ISTRI GENDUTKU

ISTRI GENDUTKU
Renata


__ADS_3

Sore haripun Abi telah sampai di rumahnya dan sepertinya ada tamu, karna di depan ada mobil asing yang terparkir.


Sesampainya di depan pintu seperti biasanya Abi selalu mengucap salam.


" Assalamualaikuum..."


" Waalaikum salam..."


Terdengar sahutan orang menjawab salam dari ruang tamu.


" RENATA...." Abi mengucap nama itu setelah melihat sosok wanita cantik dan sexy yang duduk di kursi ruang tamu.


" Hai Bii, baru pulang?" Renata pun berdiri menghampiri Abi dan menjabat tangannya.


" Hemmm iya... kamu kok disini? " jawab Abi heran lalu tersenyum masam sambil membalas jabatan tangan yang dilayangkan oleh Renata.


" Hemmm...gimana masih suka sama masakan buatan aku kan?" tanya Renata tanpa menjawab pertanyaan Abi.


Abi masih mencerna kata kata yang diucapkan Renata.


Lalu datang bu Lasmi menghampiri mereka.


" Abi kamu sudah pulang nak, mandi dulu sana, Rena kesini mau ketemu sama ibu katanya kangen sama Ibu." kata bu Lasmi pada putranya.


" ooh, yasudah Abi ke kamar dulu buu." ucap Abi tanpa melihat ke arah Renata dan berlalu pergi.


" Sial ternyata yang tadi masakan Renata." Gumam Abi dalam hati.


" Yuuk Ree kita duduk lagi." titah bu Lasmi pada wanita didepannya.


Dan Renata tampak kecewa saat melihat Abi pergi, Dia hanya menatap nanar punggung Abi yang mulai menjauh. Renata dan Bu Lasmi pun kembali duduk ke kursi ruang tamu.


Tak lama Renata pun pamit pulang pada bu Lasmi. Dan ketika hendak ke kamar bu Lasmi berpapasan dengan Abi yang akan pergi ke dapur mengambil minum. Abi kelihatan celingak celinguk melihat ke ruang tamu.


" Udah pulang buu tamunya." tanya Abi pada bu Lasmi.


" Udah barusan." jawab bu Lasmi singkat.


" Ngapain kesini, kok sendirian?" tanya Abi lagi.


" Gak usah kepoo Bii bukan urusan kamu, minggu besok ajak Dila kesini !. " jawab bu Lasmi ketus seraya berlalu meninggalkan Abi.


" Lhaaah ngapa sewot siih kanjeng mami, emang salah gue nanya." Abi menggerutu.


Hari minggupun tiba, Abi pagi ini juga sudah bersama Dila di rumah keluarga Abi. Dan kini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga dan karna ini hari minggu, kakak Abi juga berada disana.


Dila tampak sedang bermain dengan Nawang, keponakan Abi yang cantik, centil dan lucu itu. Mereka sudah kelihatan sangat akrab karna Dila juga sangat menyukai anak kecil.


" Tantee Didut ayo sisiri dan kepang barbienya, Nawang belum bisa." ucap pemilik suara cempreng yang menggemaskan itu.


" Sini tante ajari mengepang." sahut Dila.


" Tante Didut? kok panggil gitu nak, emang panggilan apa itu?" tanya Dewi pada anaknya yang belum pernah mendengar sebutan itu.


" Tante Didut itu artinya Tante Dila gendut bunda." kata polos gadis cilik itu dengan senyum khasnya yang mungil.

__ADS_1


" Sstt...nggak sopan itu nak, dapat dari mana kata kata itu nak?." tanya Dewi lagi.


" Kata om Abi gitu ndaa, Nawang suruh panggil gitu." lagi lagi ucapan polos itu keluar dari bibirnya.


Semua mata melihat ke arah Abi. Bu Lasmi yang duduk disebelah Abi tak lama lama langsung menjewer telinga Abi.


" Aduuh aduuh duuh sakit sakit buu ampuun." pekik Abi yang telinganya berada di genggaman ibunya.


" Ngajarin anak itu yang bener." kata bu Lasmi dengan kesal.


Abi hanya meringis sambil mengusap telinganya yang memerah akibat tarikan ibunya.


Yang melihat Abi kesakitan pun tertawa renyah.


" Iya Bii kamu nikahnya kapan? jangan main lamar anak orang aja gercep, nikahinnya tar sok tar sok kaya ditagih utang rentenir aja." tanya Firman sang kakak ipar.


Dila dan Abi lalu penpandangan sejenak.


" Iya Bii takutnya ada hal hal yang gak diinginkan." kali ini Dewi sang kakak yang berbicara.


Pak Darma dan bu Lasmi melihat ke arah Abi dan Dila bergantian seolah olah menunggu jawaban yang pasti dari mereka.


" Kalo saya mah besok pun gak apa apa nikah, yaang onoo tuuh yang tar sok tar sok kalau ditagih." jawab Abi sambil menunjuk Dila dengan dagunya.


" Yaa paling tidak saya menyelesaikan sekolah koki dulu, biar nanti kegiatan restoran dan yang lain tidak terbengkalai." tutur Dila.


" Kegiatan yang lain apa Dil?" tanya Firman ingin memperjelas.


" Ya kegiatan nyenengin suamii laaah....mas Firman kaya gak pernah disenengin sama kak Dewi aja." Abi menimpali kata kata Firman yang memang mermaksud meledek Dila dan Abi.


Semua orang pun tertawa terkecuali Dila yang hanya Diam tanpa kata sambil memainkan boneka barbie milik Nawang dan pipinya memerah menahan malu .


" Permisi pak, buu... Ada mbak Renata datang." kata mbak Surti sang Art memberitahukan majikannya.


