
"Aku serahkan kepada kalian! Tapi jangan sampai dia mati!." Para penjaga yang berada didalam ruangan tersebut langsung mengangguk. Adit segera pergi dari ruangan tersebut dan segeea kembali ke rumah sakit.
"Jaga wanita sialan itu! Jangan sampai lepas!." Tegas Adit menatap mereka semua dengan tajam
"Baik, Tuan." Sahut merek serempak. Adit keluar dari markas besar itu, dan berjalan menghampiri mobilnya yang berada diujung jalan.
-----------
"Bagaimana keadaan istriku, Mah?." Tanya Adit cemas yang baru sampai dirumah sakit
"Kondisi istrimu sangat lemah, Dit. Apalagi bayi yanh ada didalam perutnya itu." Lirih Nyonya Lusi. Adit yang mendengar itu ia sangat murka kepada Yona, karena telah membuat istri dan anaknya dalam bahaya.
"Kau yang sabar, Dit. Kalau boleh Papah tau? Siapa dalang dibalik kejadian ini?." Tanya Tuan Dimas yang duduk disebelah Adit
"Yona, Pah. Wanita yang dulu menjebak kami waktu dihotel." Balas Adir dingin
"Apa kah sudah membunuhnya?." Tanya Tuan Dimas yang mulai memgeluarkan aura pembunuhnya, karena Tuan Dimas waktu masih muda ia adalah seorang mafia, maka dari itu ada sedikit jiwa kejam dan sadis pada Tuan Dimas.
"Belum, Pah. Aku hanya ingin dia disiksa terlebih dulu." Balas Adit
"Baguslah." Balas Tuan Dimas menyetujui keputusan Anaknya itu. Adit segere menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan istrinya itu.
"Bagaimana, Dok?." Tanyanya
"Kondisi istri dan anak Anda sangat buruk, akibat beberapa pukulan yang ada disekujur tubuhnya." Balas Dokter yang bernama Arman
__ADS_1
"Lakukan sebaik mungkin, kalau tidak! Kau yang akam ku bunuh!." Ancam Adit. Dokter Arman yang mendengar itu langsung meneguk air liurnya dengan susah payah
"B-baik, Tuan. Saya permisi." Dengan rasa ketakutan. Setelah Dokter Arman pergi, Adit dan kedua orang tuanya segera masuk kedalam ruangan Dita.
Setelah berada didalam, Adit langsung memegang tangan istrinya dan menciumnya. Sama seperti Tuan Dimas dan Nyonya Lusi, mereka berdua sangat sedih melihat kondisi menantunya saat ini.
"Dit, apa kau sudah mengabari, Nenek?." Tanya Nyonya Lusi
"Belum, Mah. Sebaiknya jangan membertahu dulu, takutnya akan membuat kondisi Nenek tidak baik." Ucapan Adit hanha diangguki kecil oleh Nyonya Lusi.
Tak berapa lama, Dita akhirnya membukakan matanya dengan perlahan-lahan. "Adit." Panggilan lirih dari Dita membuat Adit menoleh kearah istrinya
"I-iya sayang, dimana yang sakit? Biar aku panggilkan Dokter." Lirih Adit gelagapan
"Aku baik-baik saja, tenanglah." Sambil tersenyum getir
"Aku tidak ingat, karena waktu itu aku sudah pingsan." Balas Dita yang mengingat kejadian buruk saat ia masih sadar, dimana beberapa orang yang