IMPIANKU

IMPIANKU
ch.32 (Masa Lalu)


__ADS_3

Dhafin lalu membuka perban ditangannya, dia juga melepas lensa kontak nya.


"Lihat ini, kamu pernah melihat mataku yang seperti ini dulu iyakan?."


Erina mengangguk sebelum menjawab "Iya aku pernah melihatnya, aku pikir kamu menggunakan lensa kontak saat itu. Ternyata mata hitam mu lah yang lensa, apa yang sebenarnya terjadi?."


Dhafin lalu menunjukan tangan dan kakinya kepada Erina dari dekat, dia melihatkan bekas jahitan ditangannya dan memperlihatkan warna kulitnya yang berbeda kalau dilihat dari dekat.


"Tangan ini bukanlah milik ku, kamu tau Jacob?." Erina mengangguk pelan sambil mencerna kenyataan sebelum Dhafin melanjutkan perkataannya "Dia adalah dokter hebat dibalik semua ini, jadi dulu disaat ayahku sudah sukses, kami semua berlibur ke hawai. Saat perjalanan pulang pesawat kami kecelakaan."


Dia melanjutkan "Disitulah aku kehilangan semua keluarga ku, aku juga kehilangan mata, tangan, dan kaki ku. Tangan, kaki, dan mata ini adalah milik orang yang dicangkokan ke tubuhku."


Dhafin lalu menunjuk matanya "Mata ini adalah milik seorang penderita sindrom albinisme sekaligus cat eyes sindrom (CES), jadi seperti inilah penampakan matanya."


Erina lalu menyahutinya "Tapi bukan kah cangkok mata itu masih mustahil dilakukan?."


Dhafin menggelengkan kepalanya kemudian berkata "Tidak-tidak, kamu tau teknologi nano yang sedang populer baru-baru ini?."


"Itu adalah kuncinya, dan yang menciptakan itu adalah Jacob. Regenerasi sel mata yang mustahil jadi bisa dilakukan dengan mudah, dia adalah dokter yang hebat."


Dhafin tidak bisa menceritakan kalau sebenarnya dia yang menyempurnakan teknologi nano itu menjadi nano spray, benda itu dijual dipasaran hanya saja harganya sangat mahal.


Lalu Erina bertanya lagi "Lalu siapa itu Dafa?, kamu pernah menyebut namanya. Bukan kah kamu anak tunggal?."


"Dia temanku dan menjadi saudara angkat ku, dia kehilangan orang tuanya dan tinggal bersama neneknya. Hari itu neneknya juga meninggal, jadi keluargaku mengadopsinya untuk menemaniku. Kamu kan tau tidak ada yang mau berteman denganku saat susah dulu, kamu adalah teman pertamaku, lalu dia yang selanjutnya itupun masih menunggu lama."


Erina lalu merenung atas cerita yang didengarnya "Maaf ya aku tidak tau apa-apa."


Dhafin lalu menghela nafasnya "Huh... Tidak apa, lagi pula itu sudah lama dan aku sudah tidak terlalu memikirkannya. Jadi mulai sekarang kalau dirumah aku tidak perlu memakai kontak lensa dan membalut tanganku kan?."


"Iya gak perlu, malah menurutku matamu sedikit keren seperti di film-film aksi."

__ADS_1


***


Keesokan paginya Dhafin dan Erina melihat Desi sudah ada di kelas terlebih dahulu, dia sendirian didalam kelas. Saat dia sadar Dhafin sudah datang, dia langsung menyambutnya dengan antusias. Saat melihat Desi berjalan kearahnya Dhafin terfikir sesuatu "Mana informasi yang aku minta ke Harold sih?."


Tidak lama Desi sudah sampai di hadapan Dhafin "Hai Dhaf, Erina juga." ucap Desi dengan senyum riang, Dhafin mengangkat sebelah alisnya dan berkata "Siapa yang mengizinkanmu memanggilku dengan panggilan akrab?."


Desi langsung menunduk malu "Maaf aku lupa."


Lalu Erina menyela Dhafin "Sudahlah, kamu gak boleh selalu bersikap seperti itu kepada orang." Erina melanjutkan dengan menatap Desi sementara Dhafin berjalan menuju kursinya "Maaf ya, Dhafin memang seperti itu orangnya."


Desi menjawab dengan suara pelan "Iya tidak masalah, memang aku yang salah."


Erina kemudian menggelengkan kepalanya sebelum menjawab "Enggak kok, niat kamu baik kan mau berteman dengannya."


