
Ponsel Azka pun terus berdering membuat Indah yang masih berada di dalam kamar penasaran siapa yang pagi-pagi sekali menghububgi Azka. Indah yang mulai kepo langsung melirik ponsel Azka yang berada di atas meja.
Di lihatnya nama yang tertera disana. "Sayangku" Indah langsung ingin muntah membaca nama yang tertulis di ponsel, lalu Indah tersenyum. "Astaga ternyata dia sudah memilihki kekasih. Lalu kenapa dia mengajak ku menikah? Tidak mengajak kekasihnya itu menikah?" Tanya Indah pada dirinya sendiri. "Dia memang benar-banar manusia aneh." Gumam Indah, lalu saat dering ponsel berherti berbunyi Indah lalu menjauh, namun bunyi pesan membuat naluri kepo Indah kembali bangkit.
Indah yang penasara akhirnya. Mengambil ponsel Azka. Di lihat nya notig pesan dari sang kekasih yang tidak Indah ketahui siapa namanya. Terbaca sedikit oleh Indah notif pesan yang terlihat dari layar depan. Karna ponsel Azka terkunci.
"Sedang apa kau?" Tanya Azka yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
Indah menelan saliva nua secara kasar melihat pahatan ciptaan Tuhan yanh begitu sempurnah di depan matanya.
"Itu, anu, hmmm." Indah bingung ingin mengatakan apa karna jelas sekali ia tertangkap basah sedang menggenggam ponsel milik Azka.
Azka berjalan semakin mendekat ke arah Indah, lalu merampas ponsel miliknya yang sedang Indah genggam.
"Jangan menyentuh barang yang bukan milikmu.!" Ucapnya dengan.
"Itu. Ponselmu terus berdering jadi aku penasaran ingin melihat-," Indah keceplosan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya
"Kepo" Ucap Azka lalu menyentil jidat Indah...
Sudah menjadi kebiasaan baru bagi Azka menyentil jidat Indah. Entah mengapa melihat Indah meringis dengan bibir yang menggerucut membuat Azka merasa senang.
___________
"Tuan sampai kapan kita akan berada disini?" Tanya Rizal kepada Lukas.
Saat ini Rizal dan Lukas tengah berada di dalam mobil dan melihat kedalam cafe milik Dian, memperhatikan apakah Indah sedang berada di dalam atau tidak. Namun setelah menunggu beberapa jam, tidak ada tanda bahwa Indah akan berada di tempat tersebut. Itulah yang membuat Rizal merasa bosan.
"Tunggu sebentar." Kata Lukas sambil melirik masuk kedalam cafe.
"Baik Tuan"
"Itu dia." Ucap Lukas dengan mata yang berbinar-binar saat melihat Indah turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam cafe
"Akhirnya yang di tunggu pun telah tiba" gumam Rizal.
Tanpa mendengar perkataan Rizal, Lukas segerah turun dari mobil, ia berjalan dengan cepat sambil memanggil nama Indah agar Indah berhenti melangkah.
Indah yang mendengar namanya di panggil pun langsung menoleh dan tersenyum saat melihat siapa yang datang berjalan menghampirinya.
"Lukas, sedang apa di sini?"
"Aku,. Hhm kebetulan aku lewat dan melihatmu. Makanya aku menghampirimu di sini." Bohong Lukas, ia tidak ingin Indah tahu bahwa sebenarnya dirinya sudah menunggu Indah sedari tadi pagi di dekat cafe.
"Kebetulan sekali yah." Ucap Indah
"Iya."
"Mau masuk?" Tanya Indah.
"Boleh."
__ADS_1
Lalu Indah dan Lukas masuk kedalam cafe dengan beriringan.
"Duduklah" Indah mempersilahkan Lukas untuk duduk. "Mau pesan apa biar aku buatkan. Kebetulan cafe ini milik sahabatku dan aku juga bekerja di sini" jelas Indah
"Kopi hitam tanpa gula."
"Baiklah tunggu sebentar."
Setelah beberapa lama menunggu akhirnya Indah kembali datang menghampiri Lukas dengan membawa secangkir kopi pesanan Lukas. "Silahkan di minum"
"Terimakasih." Ucap Lukas lalu mengesap kopi tersebut. "Ouh iya Indah, apa aku boleh meminta nomer ponselmu."
"Oh iya aku lupa. Maaf." Indah menepuk jidatnya mengingat dirinya dulu pernah berjanji akan menghubungi Lukas saat Lukas memberikan nomer ponselnya ketika mereka berdua berada di halte bis. "Aku lupa saat ini. Maaf yah." Kata Indah sambil menulis nomer ponselnya di atas kerta.
"Di ingat?" Tanya Lukas sambil memperhatikan Indah menulis nomer ponselnya.
"Hari itu, sebenarny aku ingat nomer ponselku. Hanya saja aku sengaja pura-pura lupa." Indah tersenyum memerkam deretan giginya yang tersusun rapi.
"Bolehkah aku mengenalmu lebih dekat lagi?" Tanya Lukas membuat Indah berhenti tersenyum.
"Haaa???"
"Aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi."
............
"Minggu depan semua perusahaan milik ayah, akan ayah serahkan padamu. Seperti janji ayah dan Bunda, jika kau sudah menikah maka semuanya akan menjadi milikmu." Ucap Ayah saat berada di ruangan kerja Azka.
"Ayah.."
"Azka janji. Azka akan bertanggung jawab penuh dan akan membuat perusahaan kita semakin maju."
