ISTRI GENDUTKU

ISTRI GENDUTKU
Cerita Dirga


__ADS_3

Di dalam kamar, Dila berdiri di depan kaca. Dia melihat wajahnya yang menorehkan senyum disana. Senyumnya memudar kala pikirannya tertuju pada hal hal yang tidak semestinya terjadi.


" Gak usah GR Dila, pak Abi cuma nyari temen aja. gak usah bayangin yang enggak enggak, kamu gak pantes ada disamping pak Abi, kita hanya sebatas atasan dan bawahan aja.


Haduuuh....jadi ngelantur gini sih, kejauhan mikirnya." Dila berbicara pada dirinya sendiri sambil mengacak acak rambut lurusnya.


Kemudian Dila bergegas membersihkan dirinya ke kamar mandi dan bersiap untuk tidur.


Abi melesatkan mobilnya dengan hati yang berbunga bunga, senyum manis masih mengembang di wajahnya. Namun tiba tiba mobil yang dikendarainya oleng.


" Kenapa ini mobil?" kata Abi sambil menepikan mobilnya.


Abi turun dari mobil dan melihat keempat bannya. Ya ternyata salah satu ban mobil Abi ada yang kempes.


" Haaiiisshhh....kok bisa kempes siih?" umpat Abi.


Lalu Abi masuk ke dalam mobil untuk mengambil hp miliknya. Ia sedang mencoba telfon beberapa kali nomor yang ia tuju, namun sayang kelihatannya tak ada yang tersambung.


Jalanan masih ramai dan tak jauh dari Abi berhenti ada beberapa warung yang masih terlihat ramai pengunjung.


Abi berniat meminta bantuan kepada orang yang ada disana, namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah motor menghampirinya.


Dan pemilik motor itu pun berhenti untuk menawarkan bantuan. Dan sepertinya Abi mengetahui siapa pemuda yang menghampirinya.


" Ada yang bisa dibantu pak?" tanya pemuda yang tak lain adalah Dirga kakak sepupu Dila.


" Oh kamu, iya ini ban saya kempes." kata Abi sambil menunjukkan bannya yang kempes kepada Dirga.


" Sudah telfon bengkel?" tanya Dirga lagi.


" Sudah tapi tidak ada jawaban dari mereka dan sialnya lagi dongkraknya tertinggal di rumah." Abi tampak kesal dengan keteledorannya sendiri dan juga bengkel langganannya yang saat dibutuhkan seperti ini malah tidak bisa dihubungi.


" Saya ada kenalan orang bengkel barang kali bisa membantu."


" Iya tidak apa apa coba saja kamu suruh kesini kalau memang bisa.


Dirga pun menelfon seseorang,dan meminta bantuan padanya.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, orang yang ditelfon Dirga pun datang dengan membawa peralatan yang dibutuhkan.


" Kalau bapak tidak keberatan,Sambil menunggu bagaimana kalau kita ngopi dulu di warung." Tawar Dirga.


" Iya boleh juga, panggil Abi saja dan tidak usah terlalu formal."


Mereka berdua berjalan menuju warung kopi yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat mobil Abi. Dan mereka pun memesan kopi kepada pemilik warung.


" Kamu dari mana , bisa kebetulan bertemu saya." Tanya Abi memulai obrolan mereka.


" Saya barusan cari makan dan bertemu dengan teman teman saya sebentar." Dirga menjawab dengan wajah datar.


Abi sepertinya kurang leluasa ngobrol dengan Dirga, seperti ada rasa ketidak sukaan terhadap pemuda yang sudah membantunya itu. Tapi entah apa yang membuatnya tidak nyaman dengan Dirga.


" Apakah Dila sudah sampai kostan dengan selamat?" Tanya Dirga tiba tiba membuat Abi sedikit mendongakkan pandangannya pada Dirga.


" Ooh kamu tau saya baru pergi dengannya?." jawab Abi tenang.


" Ya karna ketika saya akan menjemput Dila, saya melihat kamu sudah menjemputnya duluan." Ucap Dirga dengan nada kecewa.


" O." Abi hanya ber O ria.


" Saya salut sama Kamu, kamu hanya kakak sepupunya kan, tapi perlakuanmu padanya sudah seperti kakak kandungnya." Kata Abi menimpali ucapan Dirga.


" Yaa saya memang dianggap saudara sepupu Dila, tapi saudara jauh dan sikap saya seperti itu bukan sebagai kakak sepupu ataupun kakak kandung melainkan sebagai orang yang mencintainya." Dirga bertutur dengan sangan serius dan penuh penekanan.


Abi membenarkan firasatnya mengapa Dia sampai memiliki perasaan tidak suka pada Dirga.


" Apa Dia tahu kalau kamu memiliki perasaan padanya?"


