Indah Istri Yang Tak Dianggap

Indah Istri Yang Tak Dianggap
51


__ADS_3

Iklas. Satu kata yang sangat gampang untuk di ucap, namun sangat sulit untuk di terapkan dalam diri.


Rela. Juga satu kata yang sangat gampang untuk di ucap, namun sangat sulit diterapkan dalam diri kita. Rela! Apa kalian bisa rela dengan cepat jika kehilangan sesuatu? Tentu pasti tidak. Karena semua butuh waktu. Waktu yang akan mengubah semuanya. Rela menjadi iklas, iklas menjadi bahagia. Karena jika kita menerapkan kata-kata itu dalam diri kita, pasti kita akan hidup bahagia. Iklas dan rela menjalani ketetapan dari sang pemilik skenario.


"Pa.. pa.. pa..." Celoteh pangerang sambil menggigit-gigit jari nya.


"Sayang, Paneran ibu." Ucap Indah sambil bertepuk tangan di hadapan Pangeran.


"Pa.. pa.. pa."


"Sayang papa sedang bekerja. Pangeran cari pa papa yah?"


Pangeran lantas tertawa. Menampilkan dua gigi depan nya yang terlihat sangat lucu sekali. Wajah Pangeran sangat gagah dengan lesung pipi di sebelah pipi kirinya.


Indah mengambil tubuh Pangeran dan langsung menggendong nya.


"Kita tunggu papa yah sayang."


_____


Penyesalan. Satu kata yang sungguh banyak manusia yang ingin menghindarinya. Penyesalan tidak terjadi di awal melainkan terjadi di akhir setiap kita melakukan sesuatu. Penyesalan sungguh sangat menyiksa hati dan mungkin jiwa dan raga kita, saat sesuatu terjadi dan kita baru menyesal saat semua telah hilang.


"Di mana kamu Indah. Apa ini karma yang telah aku terima karena perbuatan ku padamu dahulu." Sesal Azka sambil memikirkan perilakunya terhadap Indah selama ini.


Terhadap perempuan yang yang telah sabar dengan perlakuan kasarnya. Perempuan yang selalu tabah dalam setiap apa yang Azka perbuat.


"Apa kamu baik-baik saja Indah." Gumam Azka.

__ADS_1


"Di mana Grace?" Tanya Bunda membuat Azka tersadar dari lamunannya.


"Aku tidak tahu Bun." Jawab Azka pasrah, karena memang Azka tidak tahu di mana Grace saat ini.


"Azka kamu kenapa begitu? Kenapa kami sangat lemah menghadapi istrimu. Lihat! Dia jadi seenak jidat bertingkah."


"Bun. Bukan kah Bunda yang memberikan keluasan pada Grace. Bukan kah Bunda yang berjanji dulu, akan memberika Grace jalan nya sendiri. Lalu kenapa Bunda menyalahkan aki sekarang?" Kesal Azka.


"Kenapa kamu malah menyalahkan Bunda."


"Untuk apa kalian saling menyalahkan." Timpal Ayah Azka berjalan mendekati Gisella sambil tersenyum. "Bukan kah kalian berdua yang sudah mengambil jalan ini? Lebih baik kalian nikmati saja apa yang telah kalian pilih ini."


Ayah Azka duduk tepat di samping brangkar Gisella, memandang wajah Gisella yanh tertidur dengan pulas dengan tangan yang sedang di infus.


"Malang sekali nasib mu sayang. Tapi saya berjanji akan membiayaimu hingga dewasa." Gumam Ayah Azka sambil mengusap lembut pipi Gisella.


"Apa maksud dari ucapan ayah?" Tanya Bunda Azka.


"Jelaskan."


"Kalau mau tahu kebenarannya coba tes DNA Gisella dengan Azka." Ucap ayah Azka lalu berdiri dari duduknya.


Azka dan juga Bunda terdiam sesaat


"Jika kalian tahu hasilnya, jangan kaget. Dan nikmati apa yang telah kalian tanam." Ayah Azka berlalu dari kamar inap Gisella, meninggalkan Azka dan juga Bunda yang terdiam saling menatap satu sama lain. Mencerna ucapan yang baru saja ia dengar.


Seketika Azka berlari keluar dari dalam kamar dan menyusul sang ayah.

__ADS_1


"Ayah. Ayah." Panggil Azka membuat sang ayah berhenti melangkah.


"Katakan apa maksud ayah?"


"Lakukan tes DNA. Dan lihat sendiri hasilnya." Ucap ayah Azka sambil menepuk punda Azka. "Siapkan diri mu nak. Dan apapun yang terjadi kamu harus menerima Gisella dengan lapang dada."


......


"Hay Pangeran. Bagaimana kabarnya hari ini. Tau ngak Daddy kanget banget loh sama Pangeran." Kata Lukas sambil menggendong tubuh Pangeran dan terus mencium pipi gembul pangeran.


"Lukas, hati-hati nanti Pangeran menangis." Tegus Indah.


"Tidak mungkin. Pangeran menyukainya, dan aku sangat rindu dengan Pangeran." Lukas berlari membawa Pangeran mengelilingi seisi rumah, membuat Pangeran tertawa dengan terbahak-bahak.


Indah terus mengikuti Lukas yang terus membawa Pangeran berlari.


Semua pembantu yang berada di rumah itu ikut tersenyum senang melihat kedua majikan mereka yang terlihat sangat harmonis.


"Aku berharap nyonya dan tuan segerah menikah." Ucap salah satu pembantu.


"Kita doakan yang terbaik. Semoga keduanya bisa hidup bahagia selamanya."


Karena sudah merasa lelah, Indah berhenti mengejar Lukas. Namun setelah itu Lukas pun juga berhenti dan langsung membaringkan tubuhnya di atas karpet. Pangeran berada di atas tubuh Lukas.


"Pa. Pa. Pa." Ucap Pangeran.


Indah langsung mendekat dan mencubit pinggang Lukas.

__ADS_1


"Kau membuat aku kelelahan karena mengejar mu"


Dan semua nya serentak tertawa.


__ADS_2