Indah Istri Yang Tak Dianggap

Indah Istri Yang Tak Dianggap
54


__ADS_3

Setelah kehilangan dirimu, akhirnya aku sadar tentang diriku. Siapa aku tanpa dirimu.


Azka mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju cafe milik Dian, sahabat Indah. Dan saat mobil Azka telah tiba, dengan segerah Azka turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam cafe milik Dian.


"Dian." Panggil Azka dan mendekat ke arah Dian.


Dian langsung menoleh saat mendengar namanya di panggil.


"Azka." Gumam Dian, namun Dian tetap mengerjakan tugas nya, ia tidak ingin menghiraukan Azka, karena Dian sudah tebak niat Azka datang ke cafe nya setelah sekian lama. Pasti hanya satu, yaitu mencari tahu di mana Indah berada.


"Dian. Aku mohon katakan padaku dimana Indah?" Tanya Azka.


Namun Dian tetap sibuk mengurus cafe, ia tidak memperdulikan Azka.


"Dian." Panggil Azka.


"Jika tidak ingin pesan makanan dan minuman lebih baik anda keluar." Tolak halus Dian pada Azka.


Lalu Azka menahan kedua bahu Dian,


"Katakan dimana Indah?"


"Indah? Indah siapa maksud mu?" Tanya balik Dian.

__ADS_1


"Dian jangan berbohong padaku. Jangan berlaga pikun. Katakan di mana Indah."


"Lebih baik kamu keluar sekarang, jangan menggangguku." Titah Dian sambil menunjuk ke arah pintu keluar.


"Jangan mencari Indah lagi."


"Baiklah, besok aku akan datang lagi. Dan bahkan setiap hari aku akan datang sampai kau mau memberitahuku di mana Indah."


"Silahkan coba saja. Karena sampai kiamat pun aku tidak akan memberitahu kan mu dimana Indah berada." Teriak Dian dengan sangat keras nya membuat para pengunjung cafe menoleh pada Dian.


Azka berlalu dan keluar dari dalam cafe milik Dian, dan saat Azka berada di luar, Azka pun bertemu dengan Ryan.


"Lihat siapa yang datang." Kata Ryan dengan senyum mengejek.


"Apa aku mengenalmu?" tanya balik Ryan. "Oh sepertinya kita tidak saling kenal, jadi aku tidak berhak untuk menjawab pertanyaanmu." Ketus Ryan membuat Azka frustasi.


"Ryan. Tolong katakan di mana Indah."


"Tolong kau bilang? setelah apa yang kau lakukan pada Indah?"


"Ryan."


Ryan menepis tangan Azka.

__ADS_1


"Aku tidak mengenalmu. Dan aku tidak akan menjawab pertanyaanmu." Ucap Ryan dan berlalu meninggalkan Azka yang mengusap wajahnya secara kasar.


"Dimana kamu Indah." Ucap Azka.


•••


"Ryan sini.." Panggil Dian saat melihat Ryan masuk kedalam cafenya. "Kau tidak bilang kan jika Indah saat ini sedang berada di kota xx."


"Yang benar saja kak. Masa sih aku tega ngomong ke pria ban*gsat itu di mana kak Indah."


"Bagus." Dian menepuk pundak Ryan. "Kau memang adik yang bisa di banggakan."


"Aku tidak akan membiarkan pria itu mendekati Indah, tidak akan!"


••••••


Sesuai dengan perkataan Azka. Tiap hari ia berkunjung ke cafe milik Dian hanya sekedar mencari tahu di mana saat ini Indah berada. Dan bahkan kadang Azka memantau Dian dari dalam mobilnya berharap Dian mau mengunjugi Indah dan Azka pun bisa mengikuti Dian. Namun semua yang Azka lakukan percuma saja. Karena Dian sama sekali tidak menunjukka di mana Indah berada.


Hingga malam hari, Azka masih tetap berada di depan cafe Dian. Membuat Dian risih dengan Azka.


"Biarkan saja. Toh dia akan bosan dengan sendirinya nanti." Ucap Ryan sambil memperhatikan Azka dari balik jendela.


"Tapi Ryan. Aku ngak suka dia di sana terus, dan juga kasihan."

__ADS_1


"Kasihan apa? kak Dian kasihan dengan pria itu?"


__ADS_2