ISTRI GENDUTKU

ISTRI GENDUTKU
Tidak fokus


__ADS_3

Akhirnya Dila memutuskan tetap bekerja dan


kembali ke dapur meski dengan suasana hati yang tidak karuan.


Dila mencoba tidak mempedulikan semua perkataan Renata. Dia ingin berfikir secara dingin. Tapi dengan pergelatannya di dapur yang memang panas karna banyaknya kompor yang menyala, hati Dila terasa semakin panas jika mengingat foto yang ditunjukkan padanya tadi.


Dila terus membuat masakan, menggoyangkan wok pan dan spatulanya. Fokus Dila sangat terganggu hingga akhirnya saat Dila akan menuang masakannya ke piring saji, posisi tangan Dila kurang pas hingga mengakibatkan kesalahan pada urat tangannya dan akhirnya menjatuhkan wok pan yang cukup berat itu dan membuat masakannya terjatuh dan mengenai telapak tangannya. Bak jatuh tertimpa tangga, pergelangan tangan Dila yang keseleo harus merasakan panasnya masakan yang baru saja matang.


Untung saja baju yang Dila pakai berlengan panjang dan perlengkapan yang Dila pakai semua memenuhi standart dapur jadi bagian tubuh Dila yang lain bisa terselamatkan, hanya sedikit panas tapi tidak sampai melepuh.


Semua orang dapur panik dan beberapa orang waiter dan waitres dipanggil untuk membantu Dila membawanya ke ruangannya.


" Chef apa kita perlu ke klinik dekat sini atau ke rumah sakit?" tanya waites kepada Dila.


" Tidak usah, ini cuma sedikit saja kok lukanya tinggal kasih salep aja,kalau tangan nanti aku ke tukang urut saja." jawab Dila.


" Baiklah chef kalau begitu chef istirahat saja, apa perlu saya antar pulang chef?" tawar waiter pada Dila.


" Tidak perlu nanti saja saya pulang, terima kasih yaa." kata Dila.


Waiter dan waitres pun meninggalkan Dila sendiri di ruangannya. Dila pun merutuki dirinya sendiri yang tidak fokus dalam bekerja yang mengakibatkan dirinya sampai terluka.


Siang hari Dila hanya istirahat saja di ruangannya sambil memijat pergelangan tangan kirinya yang masih nyeri akibat kecelakaan kerja di dapur tadi pagi.


" Sedang apa kamu hanya di ruangan, sedangkan diluar tamu masih ramai." tiba tiba Abi masuk ruangan Dila mengagetkan.


Dila buru buru menyembunyikan tangannya yang melepuh di bawah meja agar tidak dilihat oleh Abi.


" Tidak aku hanya beristirahat sebentar aja." jawab Dila dengan nada datar karna masih kesal dengan Abi.


Rasanya Dila ingin sekali marah dan langsung melabrak Abi dengan semua rentetan pertanyaan seputar Renata. Tapi Abi masih menahannya.


" Apa ada yang sedang kamu fikirkan?" Abi pun berbicara dengan nada kesal pula.


" Tidak ada." jawab Dila singkat.


" Aku kira kamu sedang memikirkan Dirga." kata Abi.


Dila memicingkan mata, tidak mengerti mengapa Abi tiba tiba berkata seperti itu.

__ADS_1


" Kenapa mas Abi ngomong gitu? apa mas Abi mau menutupi kelakuan mas Abi sama Renata dengan menyebut nama mas Dirga?" Dila terpancing emosi membalas perkataan Abi.


" Jangan mengalihkan pembicaraan, aku sedang minta penjelasan dari kamu, kenapa kamu kemarin bisa bersama denga Dirga di caffe?" cercah Abi.


Dila terperangah karna Abi mengetahui keberadaannya kemarin di caffe bersama Dirga, lalu berdiri mendekati Abi.


" Aku tidak melakukan apa apa,hanya bicara saja dengannya, lalu apa yang kamu lakukan sama Renata waktu dirumahnya?" Dila balas meminta penjelasan.


" Apa? aku tidak melakukan apa apa." jawab Abi juga dengan kebingungan.


" Kalian berpelukan, apa itu yang dibilang tidak melakukan apa apa?" Dila semakin emosi.


" Apa maksud kamu? aku tidak pernah berpelukan dengannya..." Abi menjeda kalimatnya dan mengingat ingat apa yang sedang terjadi di rumah Renata.


