
" Sekarang kamu siapkan pembangunan resto dulu nanti konsepnya nyusul nunggu yang punya aja." ucap Abi.
" Baik pak, di beberapa lahan kita ada tempat yang memang strategis dan cocok untuk pembangunan resto, saya akan siapkan semua dan dalam waktu dekat saya pastikan pembangunan itu akan terlaksana." pungkas Arman pada bosnya yang memang selalu bisa diandalkan.
Abi tersenyum puas dan percaya dengan perkataan Arman.
Menjelang siang pintu ruangan Abi terdengan suara ketukan. Lalu tampak Dila masuk ke dalam membawa nampan yang berisi satu piring cilok dan ada tiga buah mangkuk kecil berisi saus untuk cilok.
" Permisi pak, ini saya bawa cilok." kata Dila sambil meletakkan nampan diatas meja sofa.
Lalu Abi dan Arman pun mendekat dan duduk di sofa.
" Saus apa saja ini." tanya Abi menunjuk ke tiga mangkuk kecil yang masi berada diatas nampan.
" Yang ini saus sambal, yang satunya lagi saus kacang pak dan yang ini saus cabai pak, bisa ditambahkan kalau dirasa kurang pedas dengan dua saus ini." Dila menjelaskan dengan detail.
Padahal Abi tidak butuh penjelasan Dila karna itu hanya alasan Abi saja supaya bisa berinteraksi dengan Dila.
Abi dan Arman pun mulai mencobanya.
" Oke kamu bisa menjualnya." kata Abi tanpa komentar apa apa lagi.
Lalu Dila pun akan kembali ke tempat dia bekerja. Dan ketika Dila membalikkan badan dan melangkahkan kakinya keluar ruangan, Abi menghentikannya.
" Tunggu...!" seru Abi menjeda sampai Dila berbalik badan lagi melihat Abi ." Nanti malam ibu ingin bertemu, saya akan jemput kamu dan pastikan sebelum saya datang kamu sudah harus siap." Abi melanjutkan kata katanya.
" Maaf pak, ada perlu apa ya bu Lasmi ingin bertemu saya? apa akan membuat kue lagi?" tanya Dila dengan heran, karna jikalau akan membuat kue lagi bu Lasmi pernah bilang bahwa dia sendiri yang akan menelfon Dila bukan melalui Abi.
" Kenapa kamu selalu banyak tanya, ikuti saja apa yang saya bilang, nanti kalau sudah bertemu orangnya baru tanya padanya." ucap Abi dengan nada tegas.
" Kalau begitu pak Abi tidak usah repot repot menjemput, biar saya kesana sendiri." pinta Dila yang merasa tidak enak jika harus dijemput oleh Abi lagi.
" Bawel, disuruh nurut aja susah banget! Sudah kamu balik kerja lagi!" perintah Abi.
" Baik pak, saya permisi." ucap Dila dengan kesal lalu bergegas pergi meninggalkan Abi diruangannya bersama Arman.
Sore pukul lima, Dila terlihat baru saja selesai mandi, rambut panjang nan lurusnya masih basah karna air yang mengguyur. Dila pun bersantai diatas kasur kecilnya seraya memainkan gadget. Lalu ketukan pintu mengagetkan Dila dan segera membukanya.
" Pak Abi." kata itu yang keluar dari mulut Dila setelah membuka pintu.
" Busseet niih cewek tambah seger aja kalo rambutnya basah gini,makiin gemeessss gue." gumam hati Abi.
" Astaghfirullaaah..." pekik Abi sambil mengetuk ngetuk kepalanya menghilangkan pikiran pikiran kotornya.
" Bapak kayak lihat hantu aja deh." Kata Dila dengan mengernyitkan kedua alisnya.
__ADS_1
" Iya kamu hantunya, menghantui pikiran saya." kata Abi ketus.
" Diih ngaco,sembarangan aja kalo ngomong." sambar Dila. " Terus bapak ngapain sudah ada disini,katanya nanti malam ini masih sore, maghrib aja belum." tanya Dila dengan judesnya.
" Sekalian saya dari kantor biar gak bolak balik, capek tau." tutur Abi yang hanya alasan karna sebenarnya Abi ingin cepar cepat bisa bertemu dengan Dila.
" Yaa kalau capek kan saya bisa berangkat sendiri, tadi kan saya sudah bilang." Dila membela diri karna tidak mau nantinya disalahkan.
" Ssshhtt...Ya sudah ayo berangkat, sudah siap kan?" ajak Abi buru buru.
" Iya tunggu sebentar."
BRAAK...
Dila menutup pintu kamar dengan keras sedangkan Abi masih berdiri di depan pintu. Sontak Abi pun kaget dibuatnya.
" Dasar gendut gak tau aturan." umpat Abi.
Dila pun bersiap siap, sepuluh menit kemudian dia sudah selesai dan menemui Abi. Abi pun melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah Abi, sudah ada pak Darma dan bu Lasmi yang kala itu sedang ada di teras depan rumah.
Dila lalu menyalami dan mencium tangan kedua orang tua Abi itu.
Abi melengos menyembunyikan tawa atas ucapan ibunya. Sedangkan pak Darma pun hanya tersenyu.
" Ya sudah ayo masuk dulu Dila sudah mau maghrib." kata pak Darma sembari mempersilahkan semuanya masuk ke dalam rumah.
Pak Darma dan bu Lasmi membawa Dila ke ruang tamu dan Abi berpamitan untuk ke kamar dan membersihkan badannya yang sudah lengket dengan keringat.
Tak lama waktu maghrib pun tiba, pak Darma mengajak keluarganya dan Dila untuk menunaikan sholat maghrib terlebih dahulu.
Setelah melaksanakan sholat, bu Lasmi mengajak Dila ke dapur untuk membantunya menyiapkan makan malam.
" Dila bantuin ibu menyiapkan makan malan dulu yaa, nanti sehabis makan malam ada yang mau ibu obrolin sama kamu." pinta bu Lasmi.
" Iya bu." jawab Dila.
Mereka berdua pun masuk dapur dan disana sudah ada ART yang membantu mereka.
Makan malam pun usai, bu Lasmi mengajak Dila pergi ke ruang kerja pak Darma dan di sana sudah ada pak Darma dan Abi yang menunggu.
" Dila...apa Abi sudah bilang tujuan saya memanggil kamu datang ke sini?" tanya bu Lasmi setelah dirinya dan Dila duduk di sofa yang berhadapan dengan Darma dan Abi.
" Belum buu." jawab Dila sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Baiklah ibu akan menjelaskannya, Begini Dila...kamu pernah dengar kan bahwa keinginan saya itu memiliki restoran tapi selama ini tidak ada yang bisa membantu saya baik itu suami ataupun anak saya sendiri karna mereka memang kurang berminat bisnis di bidang kuliner khususnya kuliner Indonesia, tapi sekarang saya merasa sudah punya partner untuk diajak bekerja sama dalam bisnis kuliner ini,,,Dan rencananya kamulah orang yang akan saya ajak untuk membantu saya dalam bisnis kuliner ini. Bagaimana Dila, apakah kamu mau bekerja sama dengan saya untuk mendirikan bisnis ini?"
Penjelasan bu Lasmi benar benar membuat Dila terkejut, Dia mencoba mencerna semua perkataan bu Lasmi karna Dila takut salah dengar atau salah paham dengan penyataan bu Lasmi yang baru saja terlontar. Dan itu membuat Dila terpaku belum bisa bibirnya menjawab pertanyaan dari bu Lasmi.
" Dila...." panggil bu Lasmi yang melihat Dila hanya bengong saja.
" Ah iya buu?" Dila pun tersentak oleh panggilan bu Lasmi.
" Kenapa kamu diam saja, apa kamu keberatan dengan ajakan Ibu? " tanya bu Lasmi.
" M..maaf bu saya hanya kaget saja karna ibu tiba tiba berkata seperti itu." jawab Dila tergagap.
" Saya sudah membicarakannya pada suami saya dan anak anak saya, mereka setuju tidak ada yang keberatan, bahkan mereka senang karna sudah ada yang bisa membantu saya mewujudkan cita cita saya. Naah sekarang tinggal kamunya saja yang harus memberi kami keputusan, bagaimana?" tanya bu Lasmi lagi.
" Sa...saya mau sekali bu, tapi apa ibu yakin saya bisa membantu ibu mengembangkan bisnisnya nanti? Saya takut tidak bisa membantu ibu dalam pengolahan restoran nantinya." Dila masih ragu ragu akan keputusan yang akan dia ambil.
" Kamu tenang saja Dila, kami juga akan mendaftarkan kamu ke sekolah koki bersertifikat terbaik di kota ini yang nantinya dapat menunjang kemampuan kamu dalam bidang tata boga, hanya satu tahun saja kamu akan mahir dalam bidang yang kamu tekuni. Jadi dalam satu tahun ini kamu bekerja sambil bersekolah. Dan satu lagi biaya sekolah semua kami yang tanggung. Bagaimana?" kali ini pak Darma yang menjelaskan.
" Eehhemm...eheem..." tiba tiba Abi berdehem karna merasa dirinya belum disebut dalam menangani bisnis baru yang akan dirintis keluarganya bersama Dila.
Tahu akan maksud putranya, bu Lasmi lalu mengungkapkannya pada Dila.
" Abi nanti juga ikut andil dalam bisnis ini, masalah managemen pemasaran kamu bisa membahasnya dengan Abi karna dia jagonya." bu Lasmi melirik pada Abi.
Abi tersenyum bangga. Pak Darma hanya menggeleng dengan sikap putranya.
" Gimana Dila? Deal ? " tanya bu Lasmi.
Dila masih diam tak menjawab...
" Kalau kamu masih ragu, berarti kamu juga meragukan kami yang akan membantu kamu,karna kita semua ikut andil dalam usaha ini dan tidak akan membiarkan kamu berjuang sendiri." ucap Abi tegas.
Dila pun membenarkan ucapan Abi dan merasa tidak enak pada mereka.
" Maafkan saya bukan maksud untuk meragukan tapi..."
" Tapi apa, kamu mau kalah sebelum berperang?" Abi berbicara dengan melototkan matanya pada Dila dan tidak memberi kesempatan Dila untuk membela diri.
" Abi...." pak Darma memandang tegas pada putranya yang dianggap sudah terlalu galak dengan Dila.
Suasana menjadi hening sejenak.
" Dila sekarang keputusan ada di kamu, kalau kamu menolak berarti saya harus menunda keinginan saya lagi untuk menjalani bisnis ini, dan....."
" Saya mau buu, saya mau membantu ibu menjalankan bisnis ini." Sahut Dila dengan mata berbinar seperti tanpa ada keraguan lagi.
__ADS_1