IMPIANKU

IMPIANKU
ch.38 (Gelud by Nevan 2)


__ADS_3

Disisi lain, rasa benci Nevan terhadap Dhafin semakin bergejolak dan sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia langsung menghubungi ayahnya dan memintanya untuk mengirimkan orang guna membawa anak-anak yang dikalahkan oleh Dhafin, ayahnya lantas kembali bertanya "Memang ada apa, apa kalian kalah lagi kali ini?."


Nevan menjawab dengan suara pelan lemas agar ayahnya juga semakin benci kepada pelaku, yaitu Dhafin "Iya yah... Dia berhasil mengalahkan semuanya, dia bahkan menendang ku sebagai penutupan. Aku sedang tergeletak lemas bersama yang lain, apa ayah bisa membantuku?."


"Tenang saja, ayah akan mengirimkan beberapa orang kesana. Kamu kirim saja lokasimu, saat kita bertemu, kita akan diskusikan lagi bagaimana cara untuk mengalahkan anak itu oke?."


Nevan tersenyum kegirangan karna sepertinya dia sudah benar-benar berhasil membuat ayahnya berada di pihak penjahat, yaitu dirinya sendiri.


Dia menutupi sikapnya dan kembali menjawab lemas "Oke yah, aku akan tutup telfonnya dan mengirimkan lokasi ku padamu."


"Baiklah."


***


Tidak lama kemudian dia sudah sampai di kantor ayahnya dan akan mulai mendiskusikan masalah yang dialami oleh Nevan, dia juga sudah mengirim anak buahnya yang terluka kerumah sakit. Untung dia tidak diberikan luka yang terlalu parah, jadi lukanya hanya perlu dibalut dengan perban dan diberi antiseptik.


"Jadi ayah, apa ayah punya rencana?."


Lalu ayah Nevan mengeluarkan ponselnya dan berkata "Aku sudah mempertimbangkan kalau hal ini mungkin akan terjadi, oleh sebab itu aku mengumpulkan 4 orang hebat untuk melawannya."


Nevan lalu berdiri dan memukul meja "Apa yang ayah pikirkan!?, 12 orang saja masih bisa dikalahkan olehnya, apalagi cuma 4!."


Ayahnya lalu menenangkan Nevan "Kamu tenanglah dulu dan dengarkan penjelasanku."


Lalu dia menunjukan foto di ponselnya dan melanjutkan "Ini adalah orang-orang yang kubilang, mereka semua adalah pensiunan militer dengan pangkat yang bukan main selama bertugas. Badannya besar kekar dan lebih tinggi dari Dhafin, kamu bilang kalau Dhafin kesulitan untuk melumpuhkan orang berbadan matang kan?. Jadi aku memanggil mereka khusus untukmu, kalau mereka pensiunan militer dengan pangkat tinggi, tidak mungkin bagi Dhafin untuk menang bukan?."


Nevan langsung menyeringai bahagia "Ayah... Benarkah ini?, kalau begitu aku ingin melihat mereka saat ini juga."

__ADS_1


Ayahnya kemudian tersenyum dan berkata "Tidak masalah, mereka memang sedang dalam perjalanan menuju kesini. Kamu bisa melihat mereka secara langsung dan menilainya sendiri nanti."


Nevan hanya mengangguk "Baiklah."


***


Tidak lama kemudian seorang sekertaris wanita masuk kedalam dan berkata dengan hormat "Tuan, ada 4 orang dibawah ingin bertemu anda. Mereka bilang kalau mereka sudah ada janji dengan anda."


"Biarkan mereka masuk, aku yang memanggil mereka, jadi tidak masalah."


"Baik."


Dalam beberapa menit, 4 orang bertubuh kekar dan tinggi memasuki ruangan mereka dan langsung membungkuk. Lalu ayah Nevan berdiri dan berkata sambil menunjuk kearah 4 orang tadi "Nah Nevan, ini adalah orang-orang yang ayah bilang tadi."


Nevan sangat senang sehingga dia melompat seperti anak kecil yang diberikan permen oleh ayahnya "Whoaa, ayah serius?. Ini sangat luar biasa, lihatlah badan mereka yang terlihat seperti batu itu."


"Baik!."


"Wow tegas sekali." Ucap Nevan sambil berjalan kearah salah satu dari mereka dengan membawa palu "Hei paman, apa aku boleh menguji ketahanan kalian menggunakan palu ini?."


