Indah Istri Yang Tak Dianggap

Indah Istri Yang Tak Dianggap
48


__ADS_3

"Bagaimana Lukas, apa semuanya sudah beres?" Tanya Dian.


"Belum. Tapi akan aku usahakan untuk menyelesaikan semuanya dan membawa Indah pergi."


"Aku percaya padamu Lukas."


"Aku tidak akan mengecewakan kepercayaanmu."


"Kita mau kemana?" Timpal Indah yang mendengar pembicaraan Lukas dan juga Dian.


"Indah." Jawab Lukas dan Dian serentak.


"Katakan, kita mau kemana?"


Dian memberika kode pada Lukas agar membiarkan dirinya berbicara hanya berdua dengan Indah. Lukas yang paham dengan maksud Dian, langsung segerah pergi dan meninggalkan mereka berdua.


"Indah, Lukas berencana ingin membawamu pergi dari kota ini. Apa kamu bersedia?"


Indah terdiam.


"Aku harap kamu mengerti tentang aku dan juga Lukas. Kami berdua ingin melihatmu hidup dengan bahagia, kami ingin bayi yang kamu kandung bisa sehat dan hidup di lingkugan yang baik."


"Apapun keputusak kalian itulah yang terbaik. Aku hanya bisa ikut apa yang kalian inginkan. Kalian sahabatku, pasti kalian ingin yang terbaik untukku."


Dian memeluk tubuh Indah.

__ADS_1


"Terima kasih Indah sudah percaya dengan kami. Dan aku harap kamu bisa bahagia, dan melupakan semua yanh telah terjadi di kota ini."


Indah melepas pelukannya lalu menatap wajah Dian.


"Aku sudah melupakan semuanya. Aku sudah mengiklasnya telah apa yang terjadi padaku. Jadi, jangan khawatirkan lagi tentang itu."


"Sungguh kau adalah wanita yang sangat luar biasa Indah." Ucap Dian sambil menggenggam kedua tangan Indah.


"Terima kasih Dian, karena sudah menjadi sahabat yang selalu ada."


........


Tiap hari Grace semakin sibuk bekerja. Membuat Azka merasa jika hubungannya dengan Grace semakin menjauh.


"Sayang ada apa? Kenapa bertanya? Bukan nya sudah kamu tahu sendiri jawabannya jika aku akan bekerja sebelum perut ini membesar."


"Tapi Grace.. Waktu mu sangat tersita di luar membuat kita berdua jarang bersama."


"Itu kan sudah resiko pekerjaan."


"Ada apa ini?" Timpal Bunda yang baru saja tiba.


"Ini Bun. Azka menegur aku untuk bekerja.. Bukan kah bunda tahu sendiri, kalau aku sangat mencintai pekerjaan ku. Dan aku bekerja hanya sampai sebelum perut ini semakin membesar."


"Sayang. Mengertilah akan keadaan Grace. Karena jika melahirkan nanti, Grace akan pensiun dan akan mengurus bayi kalian."

__ADS_1


"What? No! Aku tidak ingin mengurus bayi ini. Aku masih ingin bebas. Mending bunda saja yang urus. Bukankah bunda yang ingin memiliki cucu." Batin Grace.


Azka hanya bisa menghela nafas dan berlalu meninggalkan Grace dan juga ibunya


Entah kenapa Azka tiba-tiba memikirkan Indah. Perasaan bersalah menyeruak di dalam diri. Namun ego yang setiggi gunung himalanya membuatnya menjadi menutup rasa bersalahnya.


"Indah, Lukas. Kalian telah berkhianat." Gumam Azka sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Azka Bunda mau bicara." Sang Bunda menghampiri Azka.


"Ada apa Bun?"


"Ceraikan Indah dan jadikan Grace menjadi istri sah mu di mata hukum."


Azka terdiam.


"Soal ayah, biar Bunda yang memberikan penjelasan. Kamu hanya perlu menandatangani berkas ini."


"Apa ini Bun?" Tanya Azka


"Itu berkas perceraian mu. Tanda tangani saja. Agar bisa lepas dari wanita itu."


"Biarkan berkas itu di situ dulu bun. Nanti akan aku tanda tangani." Kata Azka.


"Besok Bunda akan datang kembali mengambil berkas itu. Semakin cepat kamu bercerai maka semakin bagus. Itu artinya maka semakin cepat kamu akan menjadikan Grace menjadi istri secara hukum."

__ADS_1


__ADS_2