
Dua tahun berlalu...
Hidup bagaikan roda yang terus berputar. Kadang kita berada di depan, di tengah dan bahkan di belakang. Jangan berbangga hati jika kau berada didepan dan jangan berkecil hati jika sedang berada paling di belakang. Dan jika sedang berada di tengah, tetap lah berjuang untuk maju hingga pada titik terdepan.
Hari-hari yang di lalui oleh Azka tidak lah mudah selama setahun belakangan ini. Hidupnya kacau, untung saja ada malaikat kecil yang selalu membuat hatinya selalu tenang, damai dan terasa sejuk jika melihat wajah malaikat kecilnya.
Setiap hari, Grace dan juga Azka selalu saja berdebat, membuat keduanya tidak pernah akur sama sekali. Terlebih lagi Grace ingin hidup bebas, ia melupakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri dan juga sebagai seorang ibu. Grace jarang sekali menjaga ataupun merawa anak nya. Ia lebih memilih untuk berfoya-foya di luar sana.
"Grace, jangan pergi, Gisella sedang demam. Sebaiknya kita bawa kedokter dulu." Pinta sang Bunda sambil menggedong Gisella, cucu yang selama ini ia nantikan.
"Bunda saja yang bawa dia ke dokter. Aku sibuk." Kata Grace sambil berdiri di hadapan cermin. Pemperhatikan penampilan nya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Tapi Grace. Gisella butuh ibunya."
"Bunda!" Bantah Grace. "Bukan kah bunda butuh seorang cucu? lihat!" kata Grace sambil menunjuk Gisella yang berada di dalam gendongan Bunda. "Aku sudah memberikan seorang cucu. Jadi Bunda rawat saja dia, jangan ikut campur soal aku lagi." Ucap Grace dengan sangat keras lalu pergi meninggalkan Bunda dan juga Gisella yang terus saja menangis.
"Astagfirulla Grace." Ucap Bunda. "Yang sabar yah sayang, kita telpon Dady mu dulu." Bunda terus saja menimang Gisella agar berhenti menangis namun usahanya sia-sia.
Demam Gisella pun semakin tinggi, membuat Bunda langsung membawanya ke rumah sakit. Azka yang sudah mendapat kabar dari Bunda nya langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
__ADS_1
"Bunda bagaimana keadaan Gisel?" tanya Azka yang baru saja tiba.
Terlihat jelas sekali wajah Azka terlihat sangat panik.
"Masih demam. Tapi sekarang sudah tidur." Kata Bunda yang masih duduk setia di samping brangkar Gisella.
"Azka. Apa ini adalah balasan dari dosa kita?" Tanya Bunda dengan lirih. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Bunda terus menatap wajah sang cucu yang tertidur pulas. Wajah yang sangat jauh berbeda dengan putranya.
"Maksud Bunda?"
"Lupakan saja."
"Dimana Grace ?" Tanya Azka karena tidak melihat Grace di ruangan tersebut.
Azka langsung meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Grace, namun beberapa kali Azka mencoba menghubungi namun tetap saja Grace tidak menjawab. Membuat Azka sangat marah sehingga mengepalkan kedua tangannya.
"Apa Grace tahu jika Gisel sakit?" Tanya Azka.
"Iya nak. Tadi Bunda yang meminta Grace untuk mengantar tapi Grace menolak."
__ADS_1
Kemarahan Azka semakin memuncak. Ia tidak menyangkah sama sekali dengan kelakuan Grace yang menomor sekiankan anaknya sendiri. Grace benar-benar tidak bisa berubah, ia lebih mementingkan dunia nya dari pada keluarga nya.
"Cari Grace sekarang juga." Titah Azka saat menelpon salah satu orang kepercayaan nya.
"Baik Tuan." Jawab pria tersebut.
...🍃🍃🍃🍃...
"Bagaimana kabar Pangeran hari ini?" Tanya Lukas. Saat sedang menelpon Indah
"Dia sangat aktif sekali. Baru saja selesai aku beri makan." Jawab Indah sambil tersenyum melihat tingkah lucu dari Pangeran.
"Baik-baik di situ yah. Jangan Pangeran ku. Mungkin lusa aku akan balik."
"Iya."
"Indah.." Panggil Lukas
"Aku mencintaimu" Kata Lukas
__ADS_1
"Lukas sudah dulu yah. Aku mau ngurus Pangeran." Jawab Indah.
Lukas hanya bisa menghela nafas nya. Sambil menatap wajah Indah dan juga Pangeran yang menjadi walpaper hp nya