
Dila kembali ke kantin dengan wajah bingung, dia hanya mondar mandir saja sedari tadi.
" Kamu kenapa Dila?" Tanya bu Tini memecah lamunan Dila.
" Emm nggak papa buk cuma...pak Darma menyuruh saya ke ruangannya."
"Apa ? pak Darma nyuruh kamu ke ruangannya?" Bu tini mengulagi perkataan Dila.
Mendengar perkatan bu Tini membuat Ilham dan Riska mendekati mereka.
" Maksud kamu pak Darma direktur perusahaan." Kata Ilham kemudian.
Dila mengangguk.
" Lu sebenarnya ada urusan apa sih Dut sama mereka, kemarin tiba tiba aja lu berurusan sama anaknya sekarang luu malah berurusan sama bapaknya ." Riska ikut menimpali karna memang Riska sudah dibuat penasaran sejak Dila berurusan dengan Abi.
Akhirnya Dila menceritakan kejadian dimana dia bisa berurusan dengan keluarga pak Darma.
" Terus sekarang kamu gak memuin pak Darma Dut?" Tanya Riska kemudian.
" Ya nemuin tapi...aku gak tau ruangannya dimana."
" Yaaelaah jadi dari tadi kamu mondar mandir karna gak tau ruangannya?" Ilham menimpali.
" Tapi kira kira ngapain ya pak Darma manggil aku?"
" Ya sudah Dil dari pada kamu terus bertanya tanya tanpa tau jawabannya, mending sekarang kamu cari tau ruangan pak Darma dan pergi menemuinya!" Tutur bijak bu Tini.
Akhirnya Dila pergi ke resepsionis untuk bertanya dimana ruangan pak Darma.
Setelah tau ruangan pak Darma di lantai 8, Dila pun buru buru menaiki lift menuju ke lantai 8.
Setelah sampai di lantai 8 Dila pun keluar lift dengan berlari karna takut pak Darma menunggunya terlalu lama.
Tiba tiba...
Bruuuggh...
" Oougghh..."
Dila terpental dan jatuh ke lantai, tubuhnya menabrak seseorang. Dila masi mengaduh dan mencoba berdiri. Sejenak Dila melihat siapa yang dia tabrak.
Alangkah terkejutnya ketika Dila melihat Abi yang kala itu akan pergi menemui klien di luar kantor, malah bertabrakan dengan Dila dan juga sekarang sedang jatuh dan tubuhnya masi duduk di lantai dengan tangan menumpu kebelakang. Sedangkan di sebelah Abi ada Arman yang hanya berdiri sambil melotot akibat terkejut melihat bosnya terjatuh dan tak segera menolong bosnya untuk bangun.
Beberapa saat setelah Arman sadar akan keterkejutannya, dia segera membantu bosnya untuk berdiri.
" GEENDOOOT." Teriak Abi setelah sebelumnya dia menoleh kanan dan kiri melihat apa ada orang atau tidak, Dan untung saja di lantai 8 hanya ada ruangan Direktur dan wakilnya saja jadi sangat minim orang berlalu lalang disana. Sehingga pada waktu Abi terjatuh tidak ada orang yang melihatnya.
" Sedang apa kamu berlarian disini HAAA..." Abi murka dengan kelakuan Dila.
Dila pun beranjak berdiri menggosok pantat kemudian tangannya yang sakit.
__ADS_1
" Maa...maaf pak, saya sedang buru buru." Jawab Dila sambil meringis menahan sakit dan juga takut melihat Abi yang marah kala itu.
" Saya bertanya, sedang apa kamu berada disini??"
" Saya mau menemui pak Direktur pak."
" Apa?? Menemui direktur??" Tanya Abi mengerutkan kedua alisnya bertanya tanya dan heran kenapa Dila akan menemui ayahnya.
" Ada apa kamu menemui direktur?"
" Saya tidak tau pak, pak direktur sendiri yang menyuruh saya menemui beliau."
Abi mematung dengan mimik muka penuh pertanyaan.
" Maaf pak, dimana ya ruangan pak direktur??"
Lagi lagi Abi hanya diam dan melihat Dila tanpa merubah mimik wajahnya.
" Itu lurus pojokan sebelah kanan." Kali ini Arman yang menjawab.
" Ka kalau begitu saya permisi dulu pak, dan sekali lagi saya minta maaf atas kejadian barusan."
Dila kemudian bergegas menuju arah yang tadi sudah diberi tahu oleh Arman.
Abi yang menyadari kepergian Dila, Dia lalu tersentak dan berteriak.
" Heii enak saja pergi tanpa tanggung jawab setelah membuatku jatuh..." Teriak Abi yang akan melangkahkan kakinya akan mengejar Dila.
Arman yang sadar dengan apa yang akan dilakukan oleh atasannya, segera mencegahnya.
