
"Untukmu yang lagi bersedih." Kata Lukas sambil memberikan sebatang cokelat ke hadapan Indah.
Indah menoleh ke samping, melihat Lukas tangah duduk tepat di sampingnya. "Sejak kapan kau berada di sini?" Tanya Indah, "Dan aku sedah tidak bersedih." Elaknya
"Sejak gadis cantik yang ada di hadapan ku duduk disini. Jadi akupun ikut duduk di bangku ini. Ouh yah, dan satu lagi. Wajahmu sangat cantik, sayang jika kau bersedih seperti itu"
"Aku sedang tidak bersedih. Aku hanya sedang melamun disini."
"Okey fine. Aku percaya denganmu"
Lukas diam tidak berkata lagi. Sesekali ia melirik memperhatikan Indah yang masih setia duduk di bangku taman. "Siapa yang membuat mu seperti ini? Andai kau mau bercerita kepadaku, aku pasti akan mencarikan mu jalan keluarnya." Batin Lukas.
"Aku ingin bertanya padamu" ucap Indah
"Apa?"
"Kenapa kau selalu ada di saat aku sedang sendiri? Hhmm?"
"Mungkin karna kita jodoh. Jadi Tuhan selalu mempertemukan kita."
Hahahahh jodoh? Indah berpikir masih adakah saat ini jodoh untuknya? Dia sudah menjadi milik orang, yah walaupun itu cuman sampai setahun lamanya.
"Kenapa diam?" Tanya Lukas.
"Hahahahaha kau lucu. Hari ini masih percaya dengan jodoh."
"Aku percaya! Dan aku berharap kalau kau adalah jodohku."
"Apa aku boleh meminta padamu?" Ucap Indah sambil menatap wajah Lukas.
"Kau ingin meminta aku menjadi suamimu? Baiklah aku mau."
"Ngaco!" Indah memukul bahu Lukas dengan sangat kerasnya. Membuat Lukas meringis lalu kemudian tertawa, membuat Indah juga ikut tertawa.
Dan tanpa Indah tahu, ternyata Azka memerhatikan dirinya dari jauh. Yang seperginya Indah tadi dari kantornya. Sekretaris Azka menyerahkan kotak bekal dan berkata jika yang mengantar bekal baru saja pergi dengan wajah sedih. Azka yang penasaran siapa yang membawakan nya bekal langsung berjalan dengan cepat keluar dari kantor. Meninggalkan Grace di ruangannya seorang diri.
"Apa dia pacar Indah?" Gumam Azka.
__ADS_1
Azka tidak melihat jelas wajah pria yang bersama dengan Indah tadi. Yang Azka lihat Indah hanya tertawa bahagia bersama dengan pria yang mungkin adalah pacar Indah. "Aku yakin bukan Indah yang membawa bekal itu." Gumamnya dan kembali berjalan menuju ruangannya.
"Ternyata dia hanya wanita yang bersembuyi di balik wajah polosnya."
_____
"Lukas aku serius, jadi stop tertawa."
"Iya, iya, katakan apa permintaanmu?"
"Jadilah teman ku."
"Teman? Kau yakin?"
"Iya."
Lukas menunduk di dalam hati ia bersedih karna Indah hanya ingin menjadikan nya sebagai teman saja. Padahal Lukas berharap Indah meminta lebih dari sekedar teman. Bolehkah Lukas berharap jika Indah mengubah permintaannya dan meminta dirinya menjadi kekasih, atau bahkan meminta dirinya menjadi suami Indah. Mungkin jika Indah meminta itu, Lukas langsung berkata "ya" tanpa memikirkan terlebih dahulu. Karna jujur Lukas begitu jatuh hati kepada sosok Indah yang sangat sederhana dan selalu tersenyum.
"Kenapa kau diam? Kau tidak ingin menjadi temanku?" Tanya Indah
Lukas tersenyum lalu berkata. "Bisa kah kau meminta hal lain dari pada itu? Karena tanpa kau minta pun aku ini sudah menjadi temanmu." Lukas mengacak rambut Indah secara asal membuat Indah terdiam menatap tajam pada Lukas.
"Suatu saat aku ingin cerita masalah ku kepadamu. Dan aku harap kau siap menjadi pendengar setiaku."
"Tentu. Kapan pun itu aku siap."
