Indah Istri Yang Tak Dianggap

Indah Istri Yang Tak Dianggap
MENENTUKAN HARI PERNIKAHAN


__ADS_3

"Jadi kapan rencanan kalian akan menikah??" Tanya Bunda sambil menatap Indah dan Azka saling bergantian.


Indah langsung merasa kikuk. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Lalu Indah balik menatap Azka yanh berada di sampingnya.


"Terserah Bunda." Jawab Azka.


"Baiklah kalau begitu, minggu depan kalian akan menikah. Dan semuanua biar Bunda yang atur. Kalian berdua hanya menyiapkan diri saja." Ucap Bunda dengan sangat senang. Karna sebentar lagi Azka akan menikah dengan kekasihnya, dengan gadis yang Bunda nya sukai.


"Indah sayang, percayalah sama Bunda, Bunda akan membuat hari pernikahan mu sangat istimewa dan megah"


"Bunda.." Panggil Indah


"Ada apa sayang?"


"Aku ingin pernikahan ku dengam Azka hanya di adakan dengan biasa-biasa saja. Hanya di hadiri oleh keluarga."


"Tapi sayang, ini adalah pernikahan yang pertama dan untuk yang terakhir bagi kalian, jadi Bunda ingin membuat acara yang tidak bisa untuk dilupakan."


"Bunda, tapi Indah belum siap tampil di muka umum. Bagaimana kalau kita tunggu Indah sampai siap." Jelas Azka membuat Bunda nya terdiam sesaat.


Bunda mendekat ke arah Indah lalu menggenggam erat tangan Indah. "Apa betul kau belum siap sayang?" Tanya nya.


"Maaf Bunda. Hanya saja aku seorang yatim piatu, dan aku tahu betul posisiku Bunda. Aku tidak ingin membuat keluarga Bunda malu dengan pernikahan ini."


"Sayang jangan berbicara seperti itu. Bunda tidak pernah memandang seseorang dari mana ia berasal dan berapa banyak ia punya kekayaan. Karna kita semua sama di mata sang Pencipta."


"Andai Bunda tahu jika ini hanya pernikahan kontrak saja, pasti Bunda akan sangat marah padaku." Batin Indah.


"Tapi Bunda-,"


"Kita hargai keputusan Indah. Biarkan dia menyiapkan diri. Yang penting mereka sudah menikah dulu, soal resepsi nya itu urusan belakang" timpal ayah Azka.


"Baiklah, kalau begitu Bunda akan mengatur semuanya. Jadi minggu depan kalian akan menikah"


Setelah cukup lama bercengkrama dengan orang tua Azka, kini Indah pamit pulang. Azka menggenggam tangan Indah lalu pamit kepada Bunda serta ayahnya, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Indah yang di genggam tangannya merasa geli, karna ini yang pertama kali bagi dirinya di genggam oleh seorang pria.


Namun Indah tetap tersenyum agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Hanya ada keheningan setelah keduanya kini berada di atas mobil. Indah menatap keraha jendela kaca mobil memperhatikan jalan, pikir Indah pasti Azka akan mengantarnya pulang karna Azka sudah tahu di mana alamat tempat Indah tinggal. Namun pikiran Indah salah, saat setelah mobil tiba-tiba berhenti.


"Turun!" Titah Azka tanpa melihat Indah.

__ADS_1


"Turun kataku." Ulang Azka karna Indah hanya diam sambil memperhatikannya.


"Tapi kan, rumahku masih jauh."


"Turun!" Ulang Azka dengan suara tegasnya.


Tanpa bertanya lagi Indah langsung keluar dari mobil, membuka pintu mobil dan lalu menutup kembali pintu mobil dengan sangat keras. "Dasar laki-laki aneh!" Umpat Indah tanpa memperdulikan orang di sekitar.


Azka langsung melajukan mobil nya tanpa memperdulikan Indah yang berteriak keras kepadanya.