"Tidak masalah tuan muda, kami dapat menahan pukulan sekeras palu. Maka lawan kami harus bisa memukul lebih kuat dari pada palu untuk mengalahkan kami."


"buag, buak, buak, buakk.....


Nevan memukul mereka satu persatu dan dibuat terkejut oleh hasilnya, mereka tidak menjerit, bahkan tidak mengeluarkan ekspresi bahwa mereka sedang kesakitan. Mereka hanya diam seakan-akan dipukul oleh palu mainan bayi yang bunyinya, puk puk puk.


Lalu Nevan melempar palu itu ke sofa disampingnya "Wah, paman sekalian benar-benar luar biasa. Mungkin kali ini dia tidak akan selamat iyakan?, kalian sudah tau kan target kalian siapa?."

__ADS_1


"Iya, kami sudah diceritakan oleh ayah anda. Jadi anda tinggal memberi perintah kapan kami harus membereskannya."


"Begitu ya, kalau begitu kita akan bertindak di hari minggu, yaitu 3 hari dari sekarang. Dia sering pergi keluar sendirian menggunakan mobil dihari minggu entah kemana, jadi rencananya kita tabrakan mobil lain ke mobilnya, dan saat dia keluar lemas dari mobil, disitulah kalian membereskannya."


"Baik, kami mengerti. Kami mohon izin untuk pergi mematangkan kemampuan kami, kalau anda membutuhkan kami dengan segera, hubungi saja."


Nevan lalu mengangguk dan berkata "Baiklah, kalian boleh pergi. Aku menunggu hasil baik dari kalian."


"Baik tuan!."


Lalu mereka semua pergi meninggalkan kantor ayahnya, Nevan merasa sangat-sangat puas kali ini. Dia merasa bahwa Dhafin akan benar-benar mati dan tidak akan bisa selamat, dengan begitu dia akan bisa bernafas lega dan kembali bersekolah untuk berbuat onar.


Dia langsung berbalik ke ayahnya dan memeluknya layaknya seorang anak, dia juga langsung berterimakasih. Dibalik semua rasa terimakasih itu, niat jahat dibenaknya semakin liar dan tak tertolong, dia bahkan sampai membayangkan melihat kepala Dhafin terpisah dari tubuhnya.


Ayahnya tidak tau kejadian sebenarnya dan terus mendukung anaknya, karna dia selalu dibodohi oleh anaknya sendiri.


***


Berhari-hari Dhafin merasakan hari yang berjalan dengan damai, sampai akhirnya hari minggu tiba dia tidak mendapat gangguan apapun, baik disekolah maupun diluar sekolah.


Dia pikir, Nevan mungkin sudah benar-benar berubah dan pindah sekolah. Jadi Dhafin tidak terlalu memperdulikannya lagi, dia dan teman temannya juga sedang fokus belajar karna ujian mid semester sudah semakin dekat. Ujian dilaksanakan satu minggu lagi, jadi tidak ada waktu untuknya bersantai. Sebenarnya dia bisa saja melakukannya, tapi yang membuatnya sibuk adalah bukan dirinya yang belajar, melainkan dirinya yang mengajarkan Desi.


Kalau saja bukan karna permintaan Erina, dia tidak akan melakukannya. Seperti biasa, di hari minggu yang cerah ini dia berencana pergi kerumahnya yang lain untuk memeriksa keadaan serta pergi ke pabrik senjatanya untuk memeriksa perkembangan.


Dia baru-baru ini meluncurkan senjata baru, jadi dia ingin mengetahui status penjualan senjatanya itu. Tapi sebelum dia pergi, dia berbelanja terlebih dahulu bersama Erina dipagi hari. Dia akan pergi pukul 3 sore nanti, dengan pesawatnya yang bisa melesat sangat cepat, dia tidak akan pulang terlalu malam.


Setelah pulang dari berbelanja, dia membantu Erina untuk memasak. Kabarnya bu siti dan pak eno akan kembali pukul 2 nanti, Dhafin juga memberi tahu kepada Erina untuk tetap dirumah saat dia pergi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


Erina hanya mengangguk patuh layaknya sang anak kepada orang tuanya, dia juga sempat bertanya "Memangnya kamu mau kemana?."


__ADS_2