
Beberapa hari berlalu, Grace berkunjung ke rumah mertuanya. Bertemu dengan Bunda dan juga Ayah Azka.
"Sayang, kenapa datang sendiri? Dimana Azka?" Tanya Bunda saat setelah melepas pelukan pada Grace.
"Azka kerja Bun."
"Ayo sayang duduklah, Bunda sangat rindu. Rencana Bunda mau ke rumah kalian tapi ternyata kamu lebih dulu datang"
"Bunda aku belum siap hamil" kata Grace membuat Bunda kaget dan membulatkan mata menatap Grace.
"Apa maksud mu?" Tanya Bunda.
"Aku-,
"Alasanya apa? Bicarakan baik-baik." Kata Bunda sambil memengang kedua tangan Grace.
"Jujur Bunda, aku masih ingin melanjutkan karir ku, maka dari itu aku memilih menjadi istri siri, karena tidak ingin karir ku mati jika orang tahu aku menikah. Dan aku belum siap menjadi ibu, karena masih ingin bekerja."
"Bunda siap menjaga anakmu, kamu bebas pergi kemana pun setelah anak itu lahir. Bunda janji akan meluaskan mu kerja dan memenuhi sengala apa yang kamu pinta."
"Tapi Bunda bagaimana aku bisa bekerja jika aku hamil?"
"Kamu bisa cuti. Setelah melahirkan kamu bisa kembali bekerja, biar bunda yang merawat bayimu"
__ADS_1
Setelah mendapatkan persetujuan, Grace bernafas dengan legah akhirnya dirinya masih bisa bebas meski kelak sudah melahirkan. Kini tinggal dirinya harus menghempaskan Indah pergi jauh-jauh agar Azka tidak jatuh cinta pada Indah.
Sebenarnya gampang saja Grace menghempaskan Indah, hanya saja sang ayah mertua bersikeras jika Azka menceraikan Indah maka seluruh harta warisan akan di tarik kembali, dan Azka tidak akan mendapatkan apa apa. Itu sama halnya jika Grace harus siap kehilangan kemewahan.
"Aku harus mengambil hati pria tua itu." Batin Grace.
"Satu tahap lagi, maka semua akan menjadi milikku" batin Grace.
_________
Azka terus merasakan sakit kepala yang berkepanjangan saat bekerja membuatnya menjadi tidak konsentrasi. Dipikirannya saat ini, hanya bagaimana bisa ia melihat senyum indah di wajah Indah.
Entah kenapa hanya dengan memikirkan Indah, perasaan Azka sedikit lebih tenang.
"Apa mungkin ini pengaruh ngindam? Tapi mengapa harus Indah? Kenapa bukan Grace?" Gumam Azka, sambil memijat kepalanya.
"Ahhh mana mungkin." Gumam Azka yang saat ini membayangkan jika Indah mengandung anaknya.
______
"Jadikan kita pergi?" Tanya Lukas saat Indah membawakan berkas yang dibutuhkan oleh Lukas.
"Jadi Pak." Jawab Indah.
__ADS_1
Kini Lukas dan juga Indah berangkat ke Bandung meninjau lahan yang kelak akan menjadi tempat pembangunan kantor baru untuk cabang di Bandung.
Sepanjang perjalanan, baik Indah dan Lukas keduanya saling bercerita kadang membahas masalah pekerjaan dan kadang juga bercerita tentang masalah pribadi. Indah sendiri sudah menganggap Lukas sebagai Kakak nya tidak lebih, sedangkan Lukas masih menaruh harapan agar kelak Indah mau menerima dirinya, melihatnya sebagai seorang pria, bukan sebagai seorang kakak.
"Jadi bagaimana hubungan mu dengan Azka?"
"Baik."
"Jangan bohong padaku."
"Serius, hubungan kami baik malah sangat sangat baik." Indah tersenyum sambil menatap jalan di depan.
Lukas mengacak pucuk kepala Indah.
"Kau itu sangat lucu"
Seharian berada di bandung membuat keduanya kewalahan, dan saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang. Mereka memutuskan untuk berhenti di salah satu hotel karena hujan deras terus mengguyur sehingga membuat Rizal sangat sulit untuk menyetir mobil.
"Tuan jika bagaimana jika malam ini kita menginap saja." Kata Rizal.
"Bagaimana dengan mu Indah?" Tanya Lukas menatap Indah yang duduk di sebelahnya.
"Rizal apa tidak bisa hujan ini di terobos saja?" Tanya Indah pada Lukas,
__ADS_1
Mereka bertiga saling bertanya satu sama lainnya membuat ketiganya tertawa serempak.
"Bagaimana Tuan Lukas tidak jatuh cinta padamu Nona, kamu itu wanita unik dan baik." Batin Lukas