Tidak lama kemudian banyak siswa lain yang berdatangan karna waktu terus berjalan, mereka berdua akhirnya kembali ketempat duduk masing-masing, Dhafin sudah tidur semenjak dia duduk di kursinya.


Erina menatap Dhafin dengan sedikit malu "Duh, anak itu setiap hari kerjaannya tidur di kelas. Tapi bisa-bisanya dia jadi juara umum melampaui ku."


Disaat yang sama guru sudah masuk dan bel berbunyi waktunya masuk kelas! beberapa saat setelah itu pintu terbuka dengan keras.


"Iya, tapi kamu harus tetap berdiri di lorong sampai jam pelajaran kedua!."


"Ah baik pak." Reno kembali keluar dan berdiri di lorong tanpa bergerak sedikitpun.


***


Jam istirahat sudah tiba lagi, pasti selalu, biar bagaimanapun ini disekolah!.


Dhafin pergi ke kantin dengan yang lain tanpa tau apa-apa, lalu Erina berbisik "Dhafin..sksksksksksk"


"Apa? benarkah?." Erina mengangguk, lalu Dhafin melanjutkan ke arah Reno "Hey no, kamu telat? gak biasanya ketua kelas telat."

__ADS_1


Dhafin melirik kearah belakang, dia langsung terkejut setelah mendapati Desi mengikutinya.


"Sejak kapan kamu..."


"Dari awal istirahat hehe, boleh gabung kan?."


Dhafin dengan sikap acuhnya kembali menghadap kedepan "Suka-suka kamu aja.."


Desi merasa senang karna sepertinya tameng Dhafin sudah mulai kendur dan bisa ditembus olehnya kapan saja, menurutnya ini juga adalah kesempatan baik untuk berteman dengannya. Desi dengan percaya diri dan berniat melanjutkan usahanya, perlahan tapi pasti itu lah yang ada di kepalanya saat ini.


Lalu Reno bertanya saat itu "Kamu anak orang kaya ya?, yang kemarin berlebihan sekali."


Erina juga setuju dengan perkataan Reno, dia mengangguk. Sedangkan Desi menutup wajahnya dan menjawab "Ahh malu sekali kemarin, aku sudah menyuruh mereka untuk biasa saja. Tapi ayahku yang justru tidak mendengarkan ku, aku benar-benar kesal."


Dhafin lalu mendengus "Huh.. Ayahmu seperti itu karna khawatir, walaupun caranya agak berlebihan hargailah dan bicarakan dengan baik."


Didalam hati Desi langsung terdapat perasaan yang meledak-ledak, dia tidak menyangka Dhafin akan melontarkan perkataan terlebih dahulu untuknya. "Ah iya, aku sudah membicarakannya dengan ayahku."


Dhafin masih penasaran tentang latar belakang keluarga Desi, apa dia lebih berpengaruh dari pada Dhafin? ah gak mungkin lah ya kan?.


"Marga mu apa?." Dhafin tidak sadar melontarkan pertanyaan itu, dia tanpa sadar melakukannya karna sudah lama menunggu jawaban Harold yang tak kunjung sampai. Dia melihat pipi Desi agak memerah saat itu "Duh firasat ku buruk..." pikir Dhafin dikepalanya.


"M-Margaku Allens." jawab Desi sambil menunduk tersipu, apakah Dhafin mukai tertarik dengannya? kenapa dia dari tadi membuka obrolan? bahkan dia menanyakan tentang keluarganya... peluangnya sudah semakin besar!. Otak Desi penuh dengan fikiran-fikiran itu.


Lalu Reno berteriak kagum "Whooo Allens? kamu serius?."


Dhafin lalu bertanya penasaran "Kenapa kamu sekaget itu?."


"Apa kamu tidak tahu tentang keluarga Allens?, mereka adalah kolongmerat yang sangat berpengaruh di negri ini... Ya setidaknya satu tingkat dibawah GWC yang terkenal itu." dia melanjutkan "Ngomong-ngomong soal GWC, aku penasaran dengan identitas direktur mereka. Aku dengar pemiliknya mengalami kecelakaan dan hanya anaknya yang selamat, tapi identitas anaknya selalu dirahasiakan dari dulu sampai sekarang."


"Allens ya.... hmm." Dhafin melanjutkan dengan bertanya kepada Reno "Memangnya keluarga Allens terjun kedalam bisnis apa saja?."

__ADS_1


Reno lalu menunjuk ke arah Desi dengan jempolnya "Kamu tanya aja anaknya langsung tuh."


"Ah.." lalu Dhafin menatap Desi, Desi faham maksudnya dan langsung menjawab..


__ADS_2