
Seminggu berlalu, semenjak kejadian hari itu, di mana Lukas memberikan kata-kata yang tak pantas untuk Indah. Indah tak lagi menjawab telpon atau membalas pesan dari Lukas. Indah memilih menjauh, bukan karena Indah tidak ingin mendengar penjelasan Lukas, tapi Indah masih belum terima tentang apa yang Lukas pikirnya tentang dirinya.
Bel rumah terus saja berbunyi, Indah yang berada di dapur langsung berjalan dengan cepat untuk melihat siapa yang telah datang berkunjung ke rumah yang ia tempati dengan Azka.
Saat Indah membuka pintu, Indah kaget melihat sang Ayah mertua yang berdiri seorang diri.
"Ayah, bagaimana kabarnya? Ayo silahkan masuk yah'." Ucap Indah setelah menyalimi tangan Ayah mertuanya.
"Kau baik-baik saja Nak?" Tanya sang mertua, sambil tersenyum lembut.
"Yah Ayah." Jawab Indah lalu keduanya berjalan masuk kedalam rumah. "Ayah duduk dulu, biar Indah buatkan minuman." Kata Indah,
Ayah Azka tidak langsung duduk, ia berjalan kesana kemari sambil menatap isi sekeliling rumah sang anak.
"Untung saja Azka dan Grace tidak sedang berada di rumah, kalau sampai ayah tau, maka-," Gumam Indah.
"Telpon Azka sekarang juga" Titah sang mertua,
Indah kaget mendengar mertuanya yang sudah berada tetap di belakangnya. Pikir Indah sejak kapan sang ayah mertua ada di belakangnya? Apa tadi mertuanya mendengar apa yang Indah katakan? Jika ia, maka
"Kenapa diam saja. Ayo hubungi Azka dan suruh dia pulang sekarang juga."
"Ba-aik Ayah." Indah meraih ponselnya yang berada di saku celana, lalu mencoba menghubungi ponsel Azka namun upayanya tidak berhasil karena Azka selalu menolak panggilannya.
Berulang kali Indah menelpon tapi tetap saja hasilnya nihil, Azka tetap saja menolak. Bahkan Indah sudah mengirim pesan namun Azka tidak membaca pesannya sama sekali.
"Tidak di jawab?" Tanya sang mertua dan Indah menganggukkan kepalanya.
"Sudah ayah duga." Ucap sang Ayah lalu menelpon asisten pribadi Azka.
Setelah selesai berbincang sang mertua mengajak Indah untuk duduk di ruang tamu sambil menunggu Azka datang. Layaknya intel, Ayah Azka memberi banyak pertanyaan pada Indah dan Indah pun menjawab pertanyaan, namun satu yang tidak bisa Indah jawab, saat ayah Azka bilang padanya apakah kau mencintai Azka? Indah hanya diam, tak mampu menjawab sama sekali. Dan setelah perbincangan itu Ayah Azka mengalihkan pembicaraan, layaknya sang peramal ia seperti sudah tau apa yang ada di dalam pikiran Indah.
Setelah beberapa saat kemudian.
"Ayah." Ucap azka saat membuka pintu rumah. "Sejak kapan Ayah datang? Di mana Bunda?" Tanya Azka sambil melihat kesana kemari mencari keberadaan sang Bunda.
Tanpa menjawab pertanyaan Azka, ayahnya pun langsung berdiri dan memberikan bogeman mentah keperut sang anak.
__ADS_1
"Ayah-,"
Lalu kembali memberikan bogeman mentah di wajah Azka.
"Apa kau tau di mana salahmu?" Tanya sang ayah dengan emosi.
Azka menggelengkan kepalanya karena memang merasa ia tidak punya salah sama sekali. Perusahaan berjalan dengan lancar di bawa kepemimpinan nya.
"Dasar!" Sang ayah kembali memukul Azka.
"Ayah, stop. Ayah kasihan Azka." Teriak Indah karena panik melihat mertuanya memukul Azka di hadapan nya tanpa henti.
