
Dila kembali ke kostnya diantarkan oleh Abi. Keluarga Dila menginap di rumah pak Darma, tadinya Dila sudah akan memesan hotel untuk keluarganya tapi pak Darma dan bu Lasmi memaksa supaya pak Wiro menginap di rumah saja.
Di dalam mobil mereka hanya diam tanpa kata, rasa canggung mendera. Tak tau lagi harus apa. Ingin sekali keduanya berucap tapi tenggorokan mereka seakan terkunci.
Sampai di kost Dila, sepatah kata pun tak keluar dari mulut mereka. Sampai pada akhirnya Dila berpamitan untuk turun.
" Saya turun dulu, makasi pak." ucap Dila seperti biasa ketika Abi mengantarnya pulang.
" Tunggu...!" suara Abi menghentikan Dila yang akan membuka pintu mobil.
" Gak ada yang pengen kamu ucapin gitu ke saya?" lanjut Abi.
" Kan saya barusan udah ngucapin makasi ke bapak." jawab Dila ringan.
" Itu makasi buat apa?"
" Ya makasi uda di anterin pulang."
" Astaghfirullah...." Abi mengusap kasar wajahnya. " Oke deh kamu boleh turun." kata Abi yang akhirnya mengalah karna enggan berdebat dengan Dila nantinya.
Lalu Dila pun turun dari mobil tanpa kerkata lagi. Dan Abi pun melajukan mobilnya kembali. Sebenarnya Dila juga bingung harus mengatakan apa pada Abi.
Sesampainya di rumah Abi melamun di teras samping kolam renang. Lalu ada Dika dan Dania yang akan duduk juga disana, tapi saat melihat Abi mereka hendak mengurungkan niatnya.
" Dika, Dania, duduk sini !!." panggil Abi mengetahui mereka akan pergi.
Dika dan Dania pun duduk bersama dengan Abi.
" Saya kira mas Abi belum pulang dari ngantar kak Dila." kata Dika.
Abi hanya tersenyum, dan saat melihat Dania entah mengapa dia rindu sekali dengan Dila karna wajah Dania yang paling mirip dengan Dila dibanding Dika.
" Dania kamu kelas berapa sekolahnya?" tanya Abi pada gadis belia yang akan menjadi adik iparnya.
" Kelas tiga SMP mas Abi." jawab Dania dengan senyum polosnya.
" Kalau kamu Dika?"
" Saya tiga SMA mas." jawab Dika dengan canggung.
" Lulus sekolah mau lanjutin kuliah?" tanya Abi lagi.
" Kalau kuliah sih pengen mas, tapi liat bapak, ibu, kak Dila nyari uang jadi gak tega kalau harus maksain kuliah. Biar nanti Dania aja yang kuliah nanti saya juga berusaha bisa bantu biayain." ucap Dika dengan sendu.
" Lho nanti mas Abi sama kak Dila kan bakal nikah, dan urusan keluarga kak Dila juga urusan mas Abi jadi baik kamu ataupun Dania harus tetap kuliah nanti mas yang akan tanggung biayanya." seru Abi sambil menepuk pundak lelaki yang akan jadi adik iparnya tersebut.
" Mas Abi serius kan sama kak Dila?" tanya Dika menatap dalam mata Abi.
__ADS_1
" Kalau mas gak serius ngapain harus ngelakuin kayak tadi, memangnya kenapa Dik? apa kamu gak percaya sama mas?"
" Bukan begitu mas, yaa heran aja mas Abi kok mau sama kak Dila, padahal mas Abi sendiri udah tampan, mapan, dan bisa milih milih cewek yang seksi di luar sana, sedangkan kak Dila, dia dari keluarga sederhana,gendut pula yaa wajar kalau saya bahkan semua orang juga bakal bertanya tanya." kata Dika mencari kebenaran.
" Mas sendiri gak tau kenapa bisa suka sama kak Dila, rasa nyaman, rasa rindu, rasa gak mau kehilangan bahkan rasa sayang itu ada pun mas Abi gak tau kapan datangnya, yang mas tau cinta itu gak punya alasan kalau ada alasan berarti itu perjanjian namanya." tutur Abi yang menirukan ucapan Arman saat menasihatinya.
" Syukurlah kalau mas Abi benar benar sayang sama kak Dila, karna saya takut mas Abi hanya mempermainkan kak Dila saja, saya sudah cukup tau bagaimana dulu samapai sekarang kak Dila berjuang untuk kita." kata Dika dengan mata berkilat mengingat perjuangan kakaknya dulu.
Mereka bertiga cukup lama berbincang bincang. Entah apa saja yang sudah dibicarakan para calon ipar itu.
Keesokan harinya adalah hari pertama restoran beroperasi, Dila yang sangat bersemangat juga telah menyiapkan baju kebangsaan seorang koki beserta semua atribut yang digunakan. Lalu dia pun bergegas berangkat, ketika Dila akan mengunci pintu kamar kost ternyata Abi sudah menunggunya di kursi depan kamar.
" Lhooh pak Abi kok disini, ngapain ?" tanyanya yang sudah beberapa kali dikejutkan dengan kedatangan Abi yang tiba tiba.
