Istri Kecil Kesayangan Tuan Muda

Istri Kecil Kesayangan Tuan Muda
Kaos kaki


__ADS_3

"Aku ada pantun, apa kau mau dengar?." Tanya pak Nasar


"Sejak kapan kau pandai pantun?." Pak Hadi mengeryitkan dahinya.


"Mau tidak?!." Ketus pak Nasar, pak Hadi pun mengangguk


"Bunga mawar, bunga melati..."


"Cakepp."


"Tumbuh liar dihutan jati..."


"Lanjut."


"Inginku lamar sipujaan hati...."


"Terus?."


"Tapi tunggu suaminya, mati!."


"Aaasekk." Ujar pak Hadi terkekeh


"Gimana pantun gue?." Tanya pak Nasar sok muda


"Heh, paling dapet digo*gle." Ketus pak Hadi


"Tapikan cakep itu pantun?.. pas buat Dita pujaan hatiku." Balas pak Nasar


"Emang dia mau sama lu?." Sinis pak Hadi


"Tentu." Sook cool


"Ingat tu lu punya anak lima, pasti dia tolak... Dia akan terima gue." Bangga pak Hadi


"Eh tolo*, lu juga punya anak lima!." Sewot pak Nasar


"Bullshit!!, gue lupa." Kata pak Hadi cengir


Mereka berdua melihat kearah dimana saat tadi Dita berdiri, namun setelah mereka melihat, ternyata Dita-nya sudah masuk kedalam rumah.


"Gara-gara lu sih, pantunnya kepanjangan." Menyalahkan pak Nasar.


"Gimana lagi, harusnya lu salahkn asistent go*gle tuh!." Ketus pak Nasar yang tidak terima.


"Emang dia bisa bernapas?." Tanya pak Hadi


"Tau, coba lu tanya sekarang." Suruh pak Nasar


Pak Hadi pun segera mengambil hp nokia jadulnya. Pak Hadi terus mencari-cari keberadaan asistent go*gle namun tidak ketemu.


"Lu gblk banget sih di, itu kagak ada asistent nya." Kata pak Nasar membuat pak Hadi sadar, bahwa saat ini iya sangat gblk.


"Nih hp gue." Sambil mengeluarkan hp mewahnya dari kantong celana.


"Wuihh, lu dapet itu hp dari mana?." Tanya pak Hadi kagum


"Gue nyicil satu tahun." Jawab pak Nasar


"Hahahahaaa, ternyata lu nyicil. Kirain langsung lunas." Kekeh pak Jadi sambil mengina pak Nasar.


"Yang penting gue bayar!." Ketus pak Nasar


"Ouh ok. Sekarang, mana tuh asistent gblknya?." Tanya pak Hadi


"Asistent go*gle, bukan asistent gblk." Ujar pak Nasar membenarkan perkataan pak Hadi.


"Yang penting hurup pertamanya G." Sewot pak Hadi


"Serah lu dah." Pasrah pak Nasar


"Ok go*gle, apa kau bisa bernapas?." Tanya pak Nasar yang kini terhubung dengn asistent go*gle


"Pertanyaan ini membuatku sedikit sadar, bahwa aku tidak bisa bernapas." Ujar asistent go*gle


"Tuhkan, dia aja tidak bisa bernapas." Ujar pak Hadi, namun tidak diperdulikan pak Nasar


"Apa aku akan selamanya menjadi duda?." Tanya pak Nasar lagi


"Iya, tuan akan selalu menjadi duda. Karena anak tuan terlalu banyak." Balas sang empu.


"Hahhaaaaa, lu selamanya jadi duda." Ejek pak Hadi tertawa lepas, sehingga membuat perutnya sakit.

__ADS_1


"Sekarang, gue lagi." Mengambil hp dari tangan pak Nasar


"Ok go*gle, apakah saya akan menjadi duda selamanya?." Tanya pak Hadi.


"Iya, tuan benar sekali. Tuan akan menjadi duda selamanya, jadi jangan berharap dengan wanita mana pun, termasuk saya." Sahut asistent go*gle.


"Hahahaaaa, ternyata lu sama saja." Kekeh pak Nasar


"Dia ini gak bener!." Ketus pak Hadi tidak terima


"Udah ah, gue mau pulang, kasihan anak gue gak ada yang jagain." Kata pak nasar yang meninggalkan pak Jadi sendirian.


"Ini gak bener!." Ketus pak Hadi yang mengingat perkataan dari asistent go*gle tadi


💙Pagi hari yang cerah.....


Dita sudah selesai bersiap-siap, karena hari ini iya akan masuk kuliah. Saat Dita hendak keluar, nyonya Sarah tiba-tiba memanggilnya.


"Kemari kau!." Teriak nyonya Sarah dari dalam kamarnya. Dita pun segera menghampiri nyonya Sarah kedalam kamarnya.


"I, iya nek?." Tanya Dita


"Duit!." Ketus nyonya Sarah


"T, tidak ada nek." Sahut Dita gemetar


"Saat kau pulang, harus bawa uang. Mengerti kau!!." Kata nyonya Sarah yang menekan akhir kalimatnya.


"B, baik, nek." Sahut Dita, dan segera berangkat.


Seperti biasa, Dita hanya berjalan kaki menuju kampusnya. Tak terasa, Dita sudah tiba digerbang kampus.


