ISTRI GENDUTKU

ISTRI GENDUTKU
Kare ayam


__ADS_3

Menjelang sore si kediaman pak Darma tampak semua penghuni sedang santai dengan cara mereka masing masing, ada pak Darma dan pak Wiro yang ngopi di halaman belakang, ada 2 ibu ibu dan 1 gadis tambun ngobrol di ruang keluarga.


" Iya katanya Dila juga suka masak ya dan jago bikin kue juga, makanya ada laporan dari kantor kalau sekarang kantin ramai karna karyawan sudah jarang yang jajan di luar." Kata bu Lasmi.


" Hee itu juga karna kerja keras pegawai kantin yang lain bu, mereka juga sangan jago dan cekatan mengelola dapur." Ucap Dila rendah hati.


" Kalau Dila ini memang dari kecil sudah hobi memasak buu, karna dia anak paling tua jadi dia yang sering memasak untuk adik adiknya ketika saya tinggal pergi bekerja. Dan saat sekolah dia lebih memilih mengambil jurusan tata boga." Bu Rohmah menceritakan anak sulungnya.


" Dila ini seperti saya waktu kecil dulu, waktu kecil saya juga senang sekali memasak dan ingin bersekolah tata boga juga, tapi orang tua saya tidak memperbolehkan saya mengambil jurusan itu karna mereka ingin saya menjadi seorang dokter seperti ayah saya, padahal cita cita saya ingin membuat usaha kuliner makanya saya ingin bersekolah tata boga. Tapi yaa terpaksa saya menuruti keinginan mereka meski saya tidak menyukainya, Saya pun menjadi dokter kala itu tapi setelah menikah dan mempunyai anak saya memutuskan berhenti dan ingin fokus dengan keluarga saya saja lalu menyalurkan hobi memasak hanya untuk keluarga." Cerita bu Lasmi.


" Sebelumnya mohon maaf kalau saya lancang bu, Sekarang mengapa bu Lasmi tidak meneruskan cita cita ibu untuk membuka usaha kuliner?" Bu Rohmah bertanya.


"Sebenarnya saya ingin sekali melaksanakannya tapi tidak ada yang mendukung, Suami saya sudah sangat sibuk dengan perusahaan dan usaha mebelnya. Sedangkan Dewi sudah paten menjadi seorang dokter karna darah dari kakeknya. Kalau Abi sebenarnya dia mau membantu saya tapi dia lebih menyukai masakan barat dan cina sedangkan saya menginginkan masakan Nusantara dengan kue kuenya. Yaa terpaksa saya mengalah lagi." Kata bu Lasmi sengan tersenyum.


" Tidak apa apa bu, mungkin belum dikasi jalan sama Allah buat ibu menjalankan bisnis kuliner." Tutur bu Rohmah sopan.


" Iya bu tapi suatu saat jika memang ada yang membantu saya Insya Allah akan saya lakukan." Kata bu Lasmi lagi.


Sejenak suasana hening dan mereka menikmati teh yang disuguhkan para asisten bu Lasmi.


" Oh iya Dila, bagaimana kalau kamu bantu saya di dapur, bisa naak?" Kata bu Lasmi kemudian.


" Tentu saja bu, dengan senang hati saya akan membantu ibu." Jawab Dila dengan senyum ceria.


Lalu kedua wanita beda generasi itu berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


Jam makan malam pun tiba, dua keluarga yang berada di satu rumah itu sudah berkumpul di meja makan besar. Banyak menu yang tersedia disana sudah seperti depot makanan saja.


" Waah banyak sekali menu makanannya bu, menggugah selera semua." Ucap pak Darma.


" Ini semua Dila loo yah yang masak, sudah kaya chef aja kalo masak." Bu Lasmi memuji Dila.


" Dila hanya membantu sedikit saja ." Jawab Dila sedikit malu.


" Abi kamu harus mencicipi masakan Dila loo nak, pasti nanti kamu suka sama masakan Indonesia." Tutur Bu Lasmi pada anaknya.


Abi hanya tersenyum saja menanggapi ibunya.


" Telat buu." Batin Abi.


Dila pun hanya tersenyum sambil menarik nafas panjang hingga terlihat hidungnya kembang kempis mendengar perkataan bu Lasmi.


Acara makan pun selesai, merekapun perkumpul di ruang keluarga sebelum pak Wiro bepamitan pulang.


Pukul delapan malam pak Wiro berpamitan pulang dan kali ini diantarkan oleh supir, sebelum itu pak aupir mengantarkan Dila terlebih dahulu ke kostnya.


***


Pagi hari di kantor seperti biasa Dila sudah melakukan pekerjaannya.


Entah mengapa hari ini dia terlihat sedikit malas dari biasanya.

__ADS_1


Menu makan siang karyawan pun sudah selesai dibuat oleh pegawai kantin.


Sekarang tinggal Dila yang menyiapkan makan siang buat wadirnya.


" Dut kamu mau masak apa lagi, bukannya uda beres semua ya?" Tanya Riska yang mengetahui Dila akan memasak lagi.


" Buat pak Abi Ris." Jawab Dila sedikit malas.


