ISTRI GENDUTKU

ISTRI GENDUTKU
Cerita Arman (flash back 1)


__ADS_3

Menjelang sore, Abi berpamitan pulang kepada Arman dan istrinya. Beban perasaan yang dirasakan Abi sedikit berkurang terhempas bersama wejangan Arman.


Pikirannya yang sedari tadi tak lepas dari bayangan Dila, ingin sekali dia menemui gadis itu di kostnya,tapi dia masih ragu apa Dila masih bersama dengan Dirga atau tidak.


Lalu tiba tiba mobilnya terparkir di pinggir jalan tepat di sisi kiri mobilnya ada penjual cilok yang mangkal di sana. Terlihat Abi turun dan membeli cilok. Ya mungkin setelah melihat Dila dan kawan kawannya makan cilok tadi pagi membuat Abi ingin merasakannya juga.


Abi melajukan kembali mobilnya dan berhenti di depan sebuah gang, lalu dia terlihat celingukan seperti mencari sesuatu.Dan Abi membelokkan mobilnya memasuki gang tersebut. Abi ternyata ke kost Dila dan setelah sampai Abi melihat Dila sedang duduk si kursi depan kamarnya sambil memainkan hp nya.


Dila yang melihat Abi turun dari mobil pun terkejut dengan kedatangannya. Lalu Abi berjalan ke arah Dila.


" Lagi ngapain kamu duduk sendiri disini." sapa Abi pada Dila.


" Gak ngapa ngapain pak, pak Abi kok ada disini?" tanya Dila balik.


" Nih buat kamu." sambil menyodorkan bungkusan cilok pada Dila.


Sepertinya Abi lupa bahwa tadi pagi dia sempat mengumpat dan mengatai Dirga yang membelikan Dila cilok. Dila pun menerima bungkusan itu.


" Makasi pak, kenapa repot repot? silahkan duduk pak!" Dila mempersilahkan Abi.


Belum sempat Abi duduk ternyata Dirga baru keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar Dila. Keduanya sama sama terkejut dan beberapa saat saling memandang.


Mata Abi terlihat sedang mencari sesuatu dan akhirnya dia melihat objek yang dia cari.


" Ternyata motornya diparkir di situ, pantas tidak kelihatan dari jalan depan, Sial!" Abi mengumpat karna ternyata dia menemukan motor Dirga yang memang sengaja parkir di bawah pohon di halaman kost Dila.


Abi dan Dirga pun dipersilahkan Dila untuk duduk bersama. Lalu Dirga memperhatikan meja yang terdapat bungkusan kantong kresek putih kecil dan di dalamnya terdapat bungkusan cilok yang sangat jelas terlihat.


" Heh...ini yang katanya menggunakan uang untuk mendekati Dila, ujung ujungnya cilok juga yang dateng. Dasar!" Dirga pun bergumam dalam hati sambil tersenyum meledek.


Abi yang sadar bahwa Dirga memperhatikan bungkusan ciloknya tampak segera mencari alasan.


" Ooh ini saya tadi bawa cilok mau rekomendasiin ke kamu, barang kali ini bisa di jual di kantin, kan cilok banyak yang suka jadi tidak menutup kemungkinan para karyawan suka dan banyak yang beli. Jadi bertambah kan penghasilan kantin." Abi berkilah.


" Emm... bisa juga sih pak dijual di kantin, besok saya diskusiin dulu deh sama pegawai kantin yang lain." Jawab Dila tanpa curiga bahwa itu hanya akal akalan bosnya saja.


" Iya, pak Abi mau kopi?" Dila menawarkan.


" Ooh gak usah repot repot saya kesini cuma mau kasih sampel cilok aja kok, saya juga mau pergi sekarang." Kata Abi terpaksa karna sebenarnya dia masih ingin tetap sisitu.


" Yang tadi pagi kesini, bapak juga?"


" Iya, saya balik dulu." jawab Abi masam tak bersemangat.


" Buru buru aja, kita ngopi dulu lah." Dirga turut menimpali.


" Saya masih ada urusan jadi saya duluan." kata Abi pamit dan bergegas menuju mobilnya.


