Indah Istri Yang Tak Dianggap

Indah Istri Yang Tak Dianggap
29


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti dengan bulan, tak terasa kini dua bulan lebih Indah menjadi istri dari Azka. Tiap hari Indah harus merasakan getir sakit hati, karena melihat sepasang suami istri yang begitu sangat mesrah di hadapannya, belum lagi hati Indah juga kembali sakit, dengan kata-kata pedis dari Bunda Azka yang terus di lontarkan tiap ia datang berkunjung. Perbedaan! Selalu saja Bunda Azka membedakan antara Indah dan juga Grace. Grace lebih ini lah, lebih itu lah, dan masih banyak sekali yang Bunda Azka katakan tanpa tahu perasaan Indah yang amat tersakiti akibat kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Indah hanya bisa sabar menghadapi cibiran, cacian bahkan hinaan. Karena Indah masih berharap, mungkin kelak mereka semua akan berubah dan sadar apa yang mereka lontarkan adalah kesalahan yang membuat orang mendengarkan merasakan sakit.


"Sampai kapan?" Tanya Dian menatap kasihan pada sahabat nya. "Sampai kapan kamu kau seperti ini Indah?"


"Aku tidak tahu." Jawab Indah


"Sampai hatimu hancur berkeping-keping? Atau bahkan sampai kamu tidak bernyawa baru kamu mau mundur dan menyerah?"


"Entahlah Di, aku juga tidak tahu kapan aku akan menyerah dengan semua ini."


"Indah." Dian menggenggam tangan Indah sambil menatap wajah Indah. "Ingat kamu hanya istri kontrak. Dan kamu bisa lari tidak perlu menetap tinggal disitu."

__ADS_1


"Kamu tahu sendiri kan Dian. Bagaimana perasaan ku pada Azka? Kamu jelas tahu kan, aku masih berharap jika Azka mau berubah dan meminta maaf padaku."


"Tapi sampai kapan Indah? Sampai kapan!?"


Indah menghela nafas, ia tidak tahu harus menjawab apa, yang ia tahu saat ini hanya bisa berharap pada Sang pemiliki hati, tetapkan hati Azka pada satu cinta, cinta kepadanya. Indah juga mengingat perkataan Ayah mertuanya beberapa hari setelah kejadian dimana Bunda Azka selalu menghina dirinya. Ayah Azka meminta pada Indah agar sabar dan mau bertahan dengan keadaan yang memang sangat sulit ini.


"Aku cuman bisa berdoa semoga keputusan mu dengan bertahan bisa membawakan hasil seperti yang kamu inginkan. Dan jika memang kamu tidak sanggup, datang padaku kita hidup bersama lagi seperti itu." Ucap Dian lalu memeluk tubuh Indah, mengusap pundak belakang Indah memberikan kekuatan. "Kamu harus kuat." Timpalnya.


"Makasih Di. Kamu emang sahabat terbaik ku" Ucap Indah.


"Wah wah wah wah." Ucap Bunda Azka sambil bertepuk tangan saat Indah masuk kedalam rumah. "Begini kerjamu? Kamu cuman bisa keluar keluyuran, dan melupakan tugasmu menjadi istri? Oh iya Bunda lupa, ternyata kamu buka istri sungguhan, kamu hanya istri kontrak!" Ejek Bunda sambil tersenyum sini.


Indah hanya bisa diam mematung, sungguh kata-kata yang terlontar itu sudah Indah anggap sebagai makanan, karena hampir tiap hari Indah dengar, jika sang mertua datang berkunjung

__ADS_1


"Kau itu! sudah miskin, kampungan dan kerjanya cuman bisa keluyuran, dan menghabiskan uang. Tidak seperti Grace, sudah cantik modis, kaya. Dan paling penting Grace baik, tidak kaya kamu"


"Maaf." Kata Indah sambil menunduk.


"Dasar kampungan, miskin." Bisik Bunda di telinga Indah. Lalu berjalan berlalu meninggalkan Indah yang terdiam mematung.


"Sabar, sabar, sabar Indah." Batin Indah


"Kuat, aku kuat." Ucapnya.


Lalu ponsel Indah berdering, Indah langsung menjawab saat tahu yang sedang menghubunginya adalah Lukas.


"Iya Lukas ada apa" Tanya Indah saat panggilan terhubung.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kau setuju bekerja di perusahaan ku?" Tanya Lukas, karena sudah lama ia mengajak Indah untuk menjadi sekretaris pribadinya.


__ADS_2