ISTRI GENDUTKU

ISTRI GENDUTKU
Kesepakatan Ibu dan Anak


__ADS_3

Keesokan harinya Abi sudah terlihat bersemangat. Dia berangkat ke kantor bersama dengan Arman asisten pribadinya.


Senyum ia tebar dimana mana sehingga membuat semua karyawan yang melihatnya ikut merasakan senang karna bisa melihat senyum wakil direktur mereka yang tampan.


Saat akan naik lift Abi berkata pada Arman.


" Lantai dua Man!"


Arman yang sudah tidak terkejut lagi dengan titah sang atasan segera menekan tombol yang menunjukkan angka 2.


Sampai di lantai dua, tepatnya di kantin Abi lalu mencari tempat duduk diikuti oleh Arman.


Pegawai kantin lantas menghampiri Abi.


" Selamat pagi pak Abi,pak Arman, ada yang bisa dibantu pak?" tanya Dasiman si penjaga stan bakso dan mie ayam yang kebetulan sedang meletakkan tisu di setiap meja.


" Buatkan kami kopi dan tolong panggilkan Fadila!" titah Arman kepada Dasiman mewakili Abi.


" Baik pak." kata Dasiman lalu berlalu pergi.


Tak lama Dila pun menemui Abi.


" Bapak memanggil saya?" tanya Dila sesampainya di meja Abi.


" Bagaimana dengan ciloknya." Abi langsung menanyakan apa yang sudah jadi alasan dia datang ke kantin.


Arman mengangkat alisnya lalu menggelengkan kepala seraya tersenyun dengan kelakuan bosnya.


" Iya pak sudah di proses."


" Oke nanti jam makan siang kamu antar ke ruangan saya." titah Abi.


" Baik pak." Kata Dila.


Lalu Dila pun pergi meninggalkan Abi dan Arman yang masih menikmati kopinya.


" Doyan cilok juga pak?" tanya Arman.


" Masi mau nyobak Man, ayo kembali ke ruangan ada yang mau saya omongin sama kamu."


Mereka pun berjalan pergi meninggalkan kantin.


Di ruangan Abi terlihat serius menatap Arman yang sedang duduk di depannya.


" Bapak mau bicara mengenai proyek pembangunan anak cabang yang akan kita dirikan dalam tahun ini?" tanya Arman yang tidak nyaman akan tatapan Abi yang terlihat rajam padanya.

__ADS_1


" Bukan Man ada pembangunan yang lebih penting lagi." kata Abi mulai mengalihkan pandangannya.


Arman mengerutkan alisnya.


" Apa itu pak?" tanya Arman.


" Pembangunan Restoran dan toko kue ." jawab Abi mantap.


Sontak membuat Arman menyipitkan mata, mencoba mencerna kata kata bosnya.


" Kenapa jadi beralih ke sana pak? bukanya selama ini bapak menolak jika membuka bisnis kuliner bahkan sudah sering bu direktur menyuruh bapak melakukannya." tutur Arman yang memang paham bahwa Abi tidak tertarik dengan bisnis kuliner.


" Ini juga utusan kanjeng mami Man, dan kamu tau kenapa saya sampai setuju ?" tanya Abi.


" Apa yang dilakukan ibu direktur pak sehingga bapak mau menyetujuinya" Arman bertanya balik karna memang penasaran.


" Ibu akan merekrut Dila sebagai partner usahanya." jelas Abi.


" Uwuuw....kok bisa pak?" tanya Arman lagi.


" Gak usah sok bodoh deh Man, bodoh beneran saya pecat kamu."


Arman meringis seperti orang tak punya dosa.


Kemarin setelah makan malam Abi terlihat murung dan berlalu meninggalkan keluarganya untuk kembali ke kamar.


Bu Lasmi yang seorang ibu yang sangat dekat dengan anak anaknya pun merasa tidak bisa tinggal diam melihat tingkah anaknya. Lalu bu Lasmi memutuskan pergi menemui putra satu satunya yang berada di dalam kamar yang berdekorasi monokrom tersebut.


" Masih galau Bii..." tanya bu Lasmi yang tiba tiba masuk ke kamar Abi tanpa mengetuk terlebih dulu.


Abi yang merebahkan diri di kasur empuk berukuran king itu pun terkejut melihat ibunya masuk dan seketika mengangkat tubuhnya untuk bangun kembali walaupun dengan rasa malas.


