
Beberapa hari berlalu Abi dan Dila anteng anteng saja tidak terdapat kontak dan konflik diantara mereka. Itu membuat Dila hidup aman dan tentram, tapi tidak dengan hidup Abi, dia saat ini tengan dilanda gelisah galau merana akut atau biasa disebut gegana.
Saat ini Arman sedang berapa di ruangan Abi,setelah rapat dengan klien di kantor, mereka terlihat ngobrol santai saja.
" Man,kamu makan siang dimana?." tanya Abi pada asisten pribadinya.
" Ya akhir akhir ini lebih sering makan di kantin sii pak dari pada di restoran seperti biasanya." Jawab Arman dengan nada menyindir karna ketika Abi dibuatkan makan siang oleh Dila, otomatis Arman hanya makan di kantin saja.
Biasanya Arman selalu mengikuti Abi makan siang di restoran,atau paling tidak memesan makanan dari restoran. Tapi belakangan ini Arman seperti karyawan biasa yang hanya makan siang dari kantin.
" Udah makanan di kantin enak juga kok, hitung hitung hemat Man." Tutur Abi seraya menyematkan senyuman ledekan.
" Sekarang aja bilang makanan kantin enak,rajin ngantin pula, dulu perasaan paling gedek kalo liat kantin." Batin Arman.
" Ya sudah ke kantin sekarang, sekalian bilang pada Tomi dan yang lain saya tunggu di kantin juga." Titah Abi.
" Siap pak." Jawab singkat Arman.
" Kirain nanya makan siang tadi mau ngajak ke resto mana gitu, ujung ujungnya kantin juga, hadeeeh."
Abi, Arman dan beberapa menejer bagian terlihat berkumpul di kantin sambil menikmati makan siang mereka. Di sela sela makan mereka pun membahas masalah pekerjaan.
Setiap datang ke kantin Abi hanya mencuri pandang pada stan dimana ada Dila sedang sibuk dengan pekerjaannya tanpa memperdulikan ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
***
Suasana di malam minggu ini sungguh syahdu, angin bertiup semilir langit cerah bertabur bintang dan bulan yang terlihat separuh tak mengurangi cahaya malam yang masih sangat terang akibat lampu lampu yang terpancar.
Di sebuah kamar kost kecil nan sempit itu ada seseorang yang meringkuk memainkan dawai yang ada di genggamannya. Yang tak lama setelah itu beranjak dari ranjang tempat tidur menuju pintu setelah terdengar bunyi ketukan yang mengagetkannya.
" Assalamualaikuum..." Bunyi suara dibalik daun pintu.
" Waalaikumsalam...." Jawab Dila seraya membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
" Pak Abi???? Bapak ngapain disini??" Tanya Dila kaget setelah melihat siapa yang datang.
" Gak disuruh duduk?" Kata Abi tanpa menjawab pertanyaan Dila.
__ADS_1
Dengan terpaksa Dila pun mempersilahkan wakil direkturnya itu untuk duduk.
" Silahkan duduk pak." Dila menunjuk kursi depan kamar.
" Kenapa bapak ada disini." Tanya Dila lagi ketika melihat Abi sudah duduk.
" Gak dikasih minum dulu gitu, teh, kopi, air putih juga gak pa pa kok." Lagi lagi pertanyaan Dila tak direspon oleh Abi.
Dila menghela nafas panjang.
" Adanya air kran, mau?" Dila menawarkan.
" Boleh, asal minumnya dari mulut kamu." Kata itu spontan keluar dari mulut Abi.
" APAA??"
" Gak ada apa apa. Ayo ikut saya sekarang."
" Kemana?"
" Tunggu saya ganti baju dulu kalau begitu." Dila tak punya pilihan lagi selain mengikuti perintah wakil direkturnya itu kecuali Dila memang mau terjadi debat kusir antara mereka.
" 5 menit." Cetus Abi.
Dila pun masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian. Tak lama Dila pun keluar dari kamar dan sudah terlihat rapi.
" Udah?" Tanya Abi .
Dila hanya mengangguk.
Abi dan Dila berjalan menuju mobil Abi yang terparkir di depan gerbang kost Dila. Dan Abi membawa Dila menyusuri jalanan yang semakin ramai saat malam minggu seperti ini.
Tidak ada suara di dalam mobil, sangat hening hanya deruan mobil yang terdengar. Penghuni mobil sibuk dengan pikirannya sendiri.
Abi berfikir kemana Dia akan membawa Dila pergi, karna tidak ada planing yang dia rencanakan, semua berjalan begitu saja.
*Flash back on *
__ADS_1
Dirumah Abi sedari sore hanya dikamar, dia mondar mandir, bangun dan berdiri dari ranjang nyamannya.
" Gimana ya caranya bisa ngerjain si gendut lagi, kok kayaknya gue udah terbiasa yaa ngerjain dia, masa minta dimasakin lagi, tapi alasannya apa?." Pikiran Abi dipenuhi dengan Dila.
" Sampe gini banget kenapa siih, kayak gak ada kerjaan aja gue mikirin sii gendut mulu. Tapi gue pengen banget ngerjain tu orang, kenapa dengan otak gue."
Lama Abi berfikir dan suara ketukan pintu mengagetkannya.
" Abii, makan dulu nak." Panggil bu Lasmi setelah membuka pintu kamar Abi yang memang tidak dikunci.
" Abi masih kenyang buu nanti saja kalau udah lapar Abi makan." Sahut Abi sambil tiduran di kasur.
" Kenyang mikirin apa siih? kata ayah kerjaan juga sudah gak berat berat amat."
Abi hanya diam, rasanya dia sangat malas untuk berbicara.
" Iya ibu gak ada arisan atau acara apa lagi gitu di rumah ini?" Pertanyaan Abi membuat kening ibunya berkerut.
" Mungkin bulan depan baru ada, kenapa emangnya? " Tanya bu Lasmi masih bingung dengan pertanyaan anaknya.
Lagi lagi Abi hanya geleng geleng saja. Tapi bukan bu Lasmi namanya kalau tidak tahu maksud putra bungsunya itu.
" Bii, ibu cuma pesan yaa sama kamu, jangan sampai kejadian Renata terulang kembali."
Mendengar kata kata ibunya Abi seperti berfikir sejenak lalu dia bangkit dari tidur malasnya kemudian menuju kamar mandi.
Bu Lasmi tersenyum melihat tingkah anaknya lalu meninggalkan kamar Abi.
lima belas menit Abi turun tanggal dengan berlari kecil mencari keberadaan bu Lasmi. Setelah mengetahui bu Lasmi yang sedang ada di dapur Abi segera menghampirinya.
" Abi pergi dulu buu, makasi sudah mengingatkan Abi." kata Abi seraya memeluk ibunya yang masih terlihat awat muda itu.
" Hati hati ya nak." ucapan singkat bu Lasmi diiringi dengan senyumnya.
Abi pun segera melajukan mobilnya menembus jalanan yang setiap hari ia telusuri.
* Flash back off *
__ADS_1