"Benar-benar aneh! Tega sekali menurunkanku di tengah jalan seperti ini. Mana uangku sudah tidak ada lagi untuk ongkos pulang"


Indah berjalan menuju halte terdekat sambil menyentakkan kakinya. Sepanjang berjalan, Indah terus mengumpat, mulutnya berkumat kamit membuat seseorang yang berada di atas tersenyum melihat tingkah Indah.


Yah dia adalah Lukas, ia terus tersenyum melihat Indah yang sejak tadi mengumpat. Rizal yang berada di balik kemudi mobil terus memperhatikan Tuan nya.


"Apa mungkin Tuan kesurupan? Kok senyum-senyum sendiri?" Gumamnya. "Tuan, tuan." Panggil Rizal membuat Lukas berhadem dan kembali menatap layar iPad nya.


"Apa saya harus turun Tuan?" Tanya Rizal sambil menatap kaca spion tengah, agar bisa secara langsung melihat wajah Tuannya.


"Tidak usah, cukup amati saja dari sini."


Stengah jam berlalu, Indah masih tetap berada di posisinya. Begitupun dengan Lukas, ia terus melihat Indah dari jauh. Seperti pengagum rahasia.


"Sepertinya kita harus memberikan tumpangan pada gadis itu."


"Haruskah?"


"Yah, karna mungkin gadis itu tidak memiliki ongkos untuk pulang." Jawab Rizal.


Lukas berfikir, mungkin kah ini waktunya ia berkenalan dengan gadis yang bisa membuatnya tersenyum? Dengan gadis yang bisa membuat jantung nya berdetak tak karuan? Mungkinkah?


Setelah berpikir, Lukas memutuskan untuk menghampiri Indah yang kini sedang duduk seorang diri di halte bis.


Hhhmm, dengan sangat grogi Lukas berhadem agar Indah bisa menoleh padanya, namun percuma, Indah masih tetap dengan posisinya.


Rizal yang melihat tuannya hanya bisa menepuk jidatnya karna Tuannya terlalu kaku.


"Apa aku boleh duduk di sini?" Pinta Lukas sambil menunjuk tempat duduk di sisi kiri Indah.


Indah menengok lalu menatap kursi yang ada di sampingnya. "Kenapa harus minta izin? Ini kah kursi umum, semua orang bisa duduk di sini." Jawab Indah membuat Lukas semakin grogi.

__ADS_1


"Lukas." Lukas mengulurkan tangannya, mengajak Indah untuk berkenalan.


"Indah."


"Nama yang cantik, secantik orangnya." Gumam Lukas.


Indah tertawa mendengar Lukas bergumam. "Kau orang pertama yang bilang namaku cantik secantik diriku."


"Benarkah?"


"Sungguh"


___________


"Kenapa kau sangat lama sekali sayang?" Tanya Grace saat Azka berkunjung ke apartemennya. "Kau tahu kan kalau aku sengaja mengosongkan jadwal ku hari ini karna hanya ingin berdua denganmu."


Grace kembali mengalungkan kedua tangannya di leher Azka. Azka langsung memengang pinggang Grace..


"Maaf sayang, tadi Bunda-,


"Apa wanita itu sudah bertemu dengan Bundamu? Lalu kapan kalian akan menikah?"


"Minggu depan. Bunda yang mengatur semuanya."


"Kalau begitu nikahi aku sebelum kau menikahi wanita itu." Pinta Grace sambil memeluk Azka.


"Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu. Dan aku takut kau meninggalkan ku." Ucap Grace dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis nya.


"Aku pun sama." Jawab Azka.


"Sayang, apa boleh aku bertemu dengan wanita itu?"


"Untuk apa?" Tanya Azka sambil menangkup kedua pipi Grace.


"Aku hanya ingin bertemu saja." Jawab Grace namun Azka hanya diam. "Boleh kan sayang?"


"Untukmu. Apapun itu pasti boleh sayang"


"Makasih."


Grace tersenyum penuh arti. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang akan di nikahi oleh kekasihnya dan ia pun tidam sabar akan memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk calon istri dari kekasihnya itu.

__ADS_1


__ADS_2