Indah Istri Yang Tak Dianggap

Indah Istri Yang Tak Dianggap
39


__ADS_3

"Dimana dia?" Teriak Azka tanpa memperdulikan semua mata yang menatap dirinya.


Azka berjalan tegap, masuk kedalam perusahaan milik Lukas.


"Maaf anda di larang masuk!" Tegur Rizal sambil menahan tubuh Azka agar tidak masuk kedalam ruangan Lukas.


"Lepaskan!" Kata Azka sambil menghempaskan tubuh Rizal, setelah itu Azka langsung membuka pintu ruangan Lukas.


"Lukas!" Teriak Azka memanggil


"Maaf Tuan tadi saya sudah-," Ucap Rizal terpotong kala Lukas memberikan kode untuk Rizal agar keluar dari ruangannya.


Rizal keluar lalu menutup pintu dan kemudian Azka maju mendekat kearah Lukas.


Azka mencengkram kera kemeja Lukas dengan keras. Namun Lukas tak menepis, ia hanya tersenyum sinis melihat Azka yang berada tepat di hadapannya.


Bukkkhhh.


Satu bongeman mentah mendarat dipipi kiri Lukas.


Dan saat Azka kembali hendak ingin memukul, Lukas lalu dengan sigap menahan tangan Azka

__ADS_1


"Kau cemburu?" Tanya Lukas dengan senyum terukir di wajahnya.


Entah kenapa ada perasaan bahagia melihat Azka cemburu padanya. Setidaknya Azka tahu apa yang dulu di rasakan oleh Lukas saat Azka merebut kekasih Lukas.


"Cemburu?" Ulang Azka. "Tidak aka kata cemburu dalam kamus hidupku." Ucapnya dengan lantang.


Lalu Lukas mendorong tubuh Azka agar menjauh dari tubuhnya. Kemudian Lukas duduk di sofa.


"Lalu untuk apa kau kesini jika tidak cemburu?" Tanya Lukas dengan santai sambil memainkan pulpen di tangan kanannya.


Azka terdiam mendengat pertanyaan dari Lukas.


"Duduklah dulu. Kita bisa membicarakan hal ini dengan santai." Kata Lukas.


"Milikmu? Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Lukas membuat Azka menggebrak meja yang ada di hadapannya.


"Lukas!!" Teriak Azka.


"Bukan kah kalian menikah hanya sebatas hitam di atas putih? Itu artinya Indah bukan milikmu seutuhnya bukan?"


"Lukas jangan bermain-main dengan ku kalau tidak?"

__ADS_1


"Kenapa? Kau ingin mengancamku? Hahahha Azka itu tidak akan mempan bagiku." Ejek Lukas. Lalu Lukas mengeluarkan selembar kertas dan menulis jumlah uang di atas kertas itu.


"Ambil ini, dan bebaskan Indah dari dekapanmu." Azka memberikan kertas cek pada Azka yang nominalnya sepuluh kali lipat dari utang Indah.


"Apa ini?"


"Kau lihat sendiri bukan? Itu 10 kali lipat dari utang kerusakan mobilmu. Bebaskan Indah biarkan ia hidup bahagia dengan pilihannya."


"Tidak!" Teriak Azka lalu berdiri dari duduknya dan merobek cek tersebut hingga menjadi potongan kecil. "Jangan harap kau bisa mengambil milikku." Tegas Azka lalu berjalan keluar dari ruangan Lukas.


"Kau pengecut Azka." Teriak Lukas membuat Azka berhenti melangkah. "Kau pengecut! Jika kau mencintai Indah harusnya kau bahagiakan dia. Jangan jadi pengecut yang membohongi dirimu sendiri. Kalau kau seperti ini, maka jangan salah kan aku jika aku merebut Indah darimu."


"Jangan pernah bermimpi Lukas." Ucap Azka lalu keluar dari ruangan Lukas dengan menutup pintu sangat keras.


"Dasar egois. Lihat saja, kau akan menyesal jika terus menjadi seorang pengecut yang selalu membohongi diri sendiri." Gumam Lukas.


......


Di sepanjang perjalanan pulang, Azka terus memikirkan perkataan Lukas. Benarkah dirinya adalah seorang pengecut? Tidak mungkin, dirinya bukanlah pengecut.


Azka mencengkram kuat stir mobil. Lalu teriak "ahhhhh" mengeluarkan emosi yang ada dalam dirinya .

__ADS_1


"Tidak akan aku biarkan kau mengambil Indah dariku." Teriak Azka.


__ADS_2