
Erina mengikuti Dhafin menuju mini market dan masuk untuk membeli beberapa camilan, dia terkejut saat melihat Dhafin membawa banyak camilan. Sangat terkejut sampai akhirnya dia berkata "Kenapa kamu beli sebanyak itu dasar?!."
Dhafin menoleh lalu menjawab "Lho kenapa?, kan pake uangku sendiri..."
Erina menepuk jidatnya lalu berkata dengan sedikit kesal "Ish, iya aku tau... Tapi nanti bawanya susah!, masa kamu mau nyuruh aku yang perempuan buat bawa-bawa makanan sebanyak itu sih?."
Dhafin melihat kembali makanan yang dia beli lalu membalas "Benar juga sih, yasudah sebagiannya lagi aku taro di mobil aja buat nanti pulang, udah terlanjut dibeli soalnya."
Erina mengangguk pelan "Iya sana letakan dulu di mobil, aku tunggu didekat loket pembelian tiket." Dhafin mengangguk patuh dan segera berlari membawa snacknya yang menumpuk itu. Tidak lama kemudian dia kembali menghampiri Erina dan berkata "Ayo masuk, kita beli tiket dulu."
"Iya, biar aku yang membayarnya kali ini dengan sisa tabunganku sewaktu bekerja." ucap Erina.
Dhafin menggelengkan kepalanya dengan cepat sebelum berbicara "Enggak-enggak-enggak." kepalanya berhenti lalu dia melanjutkan "Itu simpan saja, biar aku yang membayarnya."
Erina membalas dengan tegas "Aku!." Dhafin juga langsung menyahuti "Aku aja udah!."
"Aku."
"Udah aku!."
Dan terus berulang sampai beberapa saat, tiba-tiba ada seseorang yang meneriaki mereka "Woe!, berantem sih boleh tapi jangan ditengah jalan dong!."
Ternyata mereka terus menghalangi jalan menuju loket karcis selama perdebatan tadi, mereka berdua yang baru sadar akhirnya minggir dan membungkuk minta maaf dengan perubahan sikap konyol. Orang tadi lalu melanjutkan langkahnya setelah Erina dan Dhafin menyingkir sambil berkata kepada orang disampingnya "Dasar pasangan muda tidak tau etika berdebat."
Dhafin akhirnya memberi solusi agar mereka tidak memperdebatkan hal konyol seperti anak kecil "Bagaimana kalau kita suit aja?, yang menang yang bayar?."
"Boleh tuh, aku jago suit dari dulu dan dapat julukan queen of killer saat SD!."
"Wah ngeri-ngeri, yauda ayok."
*Hap......hap........hap.........hap...........hap........
__ADS_1
Erina dibuat kesal oleh Dhafin dan langsung berkata "Kok seri mulu, kamu sengaja ya?.
"Hah?, mana aku tau lah."
Mereka terus melakukan suit berulang kali dan terus saja seri berulang kali, sampai akhirnya mereka lelah. "Sudahlah, bayar tiker untuk masing-masing aja. Jangan kayak anak kecil yang gak dikasih permen." ucap Erina yang sudah lelah mengayunkan tangannya.
Dhafin mengangguk setuju "Iya aku setuju, bisa repot kalau hanya berdiri disini sampai sore."
Mereka berdua akhirnya membeli tiketnya masing-masing dan kembali damai seperti sedia kala, toh mereka tadi tidak benar-benar serius ingin bertengkar.
Mereka disambut oleh beberapa monyet capuchin yang sudah dijinakkan didalam, monyet itu sedang bergelantungan dan melompat kesana kemari. Saat melihat kumpulan itu bermain bahkan berbaur dengan pengunjung, Erina lantas mengucapkan sesuatu yang langsung terlintas dikepalanya sambil menunjuk ke arah monyet capuchin itu "Liat Fin, mirip kamu!."
"Heh, mana ada."
Mereka berdua terus berkeliling sambil melihat-lihat isi dari kebun binatang itu, Erina selalu tertawa dan begitu juga Dhafin. Bagi Dhafin, hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan.
Tapi biar bagaimanapun setiap hari pasti akan datang senja, tidak terkecuali hari itu, pasti juga kesenangan ini akan berakhir. Dhafin hanya berandai-andai kalau hal seperti itu akan terjadi selamanya, dia juga sangat berharap bisa berkumpul dengan keluarganya bersama Erina juga, tapi 'takdir ya takdir' batin Dhafin.
"Dhaf, ayo istirahat sebentar. Aku lelah, lapar juga sih."
