
Minggu pagi keluarga pak Darma sudah bersiap siap akan berkunjung ke rumah calon besannya. Firman dan keluarganya pun turut serta dalam kunjungan tersebut.
Mobil Firman melaju terlebih dahulu sedangkan mobil Abi terlebih dahulu menjemput Dila di kostannya.
Setelah dua jam perjalanan mereka sampai di rumah pak Wiro. Keluarga pak Wiro yang sebelumnya sudah diberi tahu oleh Dila pun menyambut mereka.
Pak Wiro mempersilahkan mereka masuk dan duduk.
" Begini pak maksud kedatangan kami kesini, selain untuk silaturahmi kami juga ingin membahas tentang tanggal pernikahan anak anak kita. Ituu sii Abi kayaknya udah kebelet banget minta dikawinin ha ha ha..." pak Darmaa membuka pembicaraan dengan nada bercanda agar suasana menjadi santai.
Semua orang pun tertawa kecuali Abi yang merasa jadi bahan candaan, Dia hanya melengos melihat sembarang arah karna malu.
" Iya pak, gak baik kalau lama lama menunda hal baik, jadi kami berencana memepercepat pernikahan." sambung bu Lasmi.
" Kalau kami menyerahkan semua sama yang bersangkutan saja, kalau itu memang yang terbaik dan juga kemauan mereka yaa saya sebagai orang tua mendukung saja." jawab pak Wiro.
"Apa sudah ditentukan bu tanggalnya?" imbuh bu Rohmah.
" Kalau urusan tanggal mungkin Abi dan Dila yang sudah menentukan." kata Pak Darma.
" Gimana kalian sudah menentukan tanggal dan bulannya?" tambah pak Darma.
" Sudah yah." jawab Abi.
" Kita maunya minggu depan yah." sambung Abi dengan enteng.
" APA???? Minggu depaan?" kata Dila dan para orang tua serempak.
" Yakin kamu Bii ? Ini acara pernikahan loo bukan acara weton yang cuma dibikinin bubur sum sum udah kelar." kata Firman.
" Sebentar, tapi ini Dila nggak hamil kan nak Abi? " kata bu Rohmah penuh selidik.
Semua sorot mata mengintimidasi menuju ke arah Dila dan Abi mencari kebenaran.
" Ibuuk kok gitu ngomongnya, ibu gak percaya sama Dila?" Dila tidak terima.
" Tenang saja pak Wiro bu rohmah,Dila masih aman kok di tangan saya." kata Abi dengan senyum menyeringai.
"Gimana mau hamil, boro boro ngehamilin lhawong minta cium aja gue kena tampol." Gumam Abi.
" Maaf nak Abi, ibu cuma ingin tau saja kenapa nak Abi buru buru, takutnya ada apa apa." kata bu Rohmah.
" Yaa tapi jangan minggu depan juga dong Bii, kan masi banyak yang ingin diurus ini itunya, pesta juga, udah kebelet beneran kamu?" tambah Dewi.
Abi hanya tersipu malu mendengar penuturan kakaknya.
" Kalau memang nak Abi sudah tidak tahan dan takut nanti bisa terjadi sesuatu yang diharamkan yaa tidak jadi masalah minggu depan bahkan besok pun sudah bisa dilakukan tapi ya itu cuma di depan penghulu saja, tidak ada pesta." pak Wiro menegaskan.
Pak Darma dan bu Lasmi saling berpandangan karna sebenarnya mereka ingin pernikahan Abi dibuat pesta yang besar karma pak Darma juga ingin mengumumkan bahwa Abi akan menggantikannya penuh untuk mengurus perusahaan. Karna pak Darma sudah terlalau lelah dan hanya ingin menghabiskan masa tua bersama keluarganya saja.
__ADS_1
" Kalau satu bulan gimana Bii? Ibu akan menyiapkan semua kebutuhan pernikahan kamu dan Dila, kalian tinggal katakan saja apa yang kalian inginkan, gimana Dila?." kata bu Lasmi.
" Saya terserah Ibu dan mas Abi saja, kalau memang dirasa baik yaa silahkan." jawab Dila pasrah. Tapi bukan berarti Dila tidak suka pernikahannya dipercepat, itu disebabkan karna Dila tidak enak jika harus meminta ini dan itu sedangkan semua biaya keluarga Abi yang tanggung.
" Kalau kamu gimana Bii?" tanya bu Lasmi.
" Ya kemauan saya nggak disetujuin yaa sudah pasrah aja." kata Abi dengan sedikit kecewa.
" Baiklah kalau begitu satu bulan lagi kita laksanakan pernikahannya. Dan semoga dalam satu bulan ke depan semua berjalan dengan lancar sampai hari H." kata pak Darma.
Semua orang pun mengAamiinkan do'a pak Darma. Setelah semua pembicaraan tentang pernikahan selesai, kini mereka hanya mengobrol santai.
" Yang...kita jalan jalan yuuk sebentar." bisik Abi pada Dila.
" Jalan kemana mas?" tanya Dila.
" Yaa terserah, dekat dekat sini aja keliling kampung kamu. Kenalan sama tetangga tetangga kamu barang kali ada yang janda." kata Abi dengan senyum seringainya.
Dila langsung mencubit pinggang Abi karna keusilan calon suaminya itu. Abi memekik kesakitan.
" Nooh nenek nenek, banyak yang janda juga." kata Dila dengan jutek.
" Ya udah ayook biar tetangga kamu tau orang yang ganteng ini calon suami kamu." kata Abi percaya diri dengan membusungkan dadanya yang bidang.
" Huuh PD, yaudah ayok tapi ajak Nawang yaa." pinta Dila.
Abi pun mengiyakan permintaan Dila untuk mengajak keponakan kecilnya yang cantik itu.
Abi menikmati suasana kampung Dila yang tampak asri dan nyaman. Pemandangan yang berbeda dari tempat ia tinggal selama ini dan sepertinya Abi betah berada disini.
Abi dan Dila berjalan menyusuri kampung dan bertegur sapa dengan penduduk sekitar. Nawang si gadis kecil itu pun sangat riang karna melihat banyak hewan ternak yang masih banyak dipelihara oleh penduduk kampung.
" Waah Dila bawa siapa itu?" tanya salah seorang ibu ibu yang sedang berkumpul di salah satu rumah. Yaa biasa ibu ibu apa lagi kalau bukan bergosip.
Dila menghentikan langkahnya sejenak dan hanya tersenyum sipu tak menjawab pertanyaan sii ibu.
" Calonnya ya Diil? mampir sini dikenalin calon suaminya yang ganteng itu." kata ibu yang lain.
Abi dan Dila hanya senyum senyum saja tak menanggapi celoteh dari mak mak pemburu berita. Abi dan Dila akan berjalan kembali.
" Duda kah Diil calonnya? anaknya lucu yaa, umur berapa?" tanya ibu yang bernama bu Nur.
Mendengar perkataan si ibu, Abi menyurutkan senyumnya yang tadi mengembang.
" Ini keponakan buu nur." kata Dila singkat sambil menggandeng Nawang dan buru buru mengajak Abi pergi.
" Mari buu." lanjut Dila sambil berjalan.
" Huuft ngapain sih tadi ngajak si krucil jadi disangka duda kan aku." kata Abi cemberut sambil meraih tangan Nawang menggendongnya.
__ADS_1
" Om duda itu apa?" tanya Nawang dengan polosnya.
" Naah loo, mati gue ." kata Abi kebingungan dengan pertanyaan Nawang.
" Ayo jawab! salah sendiri ngomong sembarangan depan anak kecil." gerutu Dila.
" Gara gara si ibu tadi tuuh. Ini kalau gak dijawab bisa tanya mak sama bapaknya ini, aku yang bakal kena damprat kak Dewi." Abi kebingungan mencari jawaban.
" Om Nawang tanya, jawab !!" seru Nawang tidak sabar menunggu jawaban dari pamannya.
" Ooh itu anuu...duda itu.... Dua kuDa..., iya dua kuda yang sama sama terus." kata Abi sambil menunjuk hewan sapi yang dia lihat di depannya.
" Om Abi itu sapi bukan kuda." suara cempreng Nawang si bocah kecil itu keluar memprotes.
" Oh itu sapi yaa, waah kamu pintar yaa sayang he he he..." Abi kehabisan kata kata untuk menjelaskan pada keponakannya yang selalu ingin tahu itu.
" Lalu dimana kudanya oom?" tanya nawang lagi sambil celingak celinguk mencari sesuatu.
" Kudanya ada di kebun binatang dong sayang, nanti liat saja sama ayah dan bunda yaa." kata Abi membungkam mulut keponakannya agar tidak bertanya tanya lagi.
Dila tertawa melihat tingkah calon suami dan keponakannya itu.
Setelah puas berjalan jalan dan Abi juga sudah merasa badannya pegal karna sedari tadi berjalan Nawang hanya minta gendong saja. Dan mereka memutuskan pulang. Saat perjalanan pulang mereka ternyata berpaoasan dengan Dirga yang juga sedang pulang ke kampungnya.
" Dil...pulang juga?" sapa Dirga pada Dila dan juga tersenyum pada Abi.
" Iya mas Dirga." jawab Dila.
Tiba tiba saja Abi merasa kesal kenapa harus ada Dirga disana.
" Ngapain luu disini ? ngintilin kita luu?" tanya Abi dengan mendengus kesal.
" Sayangnya ini kampung gue bro,jadi gue bebas berkeliaran disini dan harusnya gue kan yang tanya seperti itu pada tamu." Dirga menekankan kata katanya sambil tersenyum sinis.
Seketika Abi bungkam yang baru ingat bahwa Dila memang satu kampung dengan Dirga.
" Sudah, kita pulang mas Abi." kata Dila buru buru menarik tangan Abi.
" Balik dulu ya mas Dirga." lanjut Dila lagi.
Mood Abi benar benar kacau setelah tadi bertemu dengan Dirga. Bibirnya hanya cemberut saja dari tadi.
Sesampainya di Rumah Dila, nawang langsung berlari ke arah orang tuanya.
" Dari mana naak?" tanya Dewi.
" Nawang habis jalan jalan bunda sama om Abi dan tante Dila. Bunda...Nawang nanti mau lihat Duda yaa di kebun binatang." kata Nawang polos namun berhasil menyita perhatian semua orang yang mendengarnya.
Dewi yang tau pasti dari mana putrinya mendapat kata kata itu langsung melotot pada Abi.
__ADS_1
" Mak maksudnya Dua kuda yang biasanya ada di kebun binatang itu kaak." kata Abi sambil terlihat panik.
Dila tertawa puas melihat kepanikan Abi yang mendapat tatapan intimidasi dari keluarganya.