" Tidak hanya sekedar tahu bahkan mungkin Dila sudah bosan untuk menolak saya, karna sejak dari SMK saya sudah menyatakan perasaan saya padanya. Sampai sekarang saya tetap tidak akan menyerah untuk mendapatkannya, dan jika ada yang bertanya kapan saya akan menyerah, jawabannya nanti setelah Dila benar benar bahagia bersama orang lain."


"Dih kasian bener nih cowok, udah ditolak bertahun tahun masih aja gak nyerah, **** atau gak ada yang mau ma dia" Batin Abi.


" Sebesar itukah rasa cinta kamu terhadapnya." Abi mulai memperlihatkan senyum sinisnya.


" Bukan tanpa alasan saya mencintainya, Dila memang wanita yang patut diperjuangkan. Walaupun dari dulu Dia sering mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan di sekolah ataupun di lingkungannya, sering di buli,di hina tapi dia tetap berbesar hati untuk tidak marah atau membalasnya. Dia membungkam mulut mulut sampah mereka dengan prestasi yang membanggakan, membuat semua orang yang pernah menghinanya tertunduk malu dan berbalik mengaguminya. Belum lagi pengorbanannya pada keluarga yang sekarang pun masih membantu orang tuanya menyekolahkan adik adiknya. Saya dan Dila dulu pernah merasakan berjuang bersama, saat ekonomi keluarga kami benar benar terpuruk." Dirga terlihat berkaca kaca saat menceritakan kisah hidupnya bersama Dila.

__ADS_1


" Sesulit apa perjuanganmu dulu bersamanya." Tanya Abi yang sedari tadi menyimak dengan seksama cerita Dirga.


" Kami dari SMP sampai SMK selalu satu sekolah tapi saya kakak kelas dua tingkat dari Dila.Dila dari SMP sudah berjualan kue keliling, di sekolah, di kampung, dan saya yang membantunya berkeliling. Ketika malam Dila ikut saya menjadi tukang parkir, bahkan pernah beberapa kali kami menjadi pengamen. Dan ketika saya sudah tamat sekolah dan masih bekerja di kampung saya masih membantu Dila menjualkan kue nya di tempat kerja saya. Dan ketika saya bekerja disini saya senang ternyata Dila juga bekerja disini bahkan kost kami juga berdekatan." Dirga terlihat sangat bangga bisa menceritakan kisahnya kepada Abi.


Abi menghela nafas panjang setelah mendengar cerita Dirga. Rasanya dia ingin sekali bertemu dengan Dila lagi. Entah rasa apa itu karna Abi masih belum bisa menafsirkannya dengan jelas. Ingin sekali Abi berucap tapi Abi takut salah mengartikan perasaannya dan akhirnya tidak ada yang bisa dikatakan pada Dirga. Keheningan


tercipta sesaat,Hingga ada orang yang mendatangi mereka.


" Mas mobilnya sudah beres." Kata lelaki itu yang ternyata adalah montir.


" Oh oke," Abi segera membayar tagihannya.


Dan montir itupun pergi.


" Mobil saya sudah selesai, saya mau pulang dulu." Abi berpamitan pada Dirga.


" Sebentar,,," Cegah Dirga.


" Apa masih ada yang akan kamu ceritakan?." tanya Abi.


" Apa kamu mau bersaing sehat dengan saya?"


" Ha ha ha saya salut atas kepercayaan diri kamu, kamu yakin sekali kalau kita menyukai wanita yang sama, entah dari mana kamu mendapat keyakinan itu." Tawa Abi meledak.


" Kalau saya salah menilai kamu,saya minta maaf dan tolong jauhi Dila mulai sekarang, tapi jika penilaian saya benar, saya tunggu jawaban kamu jika kita bersaing secara sehat."


" Apa kamu tidak takut jika saya menggunakan uang untuk mendapatkannya."


" Silahkan saja, karna saya sangat tahu Dila, Dia tidak akan melihat orang hanya dengan materi, buktikan saja kalo kamu tidak mempercayai saya." Dirga seperti orang yang sudah mengenal Dila luar dan dalam.


" Ingat saya akan memperjuangkan Dila sampai dia benar benar bahagia, terlepas dengan siapa kelak dia akan bahagia." tutur Dirga yang ternyata semakin membuat telinga Abi memanas.


Abi sendiri ingin segera mengakhiri obrolannya dengan Dirga.


" Oke lakukan apa yang kamu mau, dan saya juga akan melakukan apa yang ada di depan saya nanti. Sepertinya sudah cukup saya akan pulang sekarang. Dan terima kasih sudah membantu membantu saya." Ucap Abi mengakhiri perbincangannya dengan Dirga.


Akhirnya mereka benar benar mengakhiri obrolannya dan masing masing meninggalkan tempat dimana mereka bertemu.

__ADS_1


Abi membawa mobil dengan gusar, dia mengusap wajahnya dan mengingat semua yang dikatakan Dirga tentang Dila kepadanya.


__ADS_2