ISTRI GENDUTKU

ISTRI GENDUTKU
Harus menunda


__ADS_3

Dua hari lagi acara resepsi di rumah Dila di gelar. Hari ini Abi dan Dila berangkat ke rumah pak Wiro. Sesampainya disana mereka disambut oleh keluarga dan kerabat yang sudah berkumpul dengan sangat gembira, karna mereka pun tak menyangka kalau Dila bisa diperistri oleh pemuda tampan nan kaya.


Abi sampai kuwalahan menjawab pertanyaan dan godaan godaan dari mereka.Dila pun yang sedari tadi meninggalkan Abi sendiri. Sebagian besar mereka adalah emak emak. Ada pula nenek nenek yang masih genit senang sekali menjahili Abi dengan mencolek colek dagunya dan menepuk nepuk dadanya yang bidang.


" Mas Abi kenapa sukanya sama Dila yang gendut, kan ada nenek yang langsing enak gak berat kalau digendong." ucap salah seorang nenek yang diketahui bernama minten.


Semuanya yang berada di sekitar Abi pun tertawa riuh. Sedangkan Abi hanya tertawa kikuk kelihatan memaksakan tawanya.


" Eeh mak minten ingat umur, masa masih mau sama yang mudaan." kata seorang ibu ibu.


" Kalau mak minten sih mau mau aja, daun mudanya ini looh mau apa nggak sama si emak, ha ha ha." sahut seorang ibu yang lainnya.


Suara tawa pun terdengar semakin ramai, dan ingin sekali Abi kabur dari sana. Entah berapa kali Abi mengumpat dalam hatinya dan memaki istrinya yang meninggalkannya sendiri. Rasanya ia ingin sekali berteriak minta tolong.


" Kak...mas Abi kasiah tu dikeroyok sama cewek cewek." kata Dania memberitahukan kakaknya yang saat itu sedang berbicara dengan ibu dan bibinya.


" Haa cewek cewek? cewek siapa?" tanya Dila.


" Lihat aja sendiri ." titah Dania.


Dila disusul ibu dan bibinya pun segera melihat Abi. Dan saat sudah menemui Abi di ruang tamu dan dikeroyok banyak wanita lansia sontak membuat mereka bertiga menahan tertawa. Dan Dila pun mendekati suaminya yang sedari tadi menjadi mangsa para wanita lansia. Saat mengetahui Dila sudah berada disana, rasanya Abi bernafas dengan lega seakan telah datang dewa penyelamatnya.


" Dilaa suamimu buat saya saja yaa, kamu nyari lagi yang lain." kata mak minten.


" Iya mbaah putri boleh, emang mau buat apa siih?" kata Dila yang memanggil mbah putri pada mak minten.


" Ya buat gantikan mbah kakungmu too..." kata mak minten.


Serempak semuanya pun tertawa. Dan Abi yang mendengar jawaban istrinya tadi seakan mengutuki ucapan istrinya.


" Ya udah yaa ibuk ibuk cantik kita mau pergi liat baju pengantin dulu yaa." kata Dila menyudahi perkumpulan para lansia.


" Haah Dila mengganggu kesenangan aja Dil." jawab ibu ibu menggerutu.


Dila pun mengajak Abi beranjak dari sana dan bergegas memasuki mobil. Abi tampak menghembuskan nafas lega.


" Kamu kemana aja sing yaang, aku hampir aja di mangsa emak emak lansia itu." semprot Abi pada Dila.


" Ha ha ha...maaf mas tadi masih ngobrol sama ibu dan bibi."


" Terus lupa sama suaminya gitu." ucap Abi kesal.


Dila pun hanya senyum menahan tawanya karna takut suaminya akan semakin marah jika dia menertawakannya.


Sesampainya di sebuah butik perias, Dila dan Abi pun memilih baju untuk acara resepsinya besok lusa. Tak butuh waktu lama, merekapun sudah menentukan pilihannya dan setelah itu mereka pulang.


Malam pun tiba, suasana di kampung Dila yang masih nuansa pedesaan pun terasa sangat nyaman dan ditambah malam itu mendung jadi cuaca di luar rumah cukup sejuk. Itu membuat Abi yang sudah terbiasa hidup di kota yang ramai dan panas merasa kerasan tinggal di kampung istrinya itu.


Abi sedang berkumpul dengan kerabat Dila di teras rumah dan kali ini sama sama dari kalangan laki laki, tidak seperti tadi siang. Bapak dan Dika juga tampak ikut mengobrol bersama. Dila berada di dalam rumah mengobrol bersama ibu dan kerabatnya yang lain pula.