Abi pun melajukan mobilnya dari kost Dila dengan sedikit kesal.


***

__ADS_1


Di kediaman Arman sepulang bosnya,dia dan istrinya masih bersantai di gasebo belakang rumah.


" Sayang...apa benar pak Abi trauma pacaran?" tanya Tifani pada suaminya.


" Sebenarnya bukan trauma pacaran hanya saja pak Abi takut salah dengan perasaannya sendiri, dan tidak mau mengulangi kesalahannya di masa tiga tahun lalu." tutur Arman sambil mengingat kejadian di masa lalu yang membuat atasannya itu kacau dan berimbas pada dirinya juga.


" Separah apa yang dialaminya?" tanya Tifani lagi.


" Hampir setiap hari suamimu ini kena amukan singa edan bahkan bapaknya singa negurnya juga ke aku, pak Abi jadi jarang ngantor,kerjaan gak ada yang beres,klien lari hadeeeh untung suami kamu ini pinter dan jenius jadi bisa menghandle kerjaan yang berantakan." Arman berbicara sambil menatap langit sore yang tampak cerah.


" Bonus banyak dong, ha ha ha..." gurau Tifani.


" Yaa Alhamdulillah dapet mobil idaman yang sekarang ngejogrok di garasi he he he."


" Gimana ceritanya sih sayang sampai pak Abi terpuruk begitu? Aku beneran kepo niih." Tifani mendesak suaminya agar mau menceritakan kisah Abi di masa lalu.


" Diih jiwa mak mak meronta,,, niih aku ceritain yaa. Pada jaman dahuluuuuuu....." kata Arman sambil melayangkan tangannya ke udara.


* *Flash back on


Tiga tahun yang lalu...


Abi tampak antusias dengan dibantu oleh Arman menyiapkan dekor makan malam romantis di tepi pantai yang dekat dengan resort milik keluarga Abi, karna malam ini dia akan menyatakan cintanya pada sahabat yang sudah dia sukai sejak SMA, bahkan waktu kuliah di luar negri pun mereka sering menghabiskan waktu bersama.


Abi yakin Renata adalah wanita pilihan yang akan dijadikannya pendamping hidup. Abi berharap Rena akan senang dengan kejutan yang disiapkan oleh Abi.


Malam pun menjelang, Abi menggandeng Renata yang tampak cantik dan anggun. Renata terkejut dengan apa yang dilakukan Abi.


" Kamu yang siapin ini semua Bii." Renata tampak tersenyum bingung dengan semua yang ada di depan matanya.


" Iya dong, siapa lagi masa iya si Arman." jawab Abi.


" Bagus banget Bii sumpah, tapi...kenapa kamu tiba tiba nyiapin ini semua?"


" Oke sebelum itu kita makan dulu yuuk, lapeer niih." kata Abi sambil mengusap perutnya yang memang sejak siang belum makan karna sibuk menyiapkan acara dinnernya dengan Renata.


Renata pun tertawa dengan pernyataan Abi. Lalu mereka pun menikmati hidangan lezat yang sudah tertata di meja.


Seusai makan pelayan segera mengambil alat makan dan menyisakan minuman dan desert saja.


" Ree...kamu terlihat cantik banget malam ini." puji Abi pada Renata yang memang terlihat lebih cantik dari biasanya.


" Biasa aja deeh Bii,,, kamu mau ngomong apa emangnya.? Renata mengalihkan pembicaraannya guna untuk menutupi wajahnya yang merona karna pujian Abi.


" Ree..." Abi mendekatkan dirinya di samping kursi Renata lalu benjongkok, mengambil kedua tangan Renata dan menggenggamnya.


Renata pun sedikit memutar posisi duduknya hingga menghadap Abi.


" Entah sejak kapan aku yakin bahwa selama ini yang aku rasain ke kamu bukan cuma sekedar perasaan sebagai sahabat, tapi aku punya perasaan yang lebih dari sekedar sahabat, Dan aku yakin kamu orang yang pantas aku jadikan pendamping hidup ku.


Maukah kamu bersanding, menemani dan menua bersamaku??" Abi mengungkapkan semua perasaannya pada Renata.