"Ayah percaya padamu." Ayah menepuk pundak Azka. "Ingat pesan ayah, jangan bermain api."
"Baik ayah."
Azka memeluk tubuh sang ayah.
"Indah adalah gadis yang sangat baik. Ayah harap kau bisa menjaganya dan mencintainya sepenuh hati. Jangan biarkan air mata mengalir membasahi wajah cantiknya."
"Kalau begitu ayah pamit pulang dulu."
"Iya ayah."
"Ouh iya satu lagi. Ayah akan memberikan mu oranh kepercayaan Ayah yang akan menjadi asistenmu. Besok dia akan mulai bekerja dengan mu."
"Baik Ayah."
Seperginya Ayah Azka dari ruangan kerja Azka. Garce langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dahulu
"Hikksss, hiksss, hikkkssss. Maafkan aku. Maaf" kata Grace mengangis tersedu-sedu sambil duduk berlutut di hadapan Azka.
__ADS_1
"Please maafkan aku. Dan tolong dengarkan penjelasanku." Ucap Grace
Jujur Azka tak kuasa melihat orang yang ia cintai mengeluarkan air mata sambil bersujud dihadapannya. Azka akhrinya mendekat kearah Grace dan memengang kedua bahu Grace.
"Duduklah disini." Azka membawa Grace agar duduk di sofa
"Sayang, please maafkan aku. Please!!"
Azka terdiam. Ia tidak tahu haruskan ia mendengar penjelasan Grace tentang bagaimana bisa Grace kehilangan mahkotanya. Haruska Azka memaafkan Grace?
"Apa kau menicintaiku? Jika ia kenapa kau mundur karna kekuranganku? Itu artinya kau tidak mencintaiku." Ucap Grace.
"Aku mencintaimu Grace sangat mencintaimu." Ucap Azka dengan suara yang meninggi.
Di balik pintu Indah mendengad dengan jelas bahwa Azka sangat mencintai kekasihnya yang bernama Grace. Yah hari ini Indahengantar bekal makan siang yang ia buat sendiri di cafe khusus untuk Azka, karena Indah mendapat telpon dari Bundah Azka meminta Indah membuat dan mengantar bekal ke perusahaan Azka.
Indah yang mendengar ucapan itu, langsung menutup pintu secara perlahan.
"Hati ada apa dengan mu? Jangan goyah jangan sakit hanya karna kata itu. Ingat kau hanya istri kontrak tidak lebih dan tidak boleh berharap lebih" batin Indah sambil mengusap da-da nya.
Indah menitip kan kotak bekal tersebut kepada sekretaris, lalu Indah memutuskan segerah pergi dari tempat tersebut sebelum hatinya kembali sakit mendegar kata-kata yang seharusnya ia tidak dengar.
Indah tidak tahu apa yang sedang terjadi pada hatinya? Kenapa saat hari itu, saat Indah mendengar Azka mengucapkan ijab kabul hatinya seakan luluh padahal Indah sama sekali tak menaruh perasaan pada Azka. Ada apa dengan hati Indah? Kenapa hatinya seolah berkata jika ia milik Azka. Padahal Indah sama sekali tidak ada kata seperti itu. Hati Indah benar-benar sedang tidak bisa di ajak kompromi. Hatinya berkhianat pada Indah. Karna logikanya berkata tidak tapi hati berkata ia.
.......
Grace menjelaskan semaunya pada Azka dari awal hingga sampai akhir. Bagaimana ia bisa kehilangan mahkota yang ia jaga. Grace berkata bahwa ia dijebak kala itu saat sedang melakukan pemotretan di luar kota. Grace di suguhkan minuman yang membuatnya mabuk berat sehingga ia tidak bisa mengontrol diri.
Azka mengepalkan kedua tangannya mendengar penjelasan Grace. "Bohong" ucap Azka.
"Aku bersumpah sayang. Aku di jebak."
"Katakan siapa pria itu? Siapa yang telah berani menyentukmu?" Tanya Azka.
Grace menunduk ia kembali menangis. Membuat Azka menarik nafas secara kasar lalu menghembuskannya.
"Maaf aku tidak bermaksud membentakmu."
"Aku salah, kau berhak berkata kasar atau bahkan memukulku. Karna aku tahu aku salah. Benar-benar salah"
"Aku sadar, kalau aku tidak mungkin bersama dengan pria yang luar biasa seperti dirimu. Aku sadar, hiksss hikkkss, hikkkksss."
Azka yang merasa kasihan mulai lulu dan mendekat ke arah Grace. Azka memeluk tubuh Grace membawanya kedalam pelukannya. Sambil mengusap pundak Grace lalu berkata. "Maaf kan aku karena membentakmu. Sekarang tidak usah menangis lagi."
Grace menarik kepalanya dari dada bidang Azka lalu menatap wajah Azka.. "Apa kau mau memaafkan ku?" Tanya Grace dengan wajah senduhnya.
"Iya aku memaafkan mu sayang. Aku mencintaimu dan mau menerima kekuranganmu. Tapi janji padaku."
"Apa itu?"
"Jangan lakukan hal hina itu lagi. Ingat! Sekarang kau adalah istriku. Dan setahun yang akan datang kau akan ku kenalkan ke public bahwa kau adalah istri tercintaku."
__ADS_1
Grace menganggukkan kepalanya. "Aku tidak akan melakukan hal hina itu. Karna aku mencintaimu. Andai aku tidak di jebak, itu semua tidak akan terjadi padaku."
"Aku mengerti."