
Abi melajukan lagi mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Dila kaget tidak bisa melanjutkan kata katanya dan berpegangan erat pada pintu mobil dan tangan satunya meremas lengan Abi dengan kencang.
" Aaaarrhh....saakit Maemunaaaaaaah... lepasin nggak." teriak Abi.
" Pelanin dulu mobilnyaa baru aku lepasin." ancam Dila dengan berteriak pula.
Abi pun memelankan mobilnya, dan Dila baru melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Abi kemudian mengelus dadanya. Abi pun menggosok lengannya yang masih nyeri.
" Kamu ini apa apaan siih yang, sakit tau." keluh Abi masih menggosok gosok lengannya.
" Sapa suruh ngebut nggak aturan? mau bikin aku jantungan?" kata Dila.
Sesampainya di kost Dila, dan Dila hendak turun dari mobil, tangan Abi menghentikan dengan menarik tangan Dila juga.
" Akhir minggu ini aku akan bertemu orang tuamu untuk membicarakan pernikahan kita, terserah kamu mau ikut apa enggak." kata Abi dengan menatap dalam mata Dila.
Tenggorokan Dila tercekat tak bisa berkata lagi dan dia hanya menganggukkan kepalanya saja. Lalu Dila pun turun dari mobil setelah berpamitan pada Abi. Abi melajukan mobilnya meninggalkan kost Dila.
Saat menyetir konsentrasinya tertuju pada rencana pernikahannya dengan Dila. Tapi tiba tiba konsentrasinya buyar karna dia mendapati seseorang yang dia kenal baru saja keluar dari sebuah restoran sedang berjalan dan terlihat sedang menangis.
Abi menepikan mobilnya dan menghampiri orang yang ia kenal itu.
" Renata, kenapa kamu berjalan sendirian disini?" tanya Abi yang baru keluar dari mobil dan menghadang jalan Renata.
Renata belum menyadadi keberadaan Abi yang baru saja datang, dia mengangkat pandangannya melihat siapa yang mengajaknya berbicara.
" Abi..." ucap Renata setelah mengetahui Abi yang berbicara.
" Sedang apa kamu malam malam berjalan sendirian disini?" tanya Abi lagi.
Tak menjawab pertanyaan Abi, Renata malah berlari ke arah Abi dan berhambur memeluk Abi sambil menangis terisak.
Abi yang kaget karna Renata tiba tiba memeluknya, mencoba melepaskan pelukan Renata tapi Renata malah merapatkan pelukannya dan terus saja menangis.
" Ree...kita bicara di dalam mobil saja." kata Abi supaya Renata mau melepaskan pelukannya.
Renata pun melepaskan pelukan Abi dan masuk ke dalam mobil. Abi melajukan mobilnya membawa renata ke taman yang tak jauh dari sana. Dan mereka berbicara di sebuah kursi pinggiran taman tersebut.
" Kamu kenapa nangis Ree..." tanya Abi.
" Bii apakah kamu masih sayang sama aku?" kata Renata kemudian.
Abi kaget mendengar ucapan Renata.
__ADS_1
" Kenapa kamu tanya seperti itu Ree?"
" Kalau kamu masih sayang sama aku, ayo kita hidup sama sama Bii, kita mulai hubungan yang baru." Renata tak ragu mengungkapkan perasaannya dengan memegang tangan Abi.
" Apa maksud kamu Ree,kamu tiba tiba berbicara seperti itu, kita gak mungkin sama sama, kamu sudah nikah dan aku sendiri sudah bertunangan." ucap Abi melepaskan tangan Renata.
" Aku sudah bercerai Bii, aku tidak bahagia dengan Kris, dia selalu kasar sama aku, dan kamu masih bisa memutuskan pertunangan kamu lalu kita hidup sama sama." Renata membujuk Abi.
" Bicara apa kamu Ree,,, tidak semudah itu. Aku sudah membuang jauh jauh perasaanku sama kamu dan sekarang aku sudah mencintai Dila dengan tulus bahkan aku merasa cintaku lebih besar ke Dila dibandingkan rasa cintaku dulu ke kamu." jelas Abi dengan tegas.
" Kamu bohong Bii, kalau kamu sudah tidak memiliki perasaan apapun ke aku, kenapa kamu perduli sama aku kayak gini Bii."
" Ree aku hanya kebetulan saja melintasi jalan ini lalu aku melihat kamu menangis, sebagai teman aku gak ingin terjadi apa apa sama kamu. Aku hanya bermaksud menawarkan bantuan ke kamu, itu aja gak lebih."
" Tapi Bii apa kamu tidak mau memberiku kesempatan lagi pada kuu..." Renata meraih tangan Abi lagi.
Bruuukk....
Abi jatuh tersungkur ke tanah saat seseorang datang dan memukul rahang pipinya.
" Brengsek....setelah luu ngancurin karir gue sekarang luu mau ngancurin rumah tangga gue haa..." Kris berkata dengan geram tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya.
" Kriis apa apaan kamuu..." teriak Renata dan mencoba membantu Abi bangun.
" Hati hati dengan ucapanmu bocah tengik, lihat dulu keadaannya seperti apa bodoh,,," Abi bangkit dan berbicara dengan menunjuk wajah Kris dan tangan satunya memegang pipinya yang nyeri karna pukulan Kris yang sangat keras.
