
Azka tersenyum melihat Ryan yang sudah siap untuk berkelahi dengan dirinya.
"Kau hanya bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa."
"Kau! Cihhh.. Dasar. Lihat saja, nanti kau akan menyesal telah menyakiti Indah. Dan saat waktu itu tiba, aku hanya bisa menertawakan mu."
"Menyesal? Tidak ada kata menyesal dalam kamus ku."
"Kau memang breng*sek. Aku sudah jatuh cinta pada kak Indah sejak SMP, tapi kak Indah jatuh cinta padamu, hanya karena pernikahan kontrak kalian. Tapi lihat saja. Setelah apa yang kamu lakukan pada kak Indah, aku Ryan, tidak akan tinggal diam."
"Kau hanya bocah. Jadi pulanglah sebelum aku memanggilkan kamu polisi."
"Kau kira aku takut, haa?" Tanya Ryan sambil menaikkan jari tengahnya memperlihatkan pada Azka.
Azka tidak menggubris Ryan, sehingga membuat Ryan semakin emosi.
Dan bukkkhhh, satu bomengan mentah mendarat di pipi Azka. Azka yang tidak terima langsung membalas pukulan Ryan.
Dan terjadilah saling pukul antara Ryan dan juga Azka. Hingga beberapa saat kemudian Dian, kakak Ryan datang memisahkan mereka. Begitupun juga dengan Grace.
"Sayang sudah." Kata Grace sambil menarik tubuh Azka.
"Ryan sudah dek. Sudah." Dian menarik tubuh Ryan agar tidak lagi melawan Azka karena jika terus seperti ini bisa-bisa Ryan akan di larikan ke rumah sakit
__ADS_1
Karena jelas sekali jika di lihat dari wajah mereka, Ryan kalah. Wajah nya babak belur tidak seperti Azka yang hanya lecet sedikit.
"Kalian itu. Dasar kalangan bawah, selalunya cari masalah." Ucap Grace
"Apa kau bilang? Bukan kami kalahan bawah, tapi kamu!" Tunjuk Dian pada Grace.
"Kau .." Grace ingin maju, namun Azka menahan dirinya.
"Apa? Kau berani haa?" Dia maju selangkah namun Ryan langsung menahan tubuh kakaknya. Agar tidak terjadi pukul memukul antara Dian dan juga Grace.
"Keluar kalian!" Bentak Azka. "Ku ingatkan sekali lagi kalian datang maka aku tidak akan segan-segan menghancurkan kalian." Ancam Azka.
Dan penjaga masuk kedalam untuk menyeret Ryan dan juga Dian.
"Kau akan menyesal Azka." Teriak Dian. "Kau akan menyesal jika tahu kebenarannya."
"Dari mana saja kau?" Jawab Azka dengan sebuah pertanyaan.
"Aku? Aku habis mengantar Bunda." Jawab Grace.
"Bohong. Kau bohong padaku Grace." Azka menghentikan langkahnya lalu menatap tajam pada Grace. "Katakan dari mana saja?"
Grace terdiam sejenak ia berfikir alasan apa yang pas untuk dikatakan agar Azka tidak marah kepada dirnya.
__ADS_1
"Sayang maaf. Tadi sehabis mengantar ibu aku jalan-jalan sebentar."
"Kemana?"
"Hhhh, itu aku ke..."
"Tidak usah di jawab." Azka lalu meninggalkan Grace yang terdiam mematung.
"Apa Azka tahu aku dari mana?" Batin Grace
"Jangan sampai Azka tahu. Bisa-bisa tamat riwayat ku."
"Azka..." teriak sang Ayah yang sangat murkah saat mengetahui bahwa Indah telah keluae dari rumah.
"A-ayah." Ucap Grace, namun Ayah Azka tidak menjawab ia melewati Grace tanpa sepatah katapun.
"Kenapa kau seperti itu? Kenapa Azka?" Tanya sang Ayah saat sudah berada di hadapan Azka.
"Ayah belum tahu saja kalau Indah itu."
Plakkkk. Sang Ayah menampar pipi kiri Azka
"Kau telah membuang berlian hanya demi batu kali." Ucap sang ayah.
__ADS_1
"Apa maksud ayah?"
"Ayah kecewa dengan mu Azka. Kau sangat bodoh dalam memilih pilihan."