Indah Istri Yang Tak Dianggap

Indah Istri Yang Tak Dianggap
58


__ADS_3

"Dian kau baik-baik saja?" Tanya Azka. Membuat Dian kaget setengah mati.


Azka tiba-tiba muncul menanyakan Dian yang terlihat sangat gelisah.


Dian langsung buru-buru mematikan ponselnya.


"Suara itu. Suara itu, bukan kah itu Azka." Ucap Indah.


Indah duduk di tepi ranjang, saat setelah mendengar suara dari seseorang yang ia hafal betul siapa. Seketika kaki Indah melemas. Ketika apa yang selama ini, berusaha ia lupakan kembali muncul dengan sangat cepat.


"Pangeran." Ucap Indah dan langsung berbaring tepat di samping Pangeran, dan memeluk tubuh Pangeran. Indah takut jika Azka tahu yang sebenarnya, dan akan mengambil Pangeran dari sisinya. Membayangkan saja Indah tidak sanggup apa lagi jika itu menjadi kenyataan. Karena Pangeran lah yang menjadi sumber kekuatan bagi Indah selama ini.


"Pangeran, kau anak mommy. Kau sumber kekuaran mommy. Jangan pernah tinggalkan mommy sayang." Lirih Indah dengan air mata yang sudah menetes membasai pipi dan bantal.


•••••••


"Apa yang kau lakukan?" tanya Dian dan langsung memasukkan ponsel milik nya di dalam saku celananya agar Azka tidak merampas ponsel miliknya.


"Aku tanya kau kenapa?" Ulang Azka sambil berjalan maju selangkah demi selangkah mendekat ke arah Dian. Azka memicingkan matanya menatap Dian yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu dan terlihat jelas jika sedang gelisah. "Siapa yang kau hubungi?" tanya Azka saat sudah berdiri tepat di hadapan Dian

__ADS_1


"Apa urusanmu? Dan kenapa kau masuk tanpa permisi?" tanya balik Dian sambil berjalan mundur.


"Apa kau menghubungi Indah?" Tanya Azka.


"Ti-tidak" Ucap Dian dengan terbata membuat Azka yakin jika memang tadi Dian sedang menghubungi Indah. Dan maka dari itu saat Azka masuk, Dian langsung mematikan ponselnya dengan cepat.


"Dian. Kumohon berikan nomer ponsel Indah padaku. Please Dian." Azka memohon pada Dian, karena yakin kalau Dian memang menyimpan nomer ponsel Indah.


"Sudah aku katakan. Aku tidak tahu, dan tidak punya sama sekali nomer ponsel Indah. Kalau pun aku tahu, aku pasti akan menelpon nya dan menanyakan kabar nya. Beserta kabar a..." Dian menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Hampir saja Dian keceplosan mengatakan anak di hadapan Azka. Untung saja.


"A... Maksud kamu?" tanya Azka.


"Kumohon berikan padaku Dian. Aku janji tidak akan menyakiti Indah. Aku hanya ingin tahu kabar Indah dan hanya ingin meminta maaf langsung padanya."


"Azka sudah aku bilang tidak ada. Kenapa kau sama sekali tidak percaya padaku?"


"Karena aku yakin kau berbohong padaku."


"Jangan memaksa jika Dian tidak ingin memberikannya." Ucap tegas seseorang pria yang baru saja masuk kedalam cafe

__ADS_1


Serentak Dian dan juga Azka menoleh ke arah sumber suara.


"Lukas." Ucap Dian.


"Lukas." Kata Azka dan langsung berjalan ke arah Lukas, begitupun Lukas, ia juga berjalan menuju Azka.


"Lukas.. Katakan padaku, dimana Indah berada." Ucap Azka saat berhadapan dengan Lukas.


"Untuk apa? untuk menyakiti Indah lagi? atau untuk mengkroyok Indah lagi dengan ibu dan juga istri mu?"


"Tidak Lukas." Bantah Azka.


"Jangan pernah munculkan wajahmu di hadapan Indah, karena itu hanya akan membuat Indah menjadi mengingat masa kelam nya."


"Lukas. Katakan di mana Indah."


"Ck. Bahkan hingga kiamat tiba aku tidak akan mengizinkan mu bertemu dengan Indah."


"Lukas, kau lupa jika kita berteman"

__ADS_1


"Teman?" Ulang Lukas. "Bahkan kau sendiri yang sudah membuang ku. Dan sekarang kau sebut kita teman? sungguh aneh dirimu Azka."


__ADS_2