" Haaa buat pak Abi? kok bisa dia minta buatin kamu makan siang? " Riska terkesiap mendengar jawaban Dila.


" Haduuuh ceritanya panjang kali lebar deh Ris, males aku kalo nyeritainnya sekarang."


" Lha terus kenapa pake masak lagi kan tinggal ambil yang sudah matang."


" Pak Abi gak mau Ris, Dia ingin dimasakin sendiri.."


Jam makan siang tiba, semua karyawan pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang tenaga dan pikirannya diperas sedari pagi.


Begitupun Dila, dia bersiap mengantar makanan ke tempat wadirnya. Nampan yang sudah berisi makanan lengkap dengan camilan dan segelas air putih pun tak lupa ia bawa.


Sesampainya di depan ruangan Abimanyu, Dila bertemu dengan Indah sekertaris sang wadir.


" Siang mbak Indah, pak wadir ada kan di dalam?" Sapa Dila pada Indah yang akan pergi ke kantin.


" Oh ada Dut di dalam sama pak Arman, Ada perlu apa kamu sama wadir." Tanya Indah yang melirik bawaan Dila.


" Ini mbak mau nganter makanan pesanan pak wadir."


Dila hanya mengangkat bahunya seakan dia tak tau menau kenapa wadirnya minta makan padanya.


" Sebentar ya Dut aku bilangin dulu." Kata Indah lagi sambil mengangkat gagang tlfon didepannya dan hendak menelfon orang yang berada di dalam ruangan.


"Iya." Sahut orang yang si dalam ruangan.


" Pak ini pesanan makanannya sudah datang."


" Saya belum pesan makanan Ndah."


" Kata Dila bapak pes......"


" Oh iya suruh masuk Ndah." Abi langsung menyahut mendengar nama Dila karna dia lupa meminta Dila menyiapkan makan siang selama satu minggu.


Telfon pun tertutup dan Indah mempersilahkan Dila masuk dan membukakan pintu untuknya.


" Mau di taruh dimana pak makanannya?"


" Taruh di meja sofa saja!" Jawab Abi.


Arman pun bertanya tanya sejak kapan bosnya pesan makanan di kantin.


" Menu apa yang kamu bawa?" Tanya Abi pada Dila sambil berjalan mendekat ke arah sofa dan mendudukkan badannya disana.

__ADS_1


" Kare ayam pak, sama ada camilan putu mayang dan minumnya es teler." Terang Dila.


" Ini kare ayam pakai santan kan?"


" Iya pak."


" Lalu kuah putu mayang ini terbuat dari apa?"


" Pakai campuran santan sama gula jawa pak."


" Dan es teler ini kalau tidak salah ada santannya juga ya?"


" Iya pak ada."


" Kamu mau bikin saya kolesterol... haa..? santan semua." Kata Abi pada Dila bernada agak tinggi.


"Lhah iya kenapa santan semua yaa, baru nyadar." Gumam Dila dalam hati.


" Maaf pak, saya tidak sadar kalau itu memakai santan semua." Jawab Dila jujur tanpa dosa.


" Bisa yaa? Emang kamu masak sambil apa kok bisa nggak sadar gitu?"


Dila hanya cengar cengir tanpa tau harus menjawab apa, dan memang sedikit malas menanggapi ucapan wadirnya.


"Ya sudah kamu boleh pergi!" Titah Abi berikutnya.


Dila pun langsung ngibrit pergi sebelum wadirnya berubah pikiran.


" Untung gak disuruh ganti menu, bisa repot urusannya."


Mata tajam Arman menyeringai bosnya yang sedang menghadap makanan. Seolah olah banyak pertanyaan tersirat disana.


" Saya cuma mau makan siang di kantor Man." Kata Abi Seakan sadar tatapan Arman yang penuh selidik.


" Tidak biasanya bos, dan sebenarnya sejak kapan suka sama masakan Indo." Pertanyaan Arman akhirnya terlontar.


" Saya heran dengan orang orang, kemarin saya lebih memilih makanan barat pada repot suruh coba ini coba itu dan sekarang saya mulai mau mencoba makanan Indo orang juga yang repot."


" Ya wajar kan pak lihat hal hal yang aneh terus bertanya."


" Dasar netijen, kepo, aneh darimana orang saya makan kare ayam bukan ayam tiren."


" Iye deh paak iyee." Sadar tidak akan berhasil mengorek info lebih dari bosnya, Arman pun lebih memilih diam. " Kalau gitu saya keluar dulu pak."


" Kamu gak mau makan kare ayam dulu Man?" Tanya Abimanyu yang berhasil membuat asprinya kesal.


Seketika itu mata Arman pun berbinar mendengar tawaran bosnya dan hendak mengIyakannya.


" Eh jangan ding, si gendut pelit ayamnya cuma dikasih sepotong aja, kamu makan es telernya aja nih!" Kata Abi lagi.


" Saya Pilek pak." Jawab Arman jengkel dan langsung berbalik menuju arah pintu dan melangkah keluar.

__ADS_1


Abi tampak tertawa melihat tingkah asprinya. Tidak menunggu lama Abi pun segera menyantap hidangan yang sudah tersedia di meja.


__ADS_2