" Ibu,, galau apaan siih buu..." jawab Abi mengelak.


" Kamu hidup sama ibu itu udah berapa tahun, terus sejak kapan kamu bisa menyembunyikan masalah kamu dari ibu?"


Pandangan mata Abi hanya menerawang melihat lurus ke sembarang arah tak menjawab pernyataan dari ibu yang sudah melahirkannya.


" Ibu janji kalau ibu mampu pasti ibu bantu." lanjut bu Lasmi yang memang selalu membantu anak anaknya ketika ada masalah.


" Ga pa pa buu cuma masalah kerjaan aja."


Abi tetap berkilah.


" Lalu masalah kamu dengan Dila bagaimana?" pertanyaan yang frontal terlontar dari bu Lasmi.

__ADS_1


Abi kaget mendengar pertanyaan ibunya, Dia terlihat salah tingkah.


" Apa siih buk kok tiba tiba tanya dia sama Abi."


" Kamu lupa pertama kali kamu jatuh cinta sama Renata waktu SMA? Ibu juga tau kan meskipun kamu gak bilang dan ibu juga udah berkali kali bilang, Kalau memang suka bilang jangan dipendam tapi kamu malah kelamaan sampai delapan tahun baru ngomong. Akhirnya nyesel kan? Dan Arman sudah menceritakan semuanya, sejak sikap kamu aneh beberapa hari lalu Ayah dan ibu mencari tau lewat Arman."


" Sialan si Arman ngomong apa aja dia sama orang tua gue." Gumam Abi dalam hati.


" Kamu gak usah kesal sama Arman, harusnya kamu senang jadi kamu gak perlu cerita sendiri ke ayah dan ibu karna pasti kamu enggan menceritakannya." tutur bu Lasmi yang memang benar Adanya karna tau persis tabiat putranya.


" Ibu sama Ayah memangnya setuju Abi sama Dila?" tanya Abi yang masih ragu perasaannya dengan Dila tidak disetujui oleh orang tuanya karna status sosialnya.


Mendengar perkataan putranya, bu Lasmi tersenyum bijaksana.


" Orang tua ibu dulu atau kakek nenek kamu tidak pernah mengajarkan untuk membedakan status sosial, mereka tau betul bagaimana cinta terhalang oleh status sosial karena mereka mengalaminya sendiri, orang tua kakekmu tidak setuju dengan nenekmu tapi ya memang sudah jodoh bagaimanapun sulit prosesnya mereka akhirnya tetap bersatu. Mulai dari itu mereka berjanji tidak akan menggunakan status sosial untuk menghalangi cinta, dan menasihati bahkan mewanti wanti anak turunnya jangan sampai berbuat seperti itu, jadi ketika ibu dan ayah tau kamu suka dengan Dila yaaa kita tidak kaget, apalagi Ayah kamu tau keluarga Dila orang baik baik, orang tuanya pernah menyelamatkan nyawa ayah." penuturan Bu Lasmi disimak baik baik oleh Abi.


Seperti mendapat angin segar, Abi lalu tersenyum lebar seraya mencium pipi dan memeluk tubuh yang dianggap wonder womennya selama ini.


" Lalu gimana caranya ibu bantuin Abi, Abi gak tau gimana memulai pendekatan sama si gendut buu." kata Abi manja pada bu Lasmi dengan tangannya yang masih melingkar pada kedua lengan bu Lasmi.


Seperti mendapat ide brilian, bu Lasmi lalu mengatakan idenya pada Abi.


" Bikinin ibu restoran atau toko kue dan ibu akan merekrut Dila sebagai partner ibu. gimana?" seringai senyum penuh arti sekarang berada di raut wajah bu Lasmi.


" Waah itu sih mencari kesempatan dalam kesempitan ibu aja biar keinginan ibu selama ini dipenuhin sama Abi." kata Abi yang menyadari niat ibunya.


" Bukan kesempatan dalam kesempitan tapi sambil menyelam minum jus." kata bu Lasmi disertai dengan tawa renyahnya.


Abi memutar bola matanya jengah dengan kemauan ibunya.Tetapi pada akhirnya kesepakatan antara ibu dan anak itupun terjadi.


* Flash back off *


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya yaa readers, jika suka dengan karya saya mohon tinggalkan jejak like, komen dan votenya. Matur sembah nuwon 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2