
Sudah satu minggu ini Dila tidak masuk kerja karna sakit.Dan sudah satu minggu itu juga Abi tidak enak makan, entah mengapa lidahnya serasa enggan menikmati makanan yang ia makan.
" Pak, Bapak sakit? saya lihat dari tadi bapak nggak fokus kerja bahkan saat rapat dengan klien tadi." Tanya Arman di sela sela jam istirahatnya bersama atasannya.
" Nggak kok Man, saya nggak papa, Saya cuma lapar tapi nggak ada yang bisa dimakan." Ucap Abi sambil melamun.
" Nggak ada yang dimakan gimana ceritanya, orang tinggal milih tinggal tunjuk ini ." Batin Arman sambil mengerutkan dahinya.
" Bapak mau saya menyuruh pegawai kantin yang gendut itu untuk membuatkan makanan bapak?"
" Ya justru itu Man, Dia seminggu ini gak masuk ker....." Abi tidak melanjutkan kata katanya.
"Huuff...." Abi mengusap kasar wajahnya.
" Gue ngomong apa siih ,bisanya ngomong gitu ke Arman"
" Maksud bapak gendut gak masuk kerja selama seminggu karna masih sakit?" Tanya Arman. "Kok sampe tau kalo gendut gak masuk seminggu, gue aja yang tiap hari ke kantin gak pernah merhatiin ada apa gaknya"
"Aah sudahlah Man gak penting juga, ngapain ngomongin si gendut, kita ngopi di luar aja." Ucap Abi seraya berdiri dan meninggalkan singgasananya.
Arman hanya pasrah mengetahui bosnya sedang galau, lebih memilih cari aman saja dari pada nanti panjang urusannya.
" Ya sudah Dut kalau gak bisa gak apa apa, aku pesan kuenya sama bu Tini aja yaa, kamu cepet sembuh ya Dut!" Indah menutup telfonnya.
Tanpa disadari Indah ada sepasang mata yang baru keluar dari ruangan mengintai akhir obrolannya dengan seseorang di telfon barusan.
" Kamu sedang telfon siapa Ndah?" Tanya Abi penuh selidik.
" Oh anu pak Telfon Didut mau pe......"
" Kamu ikut saya sekarang." Perkataan Indah langsung dipotong oleh Abi.
Abi segera melangkahkan kakinya dan Indah yang sigap langsung menyambar tas yang berada di dalam laci lalu segera mengikuti langkah bosnya.
Abi membawa aspri dan sekertarisnya ke caffe dekat kantornya untuk menghilangkan suntuk yang dirasakannya dan sekarang mereka sudah terlihat duduk di pojokan bangku caffe dengan pesanan yang juga sudah ada di meja.
" Oh iya telfon siapa kamu tadi Ndah?" Abi mulai basa basi dengan Indah.
" Itu, Didut pak!"
" Ngapain kamu telfon Dia ?"
" Mau pesan kue pak, tapi gak bisa Didutnya."
" Emang kenapa gak bisa?"
" Lagi sakit pak."
" Sakit apa?"
" Tipes."
__ADS_1
" Apa, tipes? kok bisa? trus sekarang dia dimana? di rawat nggak? ato di rumah orang tuanya? trus sekarang uda sehat belum? kapan balik kerja?" Serentetan pertanyaan Abi membuat kedua orang yang dihadapannya bingung hanya bengong melihat tingkah laku bosnya.
" Atu atu bos nanyanya." Celetuk Arman.
" Eheemm...." Abi berdehem lalu mengendurkan dasinya lalu bersikap sok cool, menutupi hal konyol yang barusan dia tunjukan di depan ke dua anak buahnya.
" Daah jawab Ndaah." Ucap Arman seolah olah dialah yang mengendalikan situasi.
" Didut sempet dirawat di puskesmas dekat rumah aja pak, sekarang uda baikan tinggal mulihin tenaga aja, paling minggu depan baru bisa masuk kerja pak." Indah menjelaskan apa yang sudah dibicarakannya dengan Dila waktu ditelfon tadi.
" Haaa Minggu depan? bisa gak makan seminggu saya." Spontan kata kata itu mencelos dari mulut Abi.
Lagi lagi Arman dan Indah yang kaget mendengar kata katanya.
" Ehmm... mak...maksut saya, saya mau nyuruh Dia masakin makan siang kaya kemarin karna Dia masi punya hutang sehari sama saya, enak aja masi kurang sehari ditinggal sakit ya tambahin lagi hukumannya." Ucap Abi berkilah.
" Bapak mau jenguk?" Tanya Arman menggoda bosnya.
" Jenguk? Ngapain? Emang siapa pake saya jenguk segala? " Sok tidak peduli.
" Yeee gak ada salahnya juga kali bos jenguk orang sakit, bantu bantu dikit,itung itung ibadah." Ceramah Arman.
" Yaa saya bantu doa aja dari sini." Abi masih kekeh sok tidak peduli.