__________
Indah menatap malas pada tiker liburan untuk berbulan madu yang di hadiahkan oleh Bunda Azka untu dirinya dan juga Azka. Awalnya Indah menolak, namun Bunda sudah terlanjur memberikan tiket itu kepada dirinya. Dan yang lebih membuat Indah tidak bersemangat, yaitu kata mertuanya. Yang ingin segerah memiliki cucu. Terus terang Indah merasa kasihan kepada Bunda, karna berharap pada dirinya untuk memberikan seorang cucu. Padahal jelas sekali dirinya hanya istri kontrak dan tidak akan mungkin bisa melahirkan seorang anak. Terlebih lagi di dalam kontrak jelas sekali tertulus bahwa mereka berdua tidak boleh saling bersentuhan, apalagi sampai memiliki keturunan. Tidak mungkin!
Hhmm Azka berhadem saat dirinya telah masuk kedalam kamar dan mendapati Indah yang kini sedang termenung sambil menatap tiket yang berada di atas meja.
"Kau sudah pulang? Sini lihatlah." Indah menarik lengan Azka dan memperlihatkan dua tiket untuk bulan madu mereka.
"Tiket?"
"Iya tiket" ulang Indah.
__ADS_1
Azka cuek dan langsung berjalan sambil melepaskan dasinya dan meletakkan nya ke sembarang tempat.
"Kenapa kau santai sekali? Kau tidak tahu itu tiket apa?" Indah kembali menarik lenga Azka agar Azka kembali melihat tiket tersebut.
"Aku sudah tahu! Memang kenapa?"
"Kau tanya kenapa? Apa kau tidak keberatan untuk pergi berliburan dan berbulan madu? Kau ingat kita cuman nikah kontrak dan tidak mungkin-,"
"Aku tidak mungkin menyentuhmu. Karna kau bukan tipe ku" Azka melangkah menjauh dari Indah.
"Santai sekali kau berbicara"
________
"Semoga dengan bulan madu ini, kalian berdua bisa memberikan cucu untuk Bunda dan juga Ayah. Bunda berharap kalian bisa menikmati masa bulan madu kalian." Ucap Bunda tulus.
"Jaga Indah dengan baik." Pinta Ayah.
"Baiklah kalau begitu kami pamit"
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sejam, kini Indah dan Azka telah tiba di salah satu vila milik Azka. Indah yang sejak tadi terdiam kini menatap takjub pada kemewahan vila yang kini mereka tempati. Dan ketakjuban Indah berubah saat melihat sosok wanita yang begitu sangat cantik dan sempurnah mendekat ke arah Azka.
"Kau sudah sampai sayang? Bagaimana perjalananmu?" Tanya wanita itu dengan suara lembutnya sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Azka.
"Aku merindukan mu" ucap Azka lalu mengecup singkat bibir Grace
Indah langsung paham dan yakin jika wanita itu adalah kekasih Azka. Saat Indah hendak mencoba pergi dari sana, karna tidak ingin menjadi anti nyamuk bagi keduanya, namun Grace memanggil dirinya. Membuat Indah batal melangkahkan kakinya
"Indah." Grace berjalan mendekat ke arah Indah
"Kenalkan aku Grace, kekasih Azka." Ucapnya dengan senyum lalu mengulurkan tangannya.
"Indah. Dan sepertinya kau sudah tahu siapa aku." Balas Indah sambil berjabat tangan dengan Grace.
"Yah aku sudah mengenalmu dan aku harap kau bisa mengerti dengan posisimu."
"Tentu! Dan aku harap kau juga mengerti dengan posisimu" Balas Indah lalu pergi menjauh dari pada nanti Indah kepanasan menghadapi wanita yang bernama Grace itu.
__ADS_1
"Dasar laki-laki kadal. Sudah memiliki kekasih tapi malah mengajak ku nikah kontrak. Kenapa tidak mengajak lekasihnya menikah saja? Kenapa harus aku yang ia ajak menikah? Dasar kadal aneh!" Umpat Indah.
"Hatiku, tolong jangan buat aku malu. Jangan merasa sakit hanya karna sepasang kekasih itu. Ingat hati, kau itu milikku bukan milik kadal aneh itu. Jadi stop merasakan sakit." Indah mengusap da-da nya. Entah kenapa hatinya selalu merasakan sesak dan sakit ketika berhubungan dengan Azka.