" Pertanyaan itu lebih pantas kamu berikan pada orang lain jika melihatnya disini." kata Abi datar.
" Maksud bapak?" tanya Dila sambil mengerutkan kedua alisnya.
" Ya saya kan tunangan kamu, jadi wajar dong kalau saya mau menjemput kamu."
" Bapak nggak ke kantor?"
" Saya bisa ke kantor sehabis mengantar kamu ke restoran. Dan sampai kapan kamu akan terus bertanya ?" Abi melemparkan tatapan yang tajam pada Dila.
Enggan merusak mood sepagi ini, Dila pun masuk ke dalam mobil Abi tanpa berkata lagi.
" Bapak saya sudah diantar pulang pak?" tanya Dila memecah keheningan.
" Belum, ayah mengajak pak Wiro makan di restoran terlebih dahulu supaya bisa bertemu kamu." jelas Abi.
Dila ber "O" ria, lalu senyumnya mengembang senang karna keluarganya akan datang ke restoran lagi.
" Kamu gak mau bilang apa apa tentang lamaran kemarin?" pertanyaan itu los keluar dari mulut Abi.
" Emang saya harus bilang apa pak?" kata Dila bingung.
" Yaa bilang kek kalau kamu senang saya lamar si depan orang banyak atau kamu sangat bahagia bisa saya pilih jadi calon istri." Dengan PD nya Abi berbicara.
Dila tertawa...sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
" Kenapa kamu ketawa." tanya Abi lagi.
" Yang saya rasakan sampai sekarang cuma satu, TERKEJOET ha ha ha..." kali ini Dila tertawa lebar tanpa menutupnya lagi.
Abi pun ikut tertawa bersama Dila. Dan mereka merasa baru kali ini mereka tertawa bersama.
Tiba tiba Abi menarik tangan Dila lalu menggenggamnya. Dan Dila pun sekali lagi dibuat terkejoet dengan perlakuan Abi.
__ADS_1
" Dila, apa yang saya lakuin kemarin bukan hanya ingin membuat kamu terkejut tapi memang saya serius menyayangi kamu." ucap Abi penuh keseriusan.
Dila tak bisa berkata, dia hanya menatap Abi dengan harap Abi benar benar serius dengannya, meskipun sebenarnya perasaan Dila masih belum terlalu banyak pada Abi, tapi Dila ingin mempererat hubungannya dengan Abi seperti yang sudah ia katakan pada keluarga.
" Kita jalani dulu yaa pak." hanya kata itu yang keluar dari mulut Dila.
" Oke, mulai sekarang boleh doong aku minta dimasakin tiap hari sama kamu, makan siang aja deeh..." pinta Abi.
" Tapi pak, saya kan nggak tiap hari ke resto harus sekolah juga, harinya di selang seling tiga hari sekolah, tiga harinya lagi baru ke resto." Dila menjelaskan.
" Udah kaya playgrup aja masuknya cuma tiga hari, selang seling pula, oke deh gak pa pa kalo kamu di resto aja kamu harus masakin makan siang buat saya."
" Oke, tapi nanti kurir ya yang antar ke kantor bapak."
" Siap, satu lagi jangan panggil saya bapak , bapakmu cuma pak Wiro !"
" Terus panggil apa dong?"
" Terserah , sayang , mas, aa, kakanda banyak kok ."
Dila hanya tersipu mendengar permintaan Abi.
Satu bulan pun berlalu, hubungan Abi dan Dila juga masih baik baik saja dan sekarang perasaan Dila juga sudah mulai bertambah pada Abi. Seperti janjinya setiap tidak ada kelas koki Dila selalu membuatkan makan siang untuk Abi.
Setelah rapat dengan klien Abi kembali ke ruangannya. Dan di meja sofa Abi sudah ada dua buah kotak makan berbahan stainless dan juga Air putih diatas nampan, semua itu Indah sang sekertaris yang menyiapkannya jika memang ada kiriman makanan untuk Abi.
Abi mengernyitkan dahinya melihat kotak makan tersebut.
" Inikan hari selasa waktunya kelas koki, kok tumben kirim makanan, dua kotak lagi, Apa sedang gak ada kelas yaa?" gumam Abi sambil duduk mendekati kotak bekal yang ada si meja.
Tak fikir panjang Abi segera membuka kotak bekal itu karna dia selalu antusian jika makan bekal buatan Dila.
Tapi lagi lagi Abi dibuat bingung dengan menu saat kotak itu terbuka.
" Steak tenderloin dan sapo tahu seafood. Kenapa menunya beda, biasanya sayur asem atau lodeh, mungkin dia lagi praktekin masakan western dan chinese kali."
Walaupun menu tak seperti biasanya, Abi tetap memakannya walaupun sebenarnya ia enggan, karna sudah lama sekali dia tidak selera dengan makanan barat.
Sore haripun Abi telah sampai di rumahnya dan sepertinya ada tamu, karna di depan ada mobil asing yang terparkir.
Sesampainya di depan pintu seperti biasanya Abi selalu mengucap salam.
" Assalamualaikuum..."
" Waalaikum salam..."
Terdengar sahutan orang menjawab salam dari ruang tamu.
__ADS_1
" RENATA...."