Tak terasa malam pun semakin larut, Bu Rohmah menyuruh Dila dan suaminya untuk beristirahat.


" Nduk, kamu panggil suami kamu gih suruh istirahat, kelihatannya juga dia sudah capek dan mungkin sungkan untuk berpamitan." titah bu Rohmah pada putri sulungnya.

__ADS_1


" Iya bu.." jawab Dila singkat.


Dila pun bergegas pergi untuk memanggil suaminya. Dan membawanya untuk beristirahat di kamar.


Sebelum tidur, Abi dan Dila membersihkan diri dulu di kamar mandi belakang. Karna kamar mandi Dila hanya ada satu dan tidak ada kamar mandi lagi di kamarnya.


Kamar Dila memang sempit bahkan kamar kost nya dulu pun lebih luas dari kamarnya. Tempat tidur kayu Dila pun juga tampak usang Tapi Abi tak mempermasalahkannya dia tetap kerasan tinggal disana.


" Maaf yaa mas, kita tidurnya gak kayak di tempat mas Abi," kata Dila.


" Gak pa pa sayang...yang penting kita bisa bobok indah disini." seringai senyum penuh arti muncul di bibir Abi.


Mereka pun naik ke atas ranjang usang dan jika ada yang menaikinya akan berbunyi Krieek...krieek...


" Yang ini gak pa pa ranjangnya bunyi gini." kata Abi sudah panik dengan suaranya.


" Masih kuat kok mas buat nampung tidur kita berdua, cuma bunyinya aja yang kayak gitu." ucap Dila.


" Oke."


Akhirnya Abi merebahkan badannya di kasur kecil itu diikuti dengan Dila. Abi melingkarkan tangannya diatas perut sang istri. Tak ada perlawanan dari, Abi semakin mengeratkan pelukannya.


" Yaang kok dikamar jadi gerah yaa tadi di luar sejuk hawanya mendung." kata Abi yang merasakan badannya jadi berkeringat.


" Ya karna mau hujan itu mungkin mas makanya gerah, tapi mungkin juga mas Abi gak biasa gak pakai AC makanya gerah, maaf yaa mas disini gak ada AC adanya cuma kipas angin." kata Dila merasa kasihan melihat suaminya yang biasa hidup layak sekarang ikut merasakan hidup sederhana.


" Gak pa pa yang, yang penting ada kamu udah cukup kok, aku buka baju aja kan udah aman."


" Nanti malah masuk angin looh."


" Haredang haredang haredang panas panas panas." Abi bersenandung sambil bangkit dan melepas kaosnya.


Dila bangga pada Abi walaupun kehidupannya berkecukupan, suaminya itu masih bisa menerima keadaannya. Dila berharap selamanya suaminya akan bersikap seperti itu.


Setelah melempar kaosnya ke sembarang tempat, Abi memeluk tubuh Dila kembali lalu mencium pipinya yang cuby. Abi melancarkan serangannya lagi menciumi telinga dan leher Dila hingga Dila merasakan kegelian yang hakiki. Tak berhenti disitu tangan Abi juga ikut bermain di tempat yang bisa dia jangkau. Abi melepas baju yang dikenakan oleh Dila dan sekaligus celana pendeknya lalu menindih tubuh istrinya. Mereka pun bercinta tanpa memperdulikan bunyi yang diciptakan oleh ranjang kayu yang menjadi tumpuan tubuh keduanya. Saat Abi akan melakukan pelepasan gairahnya tiba tiba saja...


Bruaaak......glodaaaaak.....


" Allahu Akbaar..." teriak keras keduanya yang terkejut dengan tiba tiba ranjang kayu itu ambruk, kaki ranjangnya putus dan dua insan itupun jatuh terjerembab.


" Aduuh gimana ini maas..." pekik Dila yang badannya masih tertindih oleh Abi.


" Aduuh lanjut sebentar yaa yang nanggung udah di ubun ubun ini." Abi masih memaksa menyelesaikan pelepasannya.


Lalu belum sempat Dila menjawab terdengar suara teriakan dari luar kamar.


Tok...tok...tok...


" Dila...apa yang jatuuh nduk, " bu Lasmi berteriak dari luar kamar.


Ternyata suara ranjang yang ambruk itu terdengar keras dari luar dan membuat yang berada di dalam rumah pun mendengar dentumamnya.


