
Lukas menatap jam yang melingkar di pergelangan tanganya. Sudah sejam lebih tapi Indah tak kunjung juga datang. Dan juga Indah tak menjawab panggilan dari dirinya. Lukas mulai gelisah karena Indah tak memberikan kabar sama sekali.
"Coba kau hubungi Indah." Ucap Lukas saat dirinya menghampiri Dian.
Dian menaikkan satu alisnya menatap Lukas.
"Kenapa melihatku seperti itu? Cepat hubungi Indah."
"Kenapa menyuruhku? Kau bisa kan menelpon sendiri."
"Aku tidak akan menyuruhmu jika Indah menjawab panggilanku."
"Aku tidak mau." Dian lalu pergi dari hadapan Lukas, namun dengan cepat Lukas menghalangi jalan Dian.
"Cepat!" Pintahnya.
"Kalau ingin minta tolong tidak begini caranya." Dian mendorong tubuh Lukas sehingga dirinya bisa berjalan.
"Dasar wanita-" Rutuh Lukas menatap kepergian Dian.
.........
"Ini." Ucap Indah sambil meletakkan semangkok mie di meja.
Azka langsung memakan mie tersebut dengan sangat lahap
"Aku pergi dulu. Jika butuh sesuatu kirim pesan saja." Kata Indah sambip melangkah.
__ADS_1
"Ambilkan aku air." Pintanya sambil terus memakan mie tersebut.
Indah menghentikan langkahnya lalu menoleh. "Air ada di depan mu, tinggal kau ambil sendiri."
"Tuangkan air kedalam gelas ku."
Indah menghembuskan nafas nya dengan sangat kasar, lalu melangkah sambil menyentakkan kakinya dan bergumam.
Azka tersenyum melihat tingkah Indah yang menurutnya sangat lucu. Entah kenapa pagi ini marah Azka yang di sebabkam oleh Grace redah karena tingak lucu Indah.
"Kau adalah mainan baruku. Yang akan membuatku betah di rumah." Batin Azka.
Mengerjai Indah adalah hal baru baginya yang membuatnya begitu bersemangat.
"Ini." Indah mendekatkan segelas air kehadapan Azka. "Apa ada lagi?"
"Cuci piringnya." Titah Azka saat mie yang ia makan sudah habis tanpa tersisa sedikitpun. "Mie mu sungguh tidak enak. Tapi untung saja aku lapar jadi aku makan." Ucap Azka.
Setelah beberapa saat.
"Aku pamit. Piring sudah aku cici."
"Ya."
Akhirnya Indah bisa bernafas lega, karena setelah melewati drama pagi ini, ia akhirnya bisa keluar.
"Dia aneh pagi ini. Apa kepalanya sudah terbentur semalam" Batin Indah.
__ADS_1
Ponsel Azka terus berdering, namun Azka sama sekali tidak ingin menjawab. Ia malah sibuk memperhatikan Indah yang kini tengah memakai sepatu.
"Mau kemana dia?" Batin Azka.
Dan saat Indah keluar dari rumah, Azka pun ikut keluar mengikuti Indah tanpa sepengetahuan Indah sama sekali.
"Maaf Lukas aku telat." Ucap Indah saat bertemu dengan Lukas di halaman cafe.
Saat Indah berada di taxi ia sempat memberikan kabar kepada Lukas yang menyuruh Lukas untuk menunggunya di halaman saja.
"Jadi kita akan kemana?" Tanya Indah pada Lukas.
"Kerumah ku."
"Apa?"
"Ayo masuk." Pinta Lukas setelah membuka pintu mobilnya
Azka mengepalkan kedua tangannya saat melihat Indah yang tersenyum Indah pada Lukas. Pria yang telah menjadi saingannya.
"Indah, Lukas. Apa hubungan kalian berdua?" Gumam Azka sambil mengepalkan kedua tangannya.
Lalu tersenyum sinis. "Lukas apa begini caramu membalas dendam padaku? Sayang sekali kau salah. Indah hanya istri kontrak ku dan aku tidak mencintainya sama sekali." katanya menyakinkan dirinya jika tidak ada cinta antara dirinya dan juga Indah.
Lalu Azka mencap gas agar berlalu dari tempat tersebut.
Di sepanjang perjalanan, Azka terus membayangkan Indah dan juga Lukas sehingga membuat Azka menghentikan mobilnya secara mendadak, lalu membating setir full dan kembali menancap gas menuju cafe. Namun sesampainya Azka di sana, Azka sudah tidak melihat Indah maupun Lukas.
__ADS_1
Azka mengepal tanganya lalu memukul stir mobil dengan sangat keras
"Kemana kalian."