ISTRI GENDUTKU

ISTRI GENDUTKU
Memaksa melakukan


__ADS_3

Di kediaman pak Darma, terlihat Ayah dan anak sedang berada di ruang keluarga sedang membicarakan tentang pekerjaan sambil menunggu makan malam mereka siap.


Sedangkan sang ibu masih di dapur dengan dibantu para asistennya berkutat dengan semua masakan yang akan dihidangkan untuk keluarganya. Yaa kalau masalah dapur bu Lasmi memilih akan memasaknya sendiri.


Setelah semua tertata rapi di meja makan, bu Lasmi pun memanggil Suami dan anaknya.


Suasana makan malam pun amat tenang dan nyaman. Abimanyu yang memang sejak pagi tadi meminta dibuatkan sayur asem oleh ibunya pun sudah di dapatkannya.


Seakan tidak bosan dan menginginkannya Abi makan dengan lahapnya, dan hal itu tak luput dari pengamatan sang ibu.


" Abii sejak kapan kamu suka sayur asem naak?" Tanya bu Lasmi yang sedang mengamati anaknya yang sedang makan dengan lahap.


Seakan tak ingin makannya terganggu, Abi hanya menjawab pertanyaan ibunya dengan senyuman manis.


" Kalau ayah tidak salah sejak dari rumah pak Wiro ya Bii?." Melihat anaknya tak bergeming dengan pertanyaan ibunya, pak Darmalah yang akhirnya menjawab.


" Iya bu, sejak di rumah pak Wiro, Abi mulai suka dengan anaknya,,, eh salah maksud ayah suka dengan sayur asemnya." Pak Darma mengulangi perkataanya sambil menggoda anaknya.


" Ooh pak Wiro punya anak gadis Bii?" Tanya ibunya lagi.


" Ada bu,, GAJAH." Jawab Abi seenak jidatnya.


" Husshh... ngawur kamu Bii." Pak Darma menegur Abi.


Abi pun tak menjawab lagi, menyudahi makannya dan berpamitan untuk kembali ke kamarnya meninggalkan kedua orang tuanya yang masih belum menyelesaikan makannya.


" Pak Wiro bener punya anak gadis yah??" Bu lasmi penasaran.


" Iya,,, pak Wiro punya 2 anak gadis. Yang 1 masih SMP dan satunya lagi anak sulungnya yang kebetulan dia bekerja di kantin perusahaan kita." Jawab pak Darma dengan senyum.


" Terus yang dimaksud Abi dengan GAJAH tadi apa?" Tanya bu Lasmi lagi.


" Ha ha ha,,, Abi emang lancang kalau ngomong. Iya Fadila anak sulung pak Wiro itu memang Gemuk sekali, tapi anaknya cantik, cekatan, pandai memasak dan bikin kue kayak ibu." Jawab pak Darma memuji istrinya.


Dua sejoli yang tak lagi muda itupun bercanda cukup lama di meja makan,mengGhibah anak anak, cucu dan menantunya. Mereka sangat menikmati hari hari tua mereka.


***


Sudah akhir minggu lagi, ini waktunya para karyawan mengistirahatkan tubuhnya yang sudah 5 hari bekerja.


Di kost Dila tampak bermalas malasan, karna minggu kemarin dia sudah pulang kerumah orang tuanya maka minggu ini dia tidak pulang. Sejak habis sholat subuh Dila ingin sekali kembali tidur. Tapi matanya tak bisa terpejam hingga akhirnya dia memutuskan untuk membereskan kamar kecilnya itu.


Jam menunjukan pukul tujuh, Dila menghentikan aktifitasnya ketika dering hp terdengar di telinganya.


Dia meraih hp yang ia letakkan di meja samping tempat tidurnya dan langsung menggeser tombol hijau setelah tau yang tertera di layar muncul nama Riska.


" Hallo,,,Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam...Dut gii apa kamu sekarang?" Tanya Riska diseberang telfon.


" Gi bersih bersih kamar aja Ris,Kenapa?"


"Aku sama mas ilham lagi di taman nih, kamu nyusul yaa!"


Dila masi berfikir sejenak, sebelum Dia benar benar mengIyakan ajakan Riska. Karna dari pada bosan di kost sendirian pikirnya.


" Oke deh, aku siap siap dulu, tunggu di tempat biasa ya!"


Sekitar 30menitan Dila sudah sampai dimana dia janjian dengan Riska dan Ilham.


" Yaudah yuuk joging dulu." Kata Ilham kemudian.