"Tinggalkan wanita murahan itu, dan hiduplah dengan tenang bersama dengan Indah."
"Siapa yang ayah maksud dengan wanita murahan?" Tanya Azka.
"Tinggalkan wanita murahan yang bernama Grace itu, kalau tidak ayah akan."
"Dia bukan wanita murahan Ayah. Dia wanita baik."
"Tinggalkan dia!"
Emosi sang Ayah kembali naik, lalu ia kembali ingin memukul Azka, namun Indah lebih dahulu memeluk tubuh Azka agar dapat melindungi Azka dari pukulan. "Ayah stop" Ucap Indah dengan tangis nya. "Kasihan Azka,."
"Hari ini kau selamat karena ada Indah yang menolongmu. Dan jika Ayah tau kau masih bersama dengan wanita itu, jangan harap ayah akan memaafkan mu dan memberimu semuanya. Jangan pernah harap!" Sang ayah keluar dari rumah dengan penuh emosi.
Brukkkk.. Indah terjatuh saat Azka menghempaskan tubuhnya dengan sangat keras. "Auhhh" Ringis Indah
"Tidak usah bersandiwara di hadapanku."
"Apa maksudmu?"
"Aku tau, pasti kau lah yang memberitahukan semua ini pada ayah. Ia kan?"
"Bukan! Bukan aku." Kata Indah sambil menggelangkan kepalanya.
Azka mendekat lalu mencengkram kedua pipi Indah dengan sangat keras.
__ADS_1
"Aku sekarang tau, kau wanita seperti apa. Aku jijik melihatmu. Dimata ku kau hanya wanita sampah yang tidak tahu malu"
Lalu Azka mendorong tubuh Indah dengan keras dan meninggalkan Indah seorang diri dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Kau salah paham Az, kau salah!,"
"Aku benci padamu. Sangat Membencimu" Batin Azka.
.........
Sejaka kejadian kemarin, baik Azka ataupun Indah tak lagi saling bertatap muka. Tapi meski begitu Indah tetap memasak makanan buat Azka walaupun tidak dimakan sama sekali oleh Azka.
Dan karena merasa bosan di rumah, Indah memutuskan hari ini pergi le cafe sahabatnya.
"Aku rindu padamu." Kata Indah sambil memeluk Dian.
"Kau ada masalah?" tanya Dian melepas pelukannya dan menatap wajah Indah. "Katakan, apa dia menyakitimu?" Tanya nya lagi.
Indah menggelengkan kepalanya, ia berbohong karena tidak ingin membuat sahabat yang paling ia sayangi merasa cemas dengan dirinya.
"Serius? Kamu tidak bohong kan?" Tanya Dian dengan penuh selidik.
"Tidak, aku tidak bohong. Aku datang ke sini karena memang rindu." Elak Indah. "Ouh iya di mana Ryan? Aku rindu dengan anak itu." Kata Indah, mengalihkan pembicaraan agar Dian tidak bertanya lagi tentang dirinya.
"Ryan, seperti biasa, dia pergi entah kemana dengan teman gank nya"
"Ouh." Indah membulatkan mulutnya.
"Indah" Panggil seseorang yang Indah sangat hafal betul dengan suara itu.
Indah tidak menoleh, ia justru berjalan masuk kedalam kawasan dapur karena menghindar dari sang pemilik suara yang memanggil dirinya. Siapa lagi jika buka Lukas.
"Indah, tunggu." Kata Lukas sambil berjalan mengejar Indah
"Kau siapa?" Dian bertanya sambil menghalangi jalan Lukas.
"Kau tidak perlu tahu" Ucap Lukas lalu ingin menerobos namun Dian tetap menghalang.
__ADS_1
"Yang tidak berkepentingan dilarang masuk." Kata Dian tegas sambil menunjuk tulisan di pintu dapur cafe.
"Indah, aku minta maaf. Dan please dengar penjelasanku dulu." Teriak Lukas.