" Huuuft...awas saja kamu gendut." Dengus Abi kesal.
Akhirnya Abi pun meninggalkan tempat itu dengan semua kekesalannya terhadap Dila.
***
Di depan sebuah ruangan Dila melihat seorang wanita yang duduk manis disana. Dan dia adalah sekertaris pak Darma.
" Permisi mbaak, maaf apa benar ini ruangannya pak direktur?" Tanya Dila kepada Kartika sang sekertaris.
" Oh iya benar, langsung masuk saja, kamu sudah ditunggu pak direktur !" Kata kartika sengan senyum manisnya.
" Terima kasih mbak."
Took....took....toook...
Dila mengetuk pintu sebelum dia mendengar sahutan dari dalam yang menyuruhnya masuk.
" Permisi pak ." Kata Dila sambil melangkah mendekat ke meja direktur.
" Iya kemarilah nak." Sambut pak Darma dengan ramah.
__ADS_1
" Maaf pak, ada keperluan apa bapak memanggil saya?"
" Kita ngobrol disana saja biar lebih nyaman." Kata pak Darma
Pak Damar berjalan menuju sofa yang ada di ruang kerjanya. Lalu Dila pun mengikutinya dan duduk di hadapan pak Damar.
" Bagaimana kabar kedua orang tua dan adik adikmu nak?" Pak Damar memulai obrolannya.
" Orang tua saya sehat sehat semua pak." Jawab Dila tersenyum sambil menunduk.
" Iya nak Dila saya sangat berhutang budi dengan pak Wiro dan adik kamu Dika, dan sudah pasti saya ingin sekali membalas budinya."
" Sudah seharusnya kita menolong sesama ketika ada yang kesusahan pak."
" Iya tapi saya juga ingin berbuat baik dengan pak Wiro walaupun hanya sedikit yang bisa saya lakukan, karna pak Wiro juga telah menolak pemberian dari saya, dan saya ingin mengundang pak Wiro dan keluarga sekedar untuk jamuan makan di rumah saya. Bagaimana nak Dila, kamu yang sebagai perwakilan dari orang tuamu?"
" Nanti saya akan mengatakan pada orang tua saya pak, Tapi sebenarnya bapak tidak perlu repot repot melakukan ini, karna kami akan merasa tidak enak dengan bapak."
" Tidak nak, saya tau pak Wiro orang baik dan ketika saya menawarkan apapun guna untuk membalas jasanya, beliau menolak, maka dari itu saya ingin sekali menjamu pak Wiro di rumah saya. seperti saat saya diperlakukan dengan baik ketika berada di rumah kalian."
" Baik pak, saya rasa orang tua saya nanti akan bersedia dengan undangan bapak."
" Baiklah jika seperti itu, nanti akhir minggu, saya akan menjemput mereka."
" Baik pak." Jawab Dila singkat.
Setelah dirasa cukup, pak Damar menyudahi perbincangan mereka, dan menyuruh Dila kembali bekerja.
Dila kembali ke kantin dan membantu teman temannya. Tentu setibanya Di kantin temannya memberondongnya dengan serentetan pertanyaan dan Dila pun menceritakannya.
***
Malam hari ketika jam makan malam di kediaman pak Darma, keluarga harmonis itu terlihat sangat menikmati makan malamnya.
Di sela sela makannya Pak Darma terlihat berbincang bincang dengan anak dan istrinya.
" Ibu, Abi, Ayah akan mengundang keluarga pak Wiro untuk makan di rumah kita, bagaimana menurut kalian?" Tanya pak Darma di sela makannya.
" Kapan yah? Iya ibu setuju yah dengan begitu ibu juga bisa mengenal keluarga pak Wiro." Sambut senang bu Lasmi.
" Rencananya akhir minggu ini, dan ayah tadi sudah membicarakannya dengan Dila putri pak Wiro."
" Oh yang katanya kerja di kantin itu ya yah?" Kata bu Lasmi memastikan.
Pak Darma menjawabnya hanya mengangguk dan tersenyum.
"Oh berarti gendut ke ruangan ayah tadi karna ini." Gumam Abi dalam hati.
" Bagaimana Bii kalau misalnya kamu nanti yang menjemput mereka?" Pak Darma menawarkan pekerjaan mulia kepada putranya.
" Apa tidak supir saja yang jemput yah?" Kata Abi yang bermaksut menolak tawaran ayahnya secara halus.
__ADS_1
" Bisa saja Bii kalau supir yang menjemput tapi ayah rasa itu kurang sopan, dan kalau kamu tidak bisa ya biar ayah sendiri yang akan menjemputnya." Ucap pak Darma yang mengetahui bahwa putranya tidak akan bisa menolak jika ayahnya sudah melibatkan dirinya sendiri.
" Baiklah ayah, besok biar Abi saja yang menjemputnya." Jawab Abi pasrah.