
Malam harinya, Dila melihat handphonenya yang sedari siang tidak ada pesan atau panggilan dari Abi.
" Kemana mas Abi, tumben gak nongol? ahh mungkin dia kecapekan." gumam Dila.
Dila pun memutuskan untuk tidur saja karna Dila juga merasa sangat lelah dan beberapa hari ini kurang tidur karna memikirkan pernikahannya yang kurang dari tiga minggu akan dilaksanakannya.
Di rumah pak Darma, Abi sedang berada di kamar dengan hati yang masih berkecamuk. Dia sedang memainkan handphonenya yang menunggu pesan atau panggilan dari Dila tapi nyatanya Dila pun tak menghubunginya.
Abi semakin kesal dibuatnya dan menduga hal hal yang tidak seharusnya ia pikirkan.
" Setelah bertemu Dirga apa dia begitu senang dan tidak memikirkanku, dasar wanita sama saja." Kata Abi lalu membanting handphonenya ke kasur.
Abi masih dengan kemarahannya, membiarkannya larut didalamnya dan kemudian Abi pun tertidur.
Keesokan harinya Abi bangun kesiangan karna sehabis subuh Abi ketiduran lagi, Abi tergesa gesa karna pagi ini akan ada rapat penting dengan klien di kantornya. Abi berangkat ke kantor tanpa sarapan dan kelihatannya dia masih kesal dengan Dila yang tidak bilang jika bertemu dengan Dirga ditambah lagi seharian kemarin Dila juga tidak menghubunginya sama sekali. Maka dari itu Abi memutuskan untuk tidak menjemput Dila.
Saat Dila akan berangkat bekerja, seperti biasa dia menunggu Abi di kursi depan kamarnya. Sambil menunggu Abi datang seorang tetangga kostnya mengajaknya ngobrol dan tak terasa waktu sudah sangat siang. Tapi Abi tak kunjung menjemputnya juga. Akhirnya Dila berangkat ke restoran menggunakan motornya.
Sesampainya di dalam restoran dan melangkah ke ruangannya,Dila dihampiri oleh seorang waitres.
" Chef..." panggil waitres tersebut.
Dila menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah waitres.
" Iya ada apa?"
" Chef ada yang menunggu di meja 8." kata waitres itu dengan raut wajah yang tidak menyenangkan.
" Memangnya siapa yang menunggu?" tanya Dila sambil memicingkan mata.
" Itu chef wanita yang waktu itu bikin onar disini." kata waitres
__ADS_1
" Oh baiklah saya akan menemuinya."
" Renata, mau apa lagi dia?" gumam Dila.
Lalu Dila menuju meja 8 untuk menemui Renata yang sudah menunggunya.
" Renata." tegur Dila.
Renata tak menjawab, dia hanya tersenyum sinis ke arah Dila.
" Sudah pesan makanan Ree?" tanya Dila basa basi.
" Tidak usah basa basi, aku hanya ingin bicara sama kamu." kata Renata dengan ketus.
" Sepertinya pembicaraan yang serius, baiklah kamu ikut saya ke ruangan." titah Dila sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan.
Renata mengikuti Dila dari belakang, para waiter dan waitres melihat dengan tatapan penuh tanya.
" Ada perlu apa dengan saya?" tanya Dila.
" Oke saya akan mengatakannya karna saya tidak mau lama lama bersamamu." tukas Renata.
" Silahkan!"
" Batalkan pernikahanmu dengan Abi, karna saya tau betul kamu bukan tipe perempuan pilihan Abi, apa kamu tidak curiga kenapa sampai Abi mau dengan kamu yang...." Renata menjeda perkataannya dengan melihat Dila dengan tatapan remeh.
" Abi mau menikahimu karna dia hanya ingin balas dendam padaku karna aku dulu menolaknya untuk menikah. Kalau kamu tidak percaya kamu boleh cek semua sosial medianya, disana foto aku masi banyak yang terpajang seakan Abi merasa berat untuk menghapusnya. Dan dimana foto kamu? bahkan foto kamu satu pun tidak ada disana. Mungkin saja Abi malu jika orang tau kamu calon istrinya." Renata tak henti menghasut Dila.
" Kalau saya meninggalkan mas Abi apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" Dila mencoba untuk tidak terpancing emosi.
" Biarkan Abi bahagia bersamaku, wanita yang telah lama dicintainya." kata Renata.
__ADS_1
" Apa kamu yakin mas Abi akan bahagia bersamamu, bersama dengan wanita yang sudah bersuami?" Dila mencari celah.
Renata sedikit emosi dengan perkataan Dila, tapi dia tidak terpancing.
" Sangat yakin." Kata Renata dengan mantap.
Lalu Renata mengeluarkan handphone dari dalam tasnya, Dia mencari sesuatu untuk ditunjukkan pada Dila. Renata menyodorkan handphonenya agar Dila melihatnya.
Dila meraih benda pipih yang ada di depannya. Dan betapa kagetnya Dila saat dia melihat foto Abi dan Renata sedang berpelukan. Tak hanya satu foto ada beberapa foto yang memperlihatkan kemesraan mereka.
Ternyata kemarin saat Renata berada di mobil Abi, dia diam diam mengambil foto. Dan ketika di rumah Renata, dia menyuruh asisten rumah tangganya untuk memfoto semua yang dilakukannya pada Abi.
Seketika dada Dila sangat sesak, perasaan campur aduk berkecamuk. Ingin sekali Dila melempar handphone Renata ke lantai tapi niatnya tidak dilakukan. Dila hanya busa menahan kemarahannya agar tidak terlihat oleh Renata.
" Seperti yang kamu lihat di foto itu, kami masih bertemu dibelakang kamu." kata Renata memprovokasi.
" Aku tidak bisa percaya begitu saja padamu." tegas Dila.
" Apa kamu menganggap itu sebuah foto hasil editan? coba saja kamu periksa tapi kamu tidak akan memungkiri jika Abi masih mencintaiku."
" Apa kamu sudah selesai memamerkan foto foto itu padaku? dan jika sudah kamu bileh pergi sekarang." kata Dila sinis.
" Yaa aku rasa sudah jelas semuanya dan aku harap kamu bisa memikirkan lagi pernikahannmu dengan Abi dari pada setelah menikah kamu akan menyesal." pungkas Renata dengan senyum sinisnya dan melenggangkan kakinya keluar dari ruangan Dila.
Setelah Renata keluar, Dila terdiam dan tanpa terasa air matanya pun mengalir deras di pipi. Dila tak tau apa yang harus dia lakukan sekarang karna pikirannya sedang kacau.
Untuk bekerja pun rasanya sangat enggan dan ingin sekali dia pulang saja ke kostnya, tapi itu tidak mungkin karna hari ini di restoran ada reservasi cukup banyak untuk makan siang.
Akhirnya Dila memutuskan tetap bekerja dan
kembali ke dapur meski dengan suasana hati yang tidak karuan.
__ADS_1