" Pelit banget bos." Arman mendengus.
" Oke saya pelit, bayar sendiri tagihan caffe ini." Kata Abi seraya beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Arman dan Indah yang bengong.
" Lhaa terus ini gimana , sapa yang bayar?"
" Ya udah bapak yang bayar." Kata Indah yang juga langsung ngibrit mengikuti bosnya yang sudah duluan.
" Yaah yaaah tekor deh gue, mana ni caffe mahal pisan." Kata Arman sambil tepok jidat.
Dengan terpaksa akhirnya Arman yang harus membayar tagihan yang ada di caffe.
***
Satu minggu sudah berlalu, Abi sampai kantor seperti biasanya dan ketika sampai di kantor dia bertemu Arman yang sedang di lobi.
" Selamat pagi pak." sapa Arman pada Bosnya.
" Pagi man, Berkas buat nanti rapat sudah siap?"
" Sudah siap pak tapi sebagian ada yang masih di Indah."
Abi hanya menanggapi dengan mengangguk.
Lalu mereka masuk ke dalam lift dan ketika tangan Arman hendak menekan tombol 8 untuk sampai ke ruangan bosnya, tiba tiba tangan Arman ditepis oleh Abi dan kini Abi lah yang menekan tombol 2.
" Tombol 2 kan kantin, mau ngopi dulu apa si bos?" Batin Arman
__ADS_1
Lift pun sampai di lantai 2, Abi pun keluar lift dan diikuti Arman yang masi dalam mode bingung.
Setelah sampai di depan kantin, Abi hanya melihat ke arah kantin matanya menyisir kesana kemari. Dan seperti sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, Abi pun berbalik menuju lift kembali dan barulah dia menekan tombol 8.
Arman yang sedari tadi hanya diam diam saja dan hanya memperhatikan bosnya yang tiba tiba senyum senyum sendiri pun akhirnya cuma bisa geleng geleng kepala.
Sampai di lantai 8, dirasa sudah tidak ada yang dibahas lagi dengan bosnya sampai nanti tiba waktu rapat dengan klien, Arman pun langsung menuju meja kerjanya dan si bos masuk ke ruangannya seorang diri.
Saat sampai di ruangan dan pintu sudah tertutup rapat, tiba tiba saja Abi merasa kegirangan, dia mengepalkan tangannya di depan dadanya sambil tertawa girang seakan akan baru menang lotre. Entah setan apa yang merasukinya.
***
Di kantin....
" Didut kamu udah beneran sehat?" Tanya Riska pada Dila yang baru hari ini masuk kerja setelah sakit.
" Udah Ris, maaf yaa lama nggak bantuin kalian." Ucap Dila dengan wajah yang masi sedikit terlihat lesu.
" Nggap pa pa Dila, yang penting sekarang kamu sudah bisa kerja lagi dan jangan terlalu capek dulu karna kalau sakit tipes memang lama pulihnya." Bu Tini menimpali.
" Iya Buu."
Di ruangan Abi, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu hingga Arman masuk ke ruangannya saja dia terkejut.
" Pak jam 10 nanti kita rapat di luar kantor sampai jam makan siang dan sepertinya sore baru selesai karna klien kita meminta kita ikut meninjau lokasi." Penjelasan Arman membuyarkan lamunan atasannya.
" Kenapa kita tidak makan siang di kantor saja, nanti setelah makan siang kita berangkat lagi."
" Akan memakan banyak waktu pak jika harus bolak balik ke kantor karna lokasinya searah dengan tempat rapat dan juga klien kita juga sudah mereservasi restoran untuk makan siang kita." Jelas Arman dengan tegas.
Abi pun mengIyakan apa saja yang sudah dijelaskan oleh Arman.
Hari pun mulai senja dan jam kantor karyawan juga sudah selesai. Abi pun sudah menyelesaikan urusan dengan kliennya dan tiba juga waktu Abi untuk pulang.
" Kita langsung pulang pak?" Tanya Arman yang fokus menyetir.
" Kita ke kantor dulu man ada berkas yang belum saya tanda tangani tadi sebelum kita pergi rapat." Jawab Abi.
Arman pun melajukan mobilnya menuju kantor lagi.
Ketika mobil yang dikendarai Abi akan memasuki kantor, dia melihat Dila yang berjalan menuju jalan raya dan di pinggir jalan raya itu Abi melihat Dila menghampiri seseorang. Abi pun menoleh ke belakang dan melihat Dila berlalu dengan dibonceng oleh seseorang tersebut.
" Ada apa pak? bapak melihat sesuatu?" Tanya Arman yang tau dari sepion depan bahwa bosnya yang duduk di bangku penumpang menoleh kebelakang seperti melihat sesuatu hal.
" Oh nggak kok Man."
Armanpun hanya mengangguk.
" Siapa yang menjemput gendut? perasaan itu bukan adik laki lakinya." Batin Abi penuh dengan tanya.
.
__ADS_1