Dhafin tersenyum saat dia menoleh kearah Erina "Ah, iya sebentar aku mau cuci muka dulu." Dhafin menghampiri wastafel cuci tangan yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri sebelum akhirnya berjalan lagi ke arah Erina dan duduk disampingnya.
Dhafin menghela nafas panjang tepat sesaat setelah duduk "Gimana jalan-jalannya?, seru gak?, atau malah kurang?."
"Hmm, akusih udah puas. Tapi kan perjalanan ini tujuannya untuk menghiburmu, bukan aku. Jadi gimana perasaanmu?, apa sudah lebih baik?."
Dhafin mengangguk pelan sebelum menjawab "Iya, hari ini sangat menyenangkan." Dhafin lalu menoleh kearah Erina dan bertanya "Oh iya Rin, kapan kita mau belajar bareng lagi?."
Erina terkejut sebab pertanyaan itu dan langsung menjawab "Wah?, tumben kamu yang paling semangat. Biasanya kamu buka buku aja males, ada apa?."
"Hehehe, bukan begitu. Kan aku udah bilang akan mengajarimu untuk ujian akhir semester satu dan semester selanjutnya nanti, jadi aku pikir itu harus kutepati." jawab Dhafin sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan perlahan.
__ADS_1
Erina mengangguk setuju dan berkata "Iya, aku sih bisa kapanpun kamu mau. Entah itu dirumah, disekolah dan entah itu bersama yang lain atau hanya berdua."
Dhafin agak merinding saat mendengar jawabannya, itu bukanlah merinding karna takut, tapi karna hal yang lain "Haha, aku mah ngikutin kamu aja sih."
"Yasudah besok aja sepulang sekolah, ajak juga yang lain biar mereka semakin pintar."
Dhafin melihat ke arah jam tangannya lalu bertanya "Sekarang udah jam satu siang, kita juga sepertinya sudah mengelilingi setiap sudut dari tempat ini. Mau lanjut disini atau mau ketempat lain aja?, apa ada tempat yang mau kamu kunjungi?."
"Ada."
Dhafin langsung membalasnya setelah Erina menjawab "Tempat apa itu?."
"Aku mau pergi ke museum observasi dari dulu, aku selalu ingin melihat bintang." Erina menambahkan "Tapi tempat itu kan hanya buka di malam hari kalau mau memakai teleskopnya."
Dhafin berfikir sejenak sampai akhirnya teringat sesuatu "Kalau gak salah didekat sini ada observatorium yang teleskopnya canggih, kita bisa bermain di Auqa green park sambil menunggu malam, bagaimana?, dengar-dengar sih tempat itu baru saja dibuka dan sangat menyenangkan." Dhafin melanjutkan dengan nada bersungguh-sungguh "Lintasan roller coaster disana katanya paling baik di negeri ini."
"Tapi aku lapar, hanya memakan makanan ringan tidak cukup untuk mengisi perut."
"Yasudah ayo makan dulu."
Mereka berdua segera keluar dari area kebun binatang dan menuju ke parkiran sampai akhirnya pergi untuk mencari restoran, setelah beberapa saat berjalan mereka menemukan restoran seafood yang tempatnya tidak jauh dari auqa green park.
Mereka berhenti dan makan sejenak disana, setelah itu bermain wahana di auqa green park sampai petang. Saat matahari terbenam mereka menaiki mobil lagi dan pergi ke observatorium Watburn yang dibuka untuk umum dengan syarat dan ketentuan khusus untuk menggunakan teleskopnya, Dhafin melihat ekspresi wajah Erina yang gembira ketika mereka hampir sampai.
Erina turun dari mobil dengan perasaan gembira seperti gadis kecil yang diberikan pita rambut, dia langsung menyeret tangan Dhafin agar berjalan lebih cepat.
Syarat masuk dan menggunakan teleskopnya tentu saja dengan membayar sejumlah uang untuk menyewa pemandu serta untuk pemeliharaan tempat itu sendiri. Karna bagi Dhafin, Erina adalah orang penting saat ini, dia tidak ragu walau harus mengeluarkan seluruh hartanya.
Setelah pemandu datang, mereka berdua dipersilahkan masuk dan bebas untuk memilih teleskop mana yang akan digunakan. Ada satu teleskop utama yang akan membuat penggunanya melihat dengan jelas keluar angkasa, tentu saja Dhafin merekomendasikan itu dan sudah mendapat izin.
Hari mereka berakhir dengan sangat cepat dan menggembirakan, Dhafin puas karena melihat Erina yang tampak senang seharian ini sampai dia lupa dengan masalahnya sendiri. Mereka segera pulang dan beristirahat supaya bisa bersekolah di keesokan hari!.
__ADS_1