__ADS_1


" Abii...apa kamu serius dengan semua yang kamu katakan?" tanya Renata.


Abi tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah cincin emas bertahtakan berlian yang cahayanya semakin terpancar,terpapar oleh lampu lampu sekitar.


" Renata,,,Maukah kamu menikah denganku?" kata Abi serius dengan menatap dalam kedua bola mata Renata.


Bibir Renata kelu mendapat pernyataan dari Abi yang selama ini bersahabat dengannya.


" Abi..." hanya itu yang bisa dikatakan oleh Renata.


" Kenapa, apa kamu masih tidak percaya dengan semua yang aku katakan padamu?"


" Bukan begitu, tapi.....?" Renata menjeda kata katanya.


" Tapi apa? kamu butuh pembuktian lagi dari ku kalau aku memang serius ingin menikah dengan kamu?"


" Bukan itu Bii,, tapi aku tidak bisa menikah dengan kamu."


" Kenapa? apa karna kamu menganggap aku sahabatmu, aku rasa selama ini kita sama sama tau kalau sikap kita ke satu sama lain melebihi sahabat, kamu juga merasakan itu kan?"


" Iya, aku akui selama ini aku punya rasa diluar dari rasa persahabatan yaitu rasa cinta tapi aku tidak tau selama ini kamu mempunyai rasa yang sama atau tidak terhadapku Bii" Renata mencoba menjelaskan.


" Jadi selama ini sikap yang diluar batas persahabatan cuma kamu anggap biasa saja, aku fikir kamu tau itu Ree. Dan begitu sebaliknya, aku tau kamu juga punya perasaan yang sama terhadapku."


" Ya, aku memang tau kita sama sama saling suka bahkan saling mencintai? tapi kenapa kamu baru mengatakannya sekarang sedangkan waktu yang kita lewatkan selama delapan tahun itu bukan waktu yang sebentar, kenapa tidak dari dulu saat kamu yakin bahwa kamu mencintaiku Abi? " Renata berbicara dengan nada emosi.


" Aku dulu belum siap untuk menikah, aku akan mengatakannya jika aku benar benar siap untuk menikah, dan sekarang aku sudah sangat siap menikah dengan kamu Ree."


" Tapi paling tidak kita bisa terikat sebagai kekasih."


" Apa kamu tidak mempercayai rasa cintaku yang aku tunjukkan selama ini sehingga kamu masih butuh status sebagai kekasihku?" Abi masih keras kepala.


" Bii aku perempuan yang butuh kepastian, yang tidak bisa dengan seenaknya kamu gantung perasaannya, harusnya kamu peka, aku selama ini juga berharap kamu mengatakan perasaan kamu ke aku, tapi setelah aku menungu kamu tidak juga mengatakannya." kata Renata dengan lembut.


" Oke oke, aku minta maaf kalau selama ini aku tidak mengatakan perasaanku sama kamu, tapi sekarang aku sudah mengatakannya, dan kita saling mencintai, kamu mau kan jadi istri aku?" Abi memelas.


" Aku tetap tidak bisa Bii."


" Ta tapi kenapa, apa masih kurang percaya kamu sama aku?"


" Bukan itu, kamu terlambat Bii. Satu bulan yang lalu aku sudah bertunangan dan dua minggu lagi aku akan menikah dengannya."


Mendengar itu hati Abi bagai tergodam batu sekencang kencangnya.


" Kamu bercanda kan Ree, kamu tidak pernah mengatakan tentang laki laki itu."


" Aku tidak bercanda Abi, kalau kamu tidak percaya buktikan dua minggu lagi aku akan menikah."


" Kamu anggap apa aku selama ini Ree." Abi berteriak kepada Renata.


" Aku sudah lelah Bii, aku sudah lelah menunggu kepastian dari kamu jadi tolong jangan salahkan aku kalau menikah dengan orang lain." Renata balas berteriak pada Abi.

__ADS_1


Tak ingi melanjutkan perdebatannya denga Abi, Renata kemudian berjalan meninggalkan Abi. Dan Abi pun mengejarnya.


__ADS_2