" Lhoh lhoh kok joging sih, aku kira kalian ngajakin kesini buat sarapan." Protes Dila.


"Olahraga bentar napa Dut, lihat tu badan uda kayak apa?" Tutur Ilham.

__ADS_1


" Aku tiap hari udah olahraga kok mas, tanya tu Riska!"


" Olahraga apaan Dut??" Riska balik bertanya.


" Olahraga mulut laah." Dila berkilah.


" Ngunyah maksud luu." Ungkap Riska lagi.


Ha ha ha,,, tawa mereka serempak, lalu merekapun berlari kecil mengitari sekitar taman.


Taman selalu ramai jika akhir minggu seperti sekarang ini. Olahraga, pacaran, atau hanya sekedar nongkrong bareng teman saja.


Seorang pemuda tampan terlihat bersepeda mengitari taman beberapa kali putaran. Lalu ia mengistirahatkan badannya di kursi taman.


Matanya menyisir orang orang yang berlalu lalang dengan kegiatan mereka masing masing.


Dialah Abimanyu sang wakil direktur. Di belakangnya ada segerombolan pemuda pemudi yang sedang asik mengobrol.


Dan obrolan mereka yang nyaring pun terdengar olehnya.


" Eh Jek,, elu kalo nyari cewek tu jangan cuma wajah cantik sama bodynya doang yang seksi tapi juga hatinya yang suci." Kata seorang pemuda berkaca mata.


" Elaaah...sekarang gue tanya, elu mau punya cewek yang bodynya kayak cewek yang ono tuu," Pemuda yang bertopi menyauti kata temannya.


" Gue mah kagak masalah kalo punya cewek kek gitu, lagian loo liat tuu cewek cuma badannya aja yang gede, tapi wajahnya cantik kok imut imut apalagi kalo dia baek hati, tidak sombong dan pandai masaak, beeeh istrii idaman gue tuuh." Balas pemuda berkaca mata.


Dan merekapun melanjutkan obrolan yang entah berfaedah atau unfaedah.


Mendengar perbincangan orang dibelakangnya sontak membuat Abimanyu menoleh pada subjek yang menjadi bahan ghibah mereka.


Abimanyu melihat sesosok cewek tambun yang sedang berlari kecil kemudian beristirahat dan melakukan senam dengan ke dua temannya. Abimanyu kaget ternyata dia mengenali sosok wanita tambun itu.


" Gendut suka olahraga juga, kirain cuma makan doang disini." Gumam Abimanyu yang kadang mulutnya tak berfilter.


Abimanyu terus memandang sosok besar yang sekarang berada di seberang jalan tepat dihadapannya.


Entah angin apa yang menerpanya, tiba tiba saja Abi ingin menemui gadis gemuk itu. Hanya sekedar menyapa atau mulut losnya ingin mengatainya dan membuat sebal gadis itu.


Tanpa banyak berfikir Abi kemudian melajukan sepeda dan mengayuhnya ke arah Dila dan temannya berada.


Abi menghentikan sepedanya tepat di depan Dila. Dan membuat Dila, Riska dan Ilham terperangah akan kedatangannya.


" Pak wadir." Ucap mereka kompak.


" Biasa aja kali liat orang ganteng." Ucap Abi dengan begitu percaya diri sambil melepas kacamata hitamnya.


Tiga serangkai itu merasa canggung atas kedatangan wadirnya di sela sela obrolan mereka, seketika suasana menjadi hening.


Sadar akan hal itu, Abi segera membuka obrolan antara mereka.


" Kok pada diem siih, tadi riuhnya minta ampun." Abi membuka obrolan.


"Kalian kesini mau olahraga apa makan?" Tanya Abi kemudian.


" Dua duanya pak, Bapak mau makan disini juga?" Ilham yang menyauti pertanyaan Abi.


" Saya kesini niat dan tujuannya cuma 1 olahraga, lagian gak ada yang bisa saya makan disini." Kata Abi sombong.


Mendengar itu Dila dibuat kesal olehnya, mengingat beberapa kali dia sudah membuatnya kalang kabut bak mengikuti kontes memasak.


" Yakin gak ada yang bisa dimakan sama Bapak ? Disini tempat makanan orang normal kok." Saking menahan kesal perkataan Dila mencelos begitu saja.


Mendengar kata yang dilontarkan Dila membuat Abi tersentak dan marah.


" Maksud kamu saya nggak normal, Haa ??" Abi marah dan membentak Dila.

