
Keesokan harinya Abi sampai di kantor bersama Arman. Setelah sampai di ruangan, Abi menelfon sekertarisnya Indah.
" Iya pak." Sahut Indah.
" Kamu ke kantin sekarang panggil gendut kesini." Titah Abi dari dalam ruangan.
" Baik pak."
Tanpa perlu lama Indah pun bergegas menuju kantin mememui Dila.
" Didut...." Panggil Indah dengan senyum.
" Eh mbak Indah, kenapa mbak? mau pesan kue yaa he he he!"
" Nggak dulu Dut, eh kamu di panggil pak Abi ke ruangan sekarang."
" Haah ngapain mbak?" Tanya Dila
" Mana ku tahu Dut, udah kamu samperin aja sekarang dari pada panjang urusan."
" Iya deh mbak duluan aja, aku mau pamit dulu sama bu Tini."
" Oke, cepet loo yaa." Indah meninggalkan kantin.
" Ngapain lagi siih tu orang, apa mungkin mau bilang satu hari yang nggak aku masakin,, huuh gak tau kemarin orang lagi sakit apa." Gumam Dila dalam hati.
Dila pun berpamitan pada Bu Tini dan teman temannya untuk menemui wadirnya.
Setelah sampai di lantai 8 tarnyata Dila berpapasan dengan pak Darma yang akan keluar kantor untuk rapat dengan klien.
" Lhoo Dila." Sapa pak Darma pada Dila yang dia lihat sedang berjalan.
"Pak Direktur." balas Dila sambil menundukkan kepala dan tersenyum.
" Kamu mau ke mana Dila?" Tanya pak Darma yang terlihat heran karna disana tidak ada ruangan lain selain ruangannya dan Abi.
" Sa saya mau ke ruangan pak wakil direktur."
Pak Darma mengerutkan kedua alisnya mencerna kata kata Dila.
" Untuk keperluan apa kamu datang kesana?'
" Saya kurang tau pak, tadi pak Wadir katanya memanggil saya."
" Oh ya sudah kalau begitu." pak Darma mengakhiri obrolannya dengan Dila dengan masih diselimuti rasa penasaran.
Setelah sampai di depan ruangan Abi, Indah pun segera menyuruh Dila masuk.
__ADS_1
Tok... tok...tok....
" Permisi pak, Bapak panggil saya?." Kata Dila saat sudah berada di depan Abi.
" Kamu tau kenapa kamu saya panggil kesini?" Kata Abi memulai pembicaraannya.
"Tidak tau pak." Jawab Dila singkat.
" Harusnya kamu peka dong kenapa sampai saya panggil kamu kesini,"
"lhah malah gue yang disuruh mikir." Dila membatin.
" Karna saya sehari absen tidak menyiapkan makan siang bapak."
" Ya itu salah satunya."
"Kan mulai gak enak filling gue, emang ada berapa perkaranya?" Lagi lagi Dila membatin.
" Memang ada berapa pak ?"
" Sekarang saya tanya, kenapa sampai bisa sehari absen gak bikin makan siang buat saya? mau bikin mati saya kelaparan? " Tanya Abi lagi seolah dia tidak mengetahui keadaan yang sebenarnaya kalau Dila sakit.
" Maaf pak kemarin saya sakit tidak masuk kerja." Tutur Dila.
" Oh sakit, kenapa nggak izin saya?"
" Saya sudah izin sama kepala bagian kantin pak."
" Ya biasanya ...."
" Sudah sudah kamu banyak alasan dan saya tidak menerima alasan apapun dari kamu."
" tapi p...."
" Berani, berani, berani sama saya iya?,,,saya tidak suka dibantah, jadi kamu harus patuh sama saya!" Abi mempertegas suaranya.
Hening
Hening
" Oke, sekarang kamu sudah sehat kan?." tanya Abi kemudian.
" Sudah pak." jawab Dila.
" Jadi Bayar hutang beserta bunganya !"
" APAAA...???" Dila berteriak.
__ADS_1
" Biasaa ajaaa."
" Maksud bapak apa?"
" Maksud saya, hari ini sampai dua hari kedepan kamu bikinin saya makan siang, tidak ada protes hanya jawab iya dengan hati ikhlas."
" Dan satu lagi, jangan pelit tambahin lauknya, perusahaan gak bakal bangkrut cuma karna saya nambah sepotong lauk." Tambah Abi.
" Tap...." Dila masih berusaha.
" Sssssttttt......mau SP atau langsung pecat ." Abi mengeluarkan jurus pamungkasnya terhadap karyawan.
Memang dirasa sangat berlebihan hanya karna masalah sepele Abi sampai mengeluarkan jurusnya, tapi memang itulah jurus ampuh yang dipakai oleh rata rata para bos pada karyawannya.
Dila pun hanya pasrah dan terdiam sampai Abi menyuruhnya kembali ke kantin.
Apalah daya seorang Dila, dia hanya menunduk dan merutuki nasibnya kenapa dia bisa bisanya berurusan dengan atasan yang kala itu dianggapnya arogan, menyebalkan dan semena mena padanya. Iya hanya padanya,karna selama ini yang dia tau dan dia dengar, Abi adalah pemimpin yang ramah dan baik hati tapi setelah beberapa kali berhadapan dengan Abi, Dila menganggap itu semua salah.
Brraaaakk.....
Dila menutup pintu dengan keras membuat Abi sedikit kaget.
" Heii...dasar gak punya adab." Umpat Abi pada Dila.
Di luar ruangan Arman dan Indah juga kanget melihat Dila membanting pintu.
Tapi Arman mencoba untuk tidak ikut campur dengan urusan bosnya dengan Dila.
Lain halnya dengan Indah yang langsung bertanya pada Dila.
" Didut kamu kenapa siih?" Tanya Indah.
" Mbak kamu kok betah tiap hari kerja sama orang macam dia? sukanya nyiksa batin orang." Kata Dila menggebu gebu dengan menahan suaranya yang ingin berteriak.
" Udah kebal Dut, maklumin jomblo ha ha ha." Indah meledek bosnya.
" Suru kawin tu mbak biar ada yang ngurusin."
" Kalo aku emaknya uda ku kawinin sama kamu Dut."
" OGAH!" jawab Dila singkat sambil ngibrit meninggalkan Indah yang masi tertawa.
Arman yang mendengar obrolan 2 wanita di depannya hanya geleng geleng kepala saja.
Waktu makan siangpun tiba dan akhirnya Abi bisa merasakan masakan Dila lagi.
Dan sorepun menjelang waktu untuk para karyawan pulang. Tak terkecuali sang wadir yang akan pulang tepat waktu karna sudah tidak ada pekerjaan yang penting.
__ADS_1
Pada waktu mobil milik Abi akan menuju jalan raya, Dia melihat Dila sedang menghampiri laki laki lalu menaiki motornya dan berlalu pergi.
" Laki laki yang sama, aku kira kemarin tukang ojek tapi sekarang dia dijemput oleh laki laki itu juga. Aah... paling tukang ojek yang udah disewa sama si gendut, lagian siapa juga yang mau sama cewek gendut kayak Dia, huufft..." Abi menggumam dengan pikiran pikiran yang tak tau datangnya dari mana.