Dila lalu mendorong tubuh Abi dan melompat dari ranjang dan segera mencari pakaian yang tadi di buang oleh suaminya,kemudian dengan cepat mengenakannya.

__ADS_1


Abi pun dengan segera memakai celananya kembali walaupun dengan rasa nyeri yang masih tertinggal. Entah tertinggal dimana.


Dila segera membuka pintu yang sedari tadi titunggu untuk segera terbuka.


'' Iya buu,'' tanya Dila setelah bertatapan dengan ibunya.


" Apa yang ambruk nduk ?'' tanya bu Rohmah sambil kepalanya melongok ke dalam kamar memastikan apa yang sedang terjadi.


'' Itu buu...ranjangnya ambruk hee.?'' jawab Dila meringis.


" Astaghfirullah... ayo bapak bantu beresin memang sudah tua ini ranjangnya." kata pak Wiro yang tadi juga ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar adaknya.


Pak Wiro pun minta izin masuk kamar dan membereskan ranjangnya dengan dibantu Abi dan Dika. Dila dan Abi sebenarnya malu, mereka takut penghuni rumah akan berfikiran macam macam.


Setelah beres dan kasur sudah tertata rapi lagi mereka pun bubar dan pengantin pun masuk ke kamar lagi. Untuk sementara mereka tidur diatas kasur tanpa menggunakan ranjang.


Ternyata benar malam itu benar benar turun hujan cukup lebat. Dan cuacanya pun sedikir segar. Abi berniat melanjutkan keinginannya yang tertunda.


" Waah lebih nyaman gak pakai ranjang yaa yang, kalau kita loncat loncat pun gak bakal ambruk he he he." kata Abi.


'' Maaf yaa mas jadi keganggu tadi."


'' Gak pa pa kan bisa kita lanjutin sekarang." ucap Abi mengerlingkan matanya untuk memggoda Dila.


Dila pun tersenyum tanda setuju. Dan baru akan memulai aksinya, ternyata ada air yang jatuh membasahi kasur. Ternyata atapnya bocor cukup deras dan lubanya tidak hanya satu, ada beberapa lubang yang meneteskan air. Dengan terpaksa mereka pun harus menunda lagi aksinya.


'' Duuh mas kita pindah cepat cepat geser sebelah sana." kata Dila panik.


Abi pun segera menggeser kasurnya ke tempat yang tidak bocor. Sedangkan Dila keluar kamar mengambil ember untuk menampung air.


'' Hadeeeh...pengen indah indahan kok gini amat yaa." gerutu Abi sambil cemberut kesal dan menepuk jidatnya.


Disaat Dila membersihkan bekas air, Abi berjalan keluar kamar. Ternyata Abi sedang menelfon seseorang.


" Hallo Man... saya minta besok kamu cari kontraktor terbaik yang biasanya kita pakai dan setelah acara resepsi kamu suruh mereka merenovasi rumah istri saya yang di kampung. Buat sebaik mungkin sekokoh mungkin dan yang penting besok kamu bawa kesini kasur dengan kualitas terbaik. Ingat yaa besok pagi kamu sudah harus kirim barangnya ke rumah istri saya yang dikampung." kata Abi tanpa memberi kesempatan Arman memberi salam dan kata sambutan.


'' Oke siap pak, ada lagi?" kata Arman.


''Gak ada." jawab Abi singkat dan langsung mematikan telfonnya kemudian kembali masuk ke kamar.


Arman yang menerima titah dari baginda raja pun hanya geleng geleng kepala. Sebenarnya dia pun kesal dengan Abi yang mana sudah selarut ini menelfonnya dan mengganggunya saat sedang bercinta dengan istrinya hanya untuk memberi perintah.


" Gak bisa apa besok aja gitu telfonnya, ganggu orang lagi enak aja." gerutu Arman kesal.


Ketika masuk kamar Abi melihat Dila sudah berbaring di kasur yang sudah berubah posisi. Lalu Abi juga mendekati Dila dan ikut berbaring disebelahnya.


" Dari mana mas?" tanya Dila.


" Habis telfon Arman." jawab Abi.


" Yaang lanjut besok aja yaa udah gak mood lagi ini dari tadi gagal mulu." kata Abi lagi dengan wajah yang lemas.


"Ha ha ha iya iyaa, maaf yaa sayanng.'' ucap Dila sambil memeluk suaminya.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun tidur tanpa menyelesaikan tugas malamnya.


__ADS_2