, jadi teruslah berusaha."


Setelah itu Dhafin teringat akan sesuatu dan menghentikan mobilnya ditepi jalan, dia mengambil seuntai kain pita dan mengikatkannya dikepala Erina untuk menutup matanya. Untung saja dia ingat, kalau tidak bukan kejutan lagi namanya. Erina bertanya akan hal yang diperbuat oleh Dhafin "Kenapa harus tutup mata sih?."


Dhafin menjawab dengan dirinya masih berusaha mengikatkan pita itu "Ini kan kejutan, gaasik kalau kamu gak terkejut, lagi pula tempatnya udah deket."


Erina hanya bisa mengangguk dan setuju dengan Dhafin, mobil kembali dijalankan setelah Dhafin selesai menutup mata Erina. Tujuan Dhafin kali ini adalah bukit dengan dataran yang luas diatasnya, bukit itu terletak didekat perbatasan antara watburn timur dan selatan.


Setelah beberapa lama semenjak mobil dijalankan kembali, Erina mulai merasa kalau jalan yang dilaluinya hanya tanjakan. Walaupun itu tanjakan yang cukup tinggi tapi jalannya sangatlah halus, kebetulan fasilitas disana baru selesai dibangun untuk memudahkan mobilitas warga desa dibukit itu.


Jalanan yang terasa menanjak seketika berubah menjadi datar sampai akhirnya Dhafin menghentikan kendaraanya dan berkata "Oke kita sudah sampai!."


Erina masih terdiam dan menggunakan indra pendengarannya, tempat itu sangat sepi dan sunyi. Tidak dekat dengan keramaian, 'Sebenarnya dimana kita berada saat ini?.' batin Erina.


Dhafin akhirnya membukakan pintu untuk Erina *lagi* dan menuntunnya keluar dari mobil, dia lalu berkata "Ayo ikuti aku sebentar, tempatnya agak kesana lagi dan mobil gabisa lewat kecuali off-road."


Erina bertanya dengan khawatir "Sebenarnya kita dimana sih Dhafin, kamu bukan mau mencoba mengeksekusi ku kan?."


"Hey, pikiran liar dari mana itu?. Sudahlah diam saja, aku tidak akan melakukan hal buruk padamu!."


Langkah demi langkah dia lalui sampai Dhafin menghentikannya "Udah siap?." Dhafin mulai menghitung mundur sebelum dia membuka penutup matanya dan akhirnya....

__ADS_1


[catatan author* Maap banget jadi jaarangggggg banget update, jdi saya lagi ada persiapan buat masuk sekolah nanti.'-']


__ADS_2