Indah Istri Yang Tak Dianggap

Indah Istri Yang Tak Dianggap
Pembahasan kontrak


__ADS_3

Grace terus memikirkan tentang hubungannya dengan Azka. Sejujurnya Grace tidak sanggup jika harus melepaskan Azka kepada wanita lain, hanya saja jika Grace memilih untuk tetap menerima lamaran Azka untuk menikah dengannya, maka Grace takut jika karirnya di dunia permodelan yang selama ini ia bangun dengan baik, akan hancur lebur.


"Aku harus bagaimana? Apa pilihan ku ini sudah tepat?" Grace bertanya pada dirinya sendiri sambil melihat foto Azka yang berada di galery ponselnya. "Aku harus menghubungi Azka, aku harus menyakinkan dirinya jika menunggunya tidak akan membawakan kesia-siaan untukku."


Lalu Grace mengirim pesan kepada Azka meminta Azka berkunjung ke apartemen miliknya. Dan setelah mendapatkan balasan dari Azka jika sebentar lagi Azka akan mendatanginya. Grace pun langsung bersiap-siap membersihkan dirinya.


..........


Indah lebih dahulu datang, dan sedang duduk di kursi cafe menunggu kedatangan Azka yang katanya sedang di dalam perjalanan. Di dalam benak Indah, ia sudah mengumpulkan banyak keberanian untuk mengutarakan pendapatnya tentang pernikahan kontrak yang akan ia jalani nanti nya dengan Azka. Indah melihat jam di layar ponselnya. "Lima belas menit sudah ia terlambat." Gumam Indah, dan pada saat ia ingin mencoba menghubungi Azka menanyakan kabar di mana pria itu sekarang berada, tiba-tiba Azka berdiri di depannya.


"Hhmmm." Azka berhadem membuat Indah menoleh ke hadapannya.


"Oh." Kata Indah sambil melirik ponselnya yang sedang menghubungi Azka.


Ponsel Azka pun berdering.


"Maaf" kata Indah sambil memutuskan sambungannya. "Silahkan duduk." Pinta Indah.


"Apa yang ingin kau bahas?" Tanya Azka tanpa basa-basi setelah ia duduk tepat di depan Indah.

__ADS_1


"Mengenai kontrak pernikahan aku ingin menambahkan poin di dalamnya"


"Apa itu?" Azka mengeluarkan kertas selembaran kontrak tersebut ke atas meja.


"Aku ingin menambahkan, jika selama kita menikah, kau tidak boleh menyentuhku sama sekali."


Azka tersenyum sini mendengar ucapan Indah, wanita yang kini sedang duduk di hadapan nya dan sebentar lagi akan menjadi istri kontraknya. Menyentuh katanya? Mana mungkin Azka menyentuh wanita yang sama sekali ia tidak cintai. Cinta?, hati dan seluruh jiwa Azka hanya untuk milik Grace seorang tak ada yang lain. Jangan kan ingin menyentuh, melihat pun Azka tak sudi. Andai bukan karna desakan sang Bunda, tidak akan mungkin Azka menikah dengan orang yang ia tidak cintai sama sekali. Apa lagi ini, menikah kontrak! Sungguh ini hanya karna keadaan yang mendesak saja.


"Bagaimana kau setuju?" Tanya Indah


"Tanpa kau ajukan sekalipun, aku memang sudah setuju. Akupun tidak sudi menyentuh dirimu yang bukan sekali tipe ku." Kata Azka dengan senyum sinis terukir di wajahnya, memandang rendah indah yang berada di hadapanya.


"Sombong sekali" gumam Indah pelan namun masih dapat di dengarkan oleh Azka.


"Tidak ada!" Tegas Indah membantah. Ia tidak ingin jika Azka tahu apa yang ia bilang tadi. "Hebat juga kupingnya, dia bisa mendengar ucapanku, walau aku berbicara sangat pelan." Gumam Indah.


"Aku tahu kau sedang membatin" kata Azka membuat Indah kaget dan membulatkan matanya menatap tidak percaya pada Azka yang sangat tahu apa yang ia pikirkan.


"Kau memiliki indra ke enam?" Tanya Indah

__ADS_1


"Sebagai gantinya, karna kau sudah membatin maka minggu ini kau harua datang berkunjung ke rumahku"


"Rumahmu?" Ulang Indah. "Apa yang harus aku lakukan di sana?" Tanya Indah dengan kedua tangan yang menyilang di depan dadanya. "Apa dia ingin melakukan yang tidak-tidak padaku? Tapi bukan kah aku ini bukan tipe nya" Indah kembali bergumam. Membuat Azka menggebrakkan meja dengan kedua tanganya.


"Hilangkan pikiran anehmu itu. Dan dengarkan penjelasanku."


Lalu Azka menjelaskan semaua nya secara detail kepada Indah tentang kedatangannya di minggu ini untuk bertemu dengan Bundanya. Indah mendengar semua ucapan Azka, bahkan Indah juga mencatat di buku kecilnya agar ia tidak lupa dengan apa yang Azka jelaskan padanya. Namun sesaat tangan Indah berhenti menulis lalu Indah berteriak.


"Tidak! Tidak mungkin." Kata nya sambil meletakkan pulpen nya dan spontan berdiri dari duduknya. "Aku tidak ingin berpelukan denganmu. Tidak! Aku tidak mau." Dengan tegas Indah menolak rencana Azka yang mengatakan jika mereka harua kelihatan mesrah di hadapan orang tua Azka dan jika perlu mereka harua berpelukan agar kedua orang tua Azka tidak curiga dengan kebohongan mereka berdua.


"Mau atau tidak. Kau harus tetap mau! Ingat, aku di sini pihak pertama dan apapun yang dikatakan pihak pertama harus kau setujui tanpa bantahan sedikitpun."


Indah kembali duduk, ia ingat betul di salah satu poin tentang pernikahan kontrak mereka. Jika pihak kedua tidak boleh sama sekali menolak permintaan pihak pertama.


"Bagaimana? Tapi jika kau tidak mau maka kembalikan uang ku atau kau ku masukkan kedalam penjara." Ancam Azka menakut-nakuti Indah.


"Baiklah, aku setuju." Dengan cepat Indah menjawab.


"Oke kalau begitu, hari minggu aku akan menjemputmu jam sembilan pagi. Ingat! Jangan terlambat dan jangan membuatku menunggu."

__ADS_1


Azka berdiri lalu pergi meninggalkan Indah tanpa pamit sama sekali. Membuat Indah mengepalkan tangan kanannya dan memberikan gerakan pukulan tinju ke pundak belakang Azka. "Dasar laki-laki aneh!" Teriak Indah namun Azka tetap berjalan pura-pura tak mendengar teriakan Indah di belakangnya.


"Andai tangan ini beneran bisa meninju tepat di pundak belakangnya, pasti sangat seru!" Ucap nya sambil melihat sendiri tangannya yang mengepal. "Yah semoga saja tangan ini bisa mendarat suatu saat di pundaknya dengan sangat keras." Ucapnya sambil tersenyum membayangkan Azka merasakan sakit akibat pukulannya.


__ADS_2