Semua mata tertuju pada Renata.


" Selamat pagi oom, tante, semua." sapa Renata dengan senyum ramahnya.


" Waah sedang berkumpul semua, semoga saya tidak mengganggu, saya boleh gabung kan om,tante?" lanjut Renata tanpa sungkan.


" Oh tentu saja nak silahkan duduk," pak Damar mempersilahkan.


Dan Renata pun duduk disebelah Dewi yang memang masih kosong.


" Apa kabar kak Dewi lama yaa kita gak ngobrol." sapa Renata pada Dewi.


" Baik Ree, kamu kok sendiri aja Suami kamu mana?" tanya Dewi.


" Ee...e Dia masih di luar kota." jawab Renata seperti enggan untuk menjawab.


" Oh iya Ree kenalin itu Dila tunangannya Abi yang ibu katakan tempo hari." ucap bu Lasmi sambil menunjuk Dila yang sedang duduk memangku Nawang.


Dila pun meletakkan Nawang untuk duduk disebelahnya , lalu Dila berdiri menghampiri Renata untuk menjabat tangannya.


Renata pun melakukan hal yang sama, membalas jabat tangan Dila. Renata mengamati Dila dari atas hingga bawah tubuh Dila lalu dia menatap dengan senyum penuh ledek pada Dila. Dila seperti paham akan arti tatapan dan senyuman itu pun lalu menundukkan kepala lalu berbalik kembali ke tempat duduknya semula.

__ADS_1


Bu Lasmi yang mengamati kejadian itu menyikut Abi yang duduk disebelahnya seakan menyuruh Abi berpindah duduk mendekati Dila. Abi pun cukup mengerti dengan kode dari ibunya lalu berpindah duduk di sebelah Dila dan memangku tubuh Nawang.


" Iya tante, om ini saya bawakan chesee cake dan tiramisu, silahkan dimakan!" Renata menyodorkan sebuah kotak yang tadi dibawanya. " Abi ini kue kesukaan kamu kan?" lanjut Renata.


Tak menjawab tawaran Renata, Abi hanya melemparkan secuil senyum lalu meletakkan kepalanya di bahu Dila. Dila pun hanya melirik Abi dan memaksakan senyumnya.


" Biar saya ambilkan piring dulu di dapur." Dila tiba tiba berdiri akan pergi ke dapur hingga membuat kepala Abi yang masih di pundaknya jadi terhempas.


Abi pun berdecak sebal karna kelakuan Dila yang tiba tiba.


" Biar saya saja nggak pa pa saya masih ingat kok tata letak dapur rumah ini, kamu gak usah repot." cegah Renata.


" Kalian Tidak usah repot Dila, Renata biar mbak Surti aja yang ambil." bu Lasmi mencegah mereka dan memanggil mbak surti untuk mengambil piring.


Lalu bu Lasmi pun memanggil mbak Surti untuk mengambilkan piring.


"Makanya kamu duduk anteng disini aja, udah enak enak maen berdiri aja." bisik Abi pada Dila saat Dila sudah duduk kembali disampingnya.


Mbak surti pun datang membawa beberapa piring roti beserta sendoknya lalu meletakkannya di meja.


" Biar saya saja yang ambilin yaa." Renata dengan sigap mengambil piring lalu meletakkan roti pada piring tersebut dan membagikannya pada semua.


Semua orang menikmati kue buatan Renata. Abi tak sungkan sungkan menunjukkan kemesraannya pada Dila, menyuapi, membersihkan sisa kue yang menempel di bibir Dila. Sedangkan Dila sedikit malu menanggapi sikap calon suaminya.


Renata sedikit kesal melihat pemandangan di depannya.


" Iya tante bagaimana kalau restoran tante menjual kue seperti ini, nanti biar saya yang membantu mengelola produksi dan pemasarannya." Renata mencoba mengalihkan kekesalannya.


" Itu semua terserah mereka Ree, karna semuanya Dila dan Abi yang mengelola." bu Lasmi berbicara dengan nada datar.


" Gimana Bii, kamu kan suka kue seperti ini dan pastinya nanti akan laku keras karna kue ini yang paling diminati sekarang ini." kata Renata mencoba meyakinkan Abi agar sarannya diterima.


" Kayaknya gak dulu Ree karna konsep restoran kami adalah makanan Indonesia jadi kami hanya menyuguhkan makanan dengan gaya asli Indonesia, di luar itu kami tidak busa menggunakannya." jawaban Abi yang tegas membungkam mulut Renata.


Renata merasa sangat kecewa karna jawaban tegas Abi. Dia melirik sinis pada Dila.


Menjelang siang Dila berpamitan akan pulang dan Abi akan mengantarkannya.


" Bii aku tadi kesini naik taksi, kalau boleh aku ikut sekalian mobil kamu bisa?" kata Renata yang lagi lagi tanpa sungkan dengan keluarga maupun Dila.


" Lhooh Ree kok buru buru , kita belum ngobrol banyak kan." kata Dewi yang dulu memang cukup dekat dengan Renata.


" Iya buru buru aja , sini dulu main, tapi kalau kamu tinggal di rumah kamu yang dulu berati berlawanan arah dong sama Abi jadi kamu gak bisa nebeng Ree. " kata bu Lasmi mencoba menahan Renata supaya tidak ikut bersama Abi.


" Nanti saja pulangnya Renata, biar nanti supir yang mengantar." kali ini pak Darma ikut menimpali.


Tidak ada pilihan lain, Renata pun akhirnya mengIyakan tawaran keluarga itu walau dengan rasa kecewa.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa votenya readers sayang, matur suwon.


__ADS_2