"Sial...apa Rena menjebakku.?" gumam Abi memejamkan mata sejenak saat mengingat yang dia lakukan di rumah Renata.


" Apa sudah ingat." tanya Renata ketus.


Abi menyadari bahwa diam diam ada yang memfoto saat dirinya dipeluk oleh Renata. Abi meraih tangan Dila dan menggenggamnya.


" Auu....." Dila memekik dengan keras dan menepis tangan Abi.


" Tidak apa apa." mencoba menepis lagi tangan Abi tapi tak dilepaskan oleh Abi.


" Auuu...sakit sakit..tanganku terkilir." Dila malah memekik semakin keras.


" Kenapa tanganmu ini?" tanya Abi sambil mengamati luka bakar yang ada di telapak tangan dan jari jari Dila.


" Tidak tanganku hanya terluka kecil dan terkilir saja." jawab Dila meringis menahan sakit.


" Sudah dibawa ke dokter, kenapa sampai seperti ini." Abi miris tak tega melihat tangan Dila yang tampah merah dan melepuh.


" Tidak usah tadi sudah aku kasih salep mas." jawab Dila.


"Lalu untuk yang terkilir kamu apain?


" Nanti aku pijat di tukang urut."


Tak menunggu lama Abi lalu merangkul pundak Dila dan mendorongnya keluar menuju mobil dan membawanya ke rumah sakit. Abi sedikit kesusahan mengajak Dila pergi pasalnya Dila selalu berontak dan kalau saja Abi bisa dia pasti sudah menggendong Dila, tapi apalah daya.

__ADS_1


Setelah di rumah sakit dokter segera menangani Dila tak butuh waktu lama mereka pun sudah meninggalkan rumah sakit.


" Mas Abi lebay deeh tadi gak usah ke rumah sakit gak pa pa mas." kata Dila masi ingin protes.


" Bahkan besok kalau kamu jadi istriku, seujung jari kamu luka langsung aku bawa ke rumah sakit." kata Abi tertawa.


Dila tersenyum sendiri melihat tingkah calon suaminya itu. Abi mengajak Dila makan di restoran terlebih dahulu untuk menyelesaikan urusannya dengan Dila yang belum selesai.


" Dila coba kamu jelasin dulu kenapa kamu ada di caffe kemarin bersama Dirga." tanya Abi.


" Mas Dirga hanya ingin bertemu sebelum aku nikah sama mas Abi, Dia bilang kalau aku memang sudah bahagia bersama mas dia akan mengikhlaskannya." jelas Dila.


" Hanya itu saja?"


" Iya hanya itu saja, lalu mas ngapain sampai pelukan sama Renata Dirumahnya?" Dila pun meminta kejelasan pada Abi.


Lalu Abi menceritakan semua yang sudah terjadi dan memang menyimpulkan kalau Renata lah yang membuat onar.


" Sepertinya Renata sayang banget sama mas Abi." kata Dila.


" Yaa salah dia sendiri sudah menyia nyiakan lelaki yang tampan, baik hati dan tidak sombong ini cuma buat lelaki kaya si Yono." kata Abi sambil tertawa bangga atas dirinya sendiri.


Mendengar kata kata Abi Dila hanya memutar matanya jengan dengan kenarsisan calon suaminya kelak. Kesalahpahaman mereka pun selesai mereka sama sama berjanji untuk saling percaya dan tidak mudah terpancing jika kelak di rumah tangga mereka ada masalah masalah kecil seperti ini lagi.


" Yang mau itu dong yang bulet bulet." kata Abi sambil menunjuk kue onde onde.


" Onde onde?" menyodorkan pada Abi.


" Ini yang biji bijian apa sih yang namanya?" tanya Abi.


" Itu wijen, masa gak tau sih mas?" kata Dila heran pada Abi yang tidak mengetahui wijen.


" Tau siih cuma ngetes kamu aja he he he..." sanggah Abi. " Lalu ini masangnya gimana masa iya dipasang satu satu gitu?" tanya Abi lagi dengan polos.


" Ha ha ha emang kamu mau mas masang satu satu wijennya" Dila menertawakan Abi.


" Ini masangnya cuma adonanya yang sudah bulet di glungung glundungin aja diatas wijen, sudah deh nempel semua." jelas Dila.


" Ooh gitu...kaya kamu berati, nanti kamu glundung glundung diatas wijen jadi onde onde deeh ha ha ha." tawa Abi.

__ADS_1


Dila mengerucutkan bibirnya dan memukul bahu Abi.


__ADS_2