"Hay." Sapa Alek lembut


"Hem." Balas Dita tidak semangat, Alek yang melihat itu hanya mengeryitkan dahinya.


"Ada apa?." Tanya Alek


"Tidak ada." Jawab Dita, iya pun segera pergi meninggalkan Alek


Kau berbohong." Batin Alek. Alek pun segera mengejar Dita yang sudah lumayan jauh.


Sedangkan Adit, yang tadi melihat mereka berdua dari kejauhan merasa marah, karena Alek mendekati Dita.


Bel kampus berbunyi, waktunya semua murid belajar. Tapi, tidak dengan Dita.


Iya hanya menatap keluar jendela sambil melamun, tak memperdulikan penjelasan dari dosen yang ada didepan.


"Kau kenapa?." Tanya Adit dengan suara pelan, namun tidak dijawab oleh Dita


"Dita!." Panggil Adit lagi


"Eh?." Kejut Dita


"Kau kenapa?." Tanya Adit lagi


"Eh!, gak papa kok." Jawab Dita dengan senyuman. Adit pun hanya mengangguk, namun hatinya berkata lain.


Kau tidak bisa berbohong dari-ku." Batin Adit. Bel istirahat berbunyi, Adit pun segera mengajak Dita untuk kekantin.


"Apa kau ingin kekantin?." Tanya Adit


"Tidak." Balas Dita senyum paksa


"Ayolah. Hari ini aku traktir kamu makan." Ajak Adit lagi


"Baik." Balas Dita. Mereka berdua pun segera keluar dari kelas, dan menuju kekantin. Namun, tiba-tiba saja pak Aji menghentikan langkah mereka berdua.


"Kau kemana saja wanitaku!." Teriakan lebay dari pak Aji, sehingga membuat telinga para murid yang ada disana terasa ingin copot.


"Ada apa, pak?." Tanya Adit mengeryit


"Mengganggu saja." Memandang Adit tak suka


Hem, aku harus berpura-pura pingsan. Supaya Dita memberikan kiss-nya. Asekkk." Batin pak Aji sumringah.


Pak Aji pun langsung memulai aktingnya dengan sempurna.


Buggh


Gila, sakiy juga ini lantai. Untung lantainya gak retak." Batin pak Aji kesakitan

__ADS_1


"Pakk!!." Ucap para murid membangunkan pak aji


"Bangun, pak." Ujar Dita. Namun, tidak dengan Adit. Iya tahu bahwa pak aAji hanya berpura-pura saja.


Aktingmu itu membosankan." Batin Adit


"Dia hanya berpura-pura saja." Bisik Adit pada murid lainnya


"Bagaimana kalau kita kerjain." Ide salah satu siswa, para siswa yang ada disitu mengangguk.


"Dita, sepertinya pak Aji harus diberi napas buatan." Kata Adit


Yess, muachh." Batin pak Aji berbunga-bunga. Dita paham, apa yang dimaksut oleh Adit, iya pun membuka suara.


"Baiklah, aku akan memberi napas buatan." Sahut Dita


Alhamdulillah. Maakkk, Aji dapet rezeki hari ini." Batin pak Aji bersyukur.


"Nih kaos kaki gue, udah satu bulan gak dicuci." Kata salah satu siswa dengan berbisik.


"Gilaa, ini kaos kaki, apa *** sapi sih, baunya gak uwuu." Ujar satu murid yang mencium kaos kaki dari murid tadi.


"Udah gue bilangin. Cepat sikat." Suruhnya yang tak sabar lagi.


Para murid pun bersiap-siap untuk menaruh kaos kaki dihidung pak Aji, ada sedikit rasa takut. Namun, ada juga rasa bahagia yang tak ternilai.


Hoekkk


Hoekk


Pak Aji langsung terbangun, karena kaos kaki yang tadi sudah menempel dihidung pak Aji.


"Berhasil!." Ucap semua murid yang ada disana.


"Wahh, kaos kaki gue sungguh mujarab. Hhhahaaaa.." Tawa murid yang bangga dengan kaos kakinya.


"Kalian kurang ajar!!!." Marah pak Aji


"Bapak sendiri sih, pura-pura pingsan." Kata Adit santay


"Eh!, i, itu..." Gelagapan


"Kalian semua, bapak hukum!!... Lari lapangan sepuluh kali


" Perintah pak Aji berapi-api.


"Kok gitu pak!." Bantah seorang murid yang tadi meminjamkan kaos kakinya.


"Cepattt sanaa!!." Suruh pak Aji "Termasuk Dita!." Sambungnya.


"Baik, pak." Sahut mereka pasrah, namun dalam hati mereka rasa bahagia yang tak terhingga, karena dapat mengerjai guru killernya.


Sebenarnya, para murid-murid yang ada disana, ingin sekali mengerjai pak Aji, namun mereka semua takut


Para murid yang tadi dihukum, mulai berlari, termasuk Dita. Namun hanya satu kali putaran, tiba-tiba saja....


.


.


Bab Author perbaharui🙏


.


.


Follow Ig Author:@anahmsr


Fb:anahmsr


Email:hasnahmr05@gmail.com


.


.


JANGAN LUPA VOTE, RATE, LIKE, DAN COMENT-NYA.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2