__ADS_1


Riska yang kaget lalu menyikut perut dan Ilham yang duduk selonjoran pun menendang kaki Dila.


" Mak maksud saya disini makanan orang normal, makanan rakyat jelata, Buu bukan orang kaya seperti bapak." Dila langsung menciut.


" Memang makanan apa yang bisa dimakan disini?" Abi meredakan amarahnya.


" Banyak pak, ada lontong sayur, rujak cingur, gado gado dan banyak lagi, kue kue juga banyak paak." Riska yang menjawab karna kedua temannya tidak ada yang membuka mulutnya.


" Apa kalian tidak sakit perut kalo makan di pinggir jalan seperti ini ?"


" Kita mah uda biasa pak makan pinggir jalan gini, perut udah kebal! Ya mungkin bapak yang gak bisa makan makanan seperti disini takut perutnya sakit ." Ucap Dila masi dengan nada ketus.


Mendengar ucapan Dila yang ketus, senyum sinis dan sifat usil Abi membuat bibirnya tersungging.


" Saya bisa makan apa saja seperti makanan yang disini,,, Asaaal...." Abi menjeda kata katanya.


" Asal apa pak?" Ilham yang menyauti.


" Asal Si Gendut yang masak". Ucap Abi sambil menunjuk ke arah Dila tanpa mengalihkan pandangannya dari Ilham.


" Apa?? Kenapa saya pak?" Protes Dila.


" Katanya kamu pintar memasak, pandai bikin kue, kenapa kaget gitu saya suruh bikin makanan,,, Apa jangan jangan cuma kabar burung saja semuanya dan kamu sebenarnya kamu kalau memasak cuma asal asalan saja ?" Kata Abi dengan sinisnya.


Dila yang tak terima, jiwa chef nya berontak dibilang seperti itu oleh Abi langsung menyemprot Abi tanpa mempedulikan status sosial diantara mereka.


" Kenapa bapak bilang seperti itu, saya tidak pernah masak dengan asal asalan, saya masak dengan hati, jadi bapak jangan ngomong sembarangan!!"


" Masak pake tangan bukan hati, ajaib dong." Abi masih tak mau kalah.


" Terus mau bapak apa?"


" Dih si gendut, lemak udah naik ke telinga ya?, kan tadi saya sudah bilang, kamu masak buat saya".


"Ngapain saya sih pak, saya kan bukan istri bapak?"


"Lha terus kamu masakin orang sekantor itu semua suami kamu?"


Dila skak mat oleh Abimanyu.


" Saya nggak mau tau, kamu masak buat saya !"


" Ya udah besok bapak ke kantin itu saya juga yang masak."


" Kagak kagak saya mau kamu masakin buat saya pribadi, kalau kamu protes bisa bayangin kan apa yang bisa saya lakukan? Dan bukan cuma kamu tapi dua temen kamu ini bakal kena imbas juga." Abi mulai mengeluarkan ancamannya.


" Kok jadi makin kejam gini sih pak, Ya udah deh terserah bapak, sekarang maunya gimana?"


" Pintar ! Sekarang kamu ambil uang ini kamu belanja bahan buat bikin makanan dan kue yang banyak. Kalau sudah kalian balik lagi kesini tunggu,1jam nanti saya jemput. Oke!"


" Terus makanan sama kuenya mau buat apa pak?"


" Noh saya jual lagi di pinggir jalan,,, Yaa saya makan laah," Uda deh protes mulu dari tadi."


" Ya udaah iya kita kerjain." Dila terpaksa menyerah.


"Nah gitu dong nurut, kan manis kaya gajah yang di sirkus sirkus! Ya udah sono belanja." Abi pun berlalu mengayuhkan sepeda dengan laju.


Mendengar itu semua membuat Dila makin geram dan kesal denga Abi.


" Tu orang emang banyak duit kali yaa nyuruh orang seenak jidatnya aja." Dila menepuk jidatnya menyesali kenapa dia bisa berurusan dengan pak wadirnya.


" Lu uda kayak bininya aja Dut suruh masakin segala." Sahut Riska.


" Aamiin, udah ayok belanja keburu dia balik kita belum kelar bisa ngamuk tu wadir."

__ADS_1


" Diih gua mah ogah jadi bininya belum apa apa aja uda nyusahin." Jawaban Dila sambil begidik.


Tak banyak bicara lagi mereka bertigapun pergi ke pasar yang dekat dengan taman.


__ADS_2