Secepat mungkin Abi menangkisnya dan mendaratkan pukulan tepat di hidung Kris hingga mengeluarkan darah .
" Hentikan Abi, Kris."Renata mencoba melerai pertengkaran itu.
" Jangan coba coba luu ngancurin rumah tangga gue kalau luu masih nekat gue bakal ngabisin kalian berdua dengan tangan gue sendiri, apa luu belum puas udah bikin gue hancur dan bangkrut ." ancam Kris pada Abi.
" Jangan sembarangan luu kalau ngomong, rumah tangga apa? luu udah cerai kan dari Renata." jawab Abi yang membuat kaget Kris.
" Apa? cerai? Siapa yang bilang gue sudah cerai, gue masih sah sebagai suami Renata dan jangan mengada ada!"
Mendengar itu Abi melihat Renata dengan tajam dan Renata menundukkan pandangannya.
" Tapi sebentar lagi kita akan bercerai hubungan kita sudah tidak harmonis." kata Renata melihat Kris.
" Aku tidak akan pernah menceraikanmu, apa kau ingin bercerai denganku dan bersama dengannya?" kata Kris dengan geram.
" Heeeh urus rumah tangga kalian jangan pernah libatin gue dalam urusan kalian." Abi menegaskan kata katanya dan juga pandangannya pada Renata dan Kris.
__ADS_1
Lalu Abi meninggalkan mereka berdua dan melajukan mobilnya.
Di mobil Abi mengingat bahwa memang benar beberapa bulan lalu dia pernah memenangkan tender besar dan yang dikalahkannya adalah perusahaan milih Kris. Dari dulu mereka berdua adalah saingan bisnis yang kuat.
Sesampainya di rumah sudah menunjukkan jam 12 malam dan Abi bertemu bu Lasmi yang sedang mengambil air di dapur.
" Baru pulang Bii," tegur bu Lasmi.
" Iya buu, ibu kok belum tidur?" tanya Abi
" Ini ibu kebangun haus terus ambil air. " kata bu Lasmi mendekati Abi.
" Looh pipi kamu kenapa Bii , kok memar gitu." bu Lasmi kaget setelah mendekati Abi dan melihat pipinya yang memar akibat pukulan Krus beberapa saat lalu.
" Gpp buu tadi kepentok pintu." jawab Abi enteng.
" Tunggu sini ibu obati dulu." kata bu Lasmi tak tinggal diam.
Bu Lasmi pun kembali ke dapur mengambil air hangat untuk memgompres luka Abi dan membawa kotak p3k.
" Kamu berantem sama siapa?" tanya bu Lasmi sambil mengompres lebam yang ada di pipi Abi dan tak percaya kalau Abi hanya kepentok pintu.
" Kris, suami Renata." Abi yang juga tak bisa bohong pada ibunya pun akhirnya berbicara jujur.
" Renata sudah bilang kalau dia mau jalin hubungan sama kamu." kata Bu Lasmi.
" Ibu kok tau?." tanya Abi memicingkan mata.
" Kamu ingat saat Renata pertama kali kembali dan dia datang ke rumah ini? itu Renata cerita kalau dia sudah bercerai dengan suaminya dan meminta ibu buat bujuk kamu supaya mau berhubungan dengannya. Ibu kaget kenapa dia seberani itu untuk mengatakannya langsung tanpa basa basi, ibu juga sudah katakan kalau kamu sudah bertunangan tapi sepertinya itu sia sia dan tidak membuatnya mundur, makanya kamu ibu suruh cepat cepat nikahin Dila. Pamali nak orang bilangnya kalau lama lama menunda hal yang baik. Nanti takut banyak godaan salah satunya yaa kayak gini ini." bu Lasmi menjelaskan panjang lebar.
" Renata belum cerai buu, suaminya tidak mau menceraikannya." tambah Abi.
Bu Lasmi menghela nafas panjang.
" Ibu juga sudah bercerita ke ayah kamu dan katanya perusahaan kita pernah mengalahkan perusahaan punya keluarga suami Renata dan membuat mereka hampir bangkrut, Apa mungkin karna mengetahui hal itu Renata jadi ingin bercerai dari suaminya." kata bu Lasmi lagi.
" Entahlah buu hanya mereka yang tau sebenarnya, dan satu lagi Abi juga sudah bilang ke Dila kalau Abi akan nikahin dia dalam waktu dekat ini dan minggu besok Abi akan pergi menemui pak Wiro untuk menentukan hari dan tanggalnya."
" Lalu tanggapan Dila gimana? Apa Dila juga sudah tau masalah Renata? " tanya Bu Lasmi.
" Mau tidak mau Dila harus mau bu dan masalah Renata Dila tidak mengetahuinya." jawab Abi.
"Ini bukan hanya tentang Renata bu, tapi juga Dirga." Guman Abi.
__ADS_1
" Baiklah Bii kamu istirahat yaa, kalau kamu ke rumah pak Wiro, Ayah dan Ibu akan ikut juga." lanjut bu Lasmi.
Lalu ibu dan anak itu pun menuju ke kamar masing masing.