ISTRI GENDUTKU

ISTRI GENDUTKU
Curhat Abi


__ADS_3

Minggu pagi Abi bangun dengan penuh semangat, dia sudah rapi dengan baju santainya. Lalu dia menyambar kunci mobil yang berada di atas nakas dan turun menemui orang tuanya. Abi selalu menyempatkan berpamitan pada ayah dan ibunya ketika akan pergi.


Setelah berpamitan Abi melajuka mobil kesayangannya menuju kost Dila. Sesampainya disana Abi mengetuk pintu kamar kost Dila.


Tapi berkali kali Abi mengetuk pintu dan mengucap salam, Abi tak mendapat jawaban dari dalam kamar.


" Kemana Dia?" gumam Abi.


Lalu ada seseorang dari kamar sebelah menemui Abi.


" Mas nya mencari mbak Dila?" tanya seorang wanita yang tinggal di sebelah kamar Dila.


" Iya mbak" jawab Abi singkat.


" Mbak Dilanya pergi tadi mas sama teman temannya.kelihatannya sih ke taman." kata wanita itu lagi.


" Oke, makasi mbak."


Abi melajukan lagi mobilnya menuju taman. Sesampainya disana matanya menyusuri setiap jengkal jalanan, sudut sudut taman dan para penjual makanan .


Setelah matanya menangkap beberapa orang yang dia kenal, Abi mengembangkan senyumnya dan bergegas menghampiri mereka yang tak lain adalah Dila, Riska dan Ilham.


Ketika hendak menghampiri mereka langkah Abi terhenti tatkala melihat ada seorang lagi yang terlihat baru datang dengan membawa bungkusan cilok. Iya Dirga membagikan bungkusan cilok itu pada ketiga temannya.


" Ciiih...jadi sogokannya cuma cilok doang niih, segerobaknya bisa gue beli." gumam Abi dengan sombongnya.


Abi jadi tidak mood lagi untuk menemui Dila dan kawan kawannya. Lalu dia memutuskan untuk melajukan mobilnya kembali.


Abi terlihat sedang berfikir lalu dia menelfon seseorang.


" Man lagi dimana?" tanya Abi pada Arman diseberang telfon.


" Lagi dirumah aja pak,bisa dibantu pak." sahut Arman.


" Bisa banget Man, tunggu ." Abi mematikan telfonnya dan melajukan mobilnya lebih kencang menuju rumah Arman.


Arman yang tidak mengerti maksud bosnya hanya menggeleng saja.


Setibanya di rumah Arman tanpa basa basi dan mengetuk pintu bahkan mengucap salam, Abi langsung nyelonong masuk kerumah Arman yang pintunya memang sengaja dibiarkan terbuka.


Abi lalu menghampiri Arman yang sedang duduk santai di depan tv bersama istrinya.


Arman yang tiba tiba didatangi Abi pun spontan kaget.


" Astagfirullahal'adziim...pak Abi? kok udah disini aja siih pak, gak ada salam lagi." kata Arman kaget melihat bosnya yang tiba tiba muncul.


" Ya udah Assalamualaikuum..." kata Abi.


" Waalaikumsalam, telat pak kita udah kaget duluan."

__ADS_1


" Rewel deh...! lagian sapa suruh pintu dibiarin nga nga gitu jangan salahin gue kalo tiba tiba masuk." Debat Abi yang tak mau disalahkan.


" Dasar slonong boy, untung aja saya gak lagi indah indahan sama istri ." ketus arman yang makin kurang ajar dan suka mengatai Abi di luar jam kerja seperti saat ini.


" Janganlah Man meronta nanti jiwa jomblo gue." papar Abi dengan wajah memelas.


" Cepet kawin pak, biar gak ngiri sama kita." Tifani Istri Arman ikut menimpali.


" Kawinnya sih udah sayang, tinggal nikahnya yang belum." Lagi lagi Arman meledek bosnya.


" Enak aja luu Man, masi ori ini dan SNI ." protes Abi yang tidak terima dengan pernyataan Arman.


" SNI ? Standart Nasional Indonesia ?"


" Bukan, Sesuai Naluri dan Iman." sahut Abi.


Ha ha ha....


Mereka bertiga pun tertawa riuh. Lalu istri Arman pun berjalan menuju dapur untuk membuatkan minum atasan suaminya yang tiba tiba muncul dirumahmya.


" Man, luu dulu kok yakin sama Tifani sampe nikah itu gimana ceritanya?" tanya Abi kemudian.


" Gak nanya juga kenapa Fani bisa sampe gede gitu perutnya?" Kata Arman menunjuk Istrinya yang memang sedang hamil besar.


" Gue udah tau jawabannya. Gue serius Man, maksudnya kok bisa kamu yakin kalau cinta sama Tifani, pernah ragu gak kalo itu benar benar cinta."


" Terus perasaan yang gue rasain ini apa ya Man namanya?" pertanyaan yang tidak ada di pelajaran apapun ketika sekolah itu terlontar keluar dari mulut Abi.


Arman mengerutkan keningnya pertanda kebingungan sedang melandanya.


" Lhaah bapak nanya saya, saya nanya sapa paaaak?" Ucap Arman sambil memegangi keningnya.


" Sebenarnya bapak ini ada apa siih, akhir akhir ini bapak itu aneh," ucap arman lagi.


" Saya juga gak tau Man, bingung saya.!"


" Makanya doong paak Curhat biar orang itu bisa ngasih solusi yang baik dan benar, nanti kalo nyeseeel aja semua orang kena imbas, kena damprat." Kata Arman menggebu gebu sekalian menyindir kelakuan yang kerap ditunjukkan bosnya.


" Curhat, udah kaya mak mak aja deeh Man gal mutu."


" Ini CURHAT paak bukan GHIIBAH , semua orang itu butuh curhat biar gak disimpan sendiri unek uneknya, biar gak gila juga nantinya bapaaaaaak." Arman berbicara dengan nada gemas pada Abi.


" Kamu ngatain saya gila Man? "


" Kalau bapak nggak mau dikatain Gila makanya curhat, kalo sekarang gak gila nanti gilanya nyusul." Arman semakin berani pada atasannya.


Abi terdiam dengan wajah kesal dan mengusap wajah sampai rambutnya.


" ARMAAAN CURHAT DOOONG." kata Abi dengan tangan menirukan acara yang berada di tv.

__ADS_1


Arman dan istrinya menahan tawanya melihat kelakuan bosnya .


Akhirnya Abi menceritakan semua kepada Arman tentang kebingungannya, perasaan apa yang dia rasakan kepada Dila. Bahkan tantangan Dirga tak lupa ia ungkapkan kepada Arman.


" Berarti bener dong yang saya omongi kapan hari kalau bapak bucin." Arman mengingatkan Abi.


" Sembarangan kamu Man kalau ngomong, gak separah itu lah ." Abi masih menyangkal kalau dirinya bucin.


" kalau bucin ya bucin aja pak."


" Tapi beneran gak sih Man, masa gue sukanya sama yang gendut man, kenapa coba gue bisa suka sama Dia? Apa kata dunia nanti kalo ada berita Seorang wakil direktur yang sebentar lagi jadi direktur berpasangan dengan wanitanya yang gendut, dari ujung kaki sampai ujung kepala lemak semua."


Arman memutar bola matanya yang tahu kalau bosnya itu sedang galau.


" Pak cinta itu tidak kenal apapun, gak peduli kata orang, kata netijen, mak mak lambe turah atau ahli ghibah sekalipun dan mencintai seseorang tidak butuh alasan, kalau ada alasannya berarti itu perjanjian.


Witing tresno jalaran soko kulino, bapak harus sudah tau dan siap dengan segala konsekuensinya."


Penjelasan Arman cukup masuk di pikiran Abi,membuat Abi sedikit mengerti tentang perasaannya pada Dila, dan ada keberanian untuk menunjukkan pada Dila bahkan pada semua orang tentang perasaannya...


" Satu lagi bapak juga harus bisa belajar dari masa lalu, Dan untuk urusan pemuda yang bernama Dirga, kalau bapak sudah yakin dan kapanpun bapak siap mengatakan perasaan bapak pada Dila, segera jawab tantangan Dirga. Jangan sampai bapak di cap sebagai pengecut olehnya." Tutur Arman meyakinkan bosnya.


" Jadi saya harus bersaing secara sehat niih sama si Dirga?"


" Yaa iyalaah pak, apapun yang gak sehat itu gak baik cuma jadi penyakit, iya nggak sayang?" ucap Arman melibatkan pendapat istrinya yang duduk di sampingnya.


Tifani istri Arman mengangguk dan tersenyum dengan saran yang disampaikan suaminya pada bosnya.


Abi manggut manggut saja.


" Diminum pak kopinya." tawar Tifani.


" Bapak mau makan sekalian, udah mau siang ini."


" Allahu Akbar yaang suami dari pagi kelaparan gak ditawarin makan, ini giliran ada bos aja duluan dikasi makan." protes Arman yang memang dari pagi belum makan.


" Eeh bini luu pinter, tau kalo gue yang ngasi rejeki buat luu." Abi menjelaskan kalau memang Dia yang memberi gaji Arman.


" Rejeki dari Allah pak." protes Arman lagi.


" Iya tapi lantaran gue, udah bawel luu kaya mak mak ghibah."


" Jadi makan gak nih kalian?" pertanyaan Fani melerai perdebatan Abi dan Arman.


" Ya udah Man ayo makan dulu," Kata Abi yang sudah seperti pemilik rumah seraya menuju meja makan menyusul Fani yang sudah duluan.


" Yang tuan rumah sapa yang tamu sapa udah gak ada bedanya, gemeesh gue." Gerutu Arman dengan wajah kesal.


Abi memang sudah sering berada di rumah Arman jadi Abi sudah tidak punya rasa sungkan lagi kepada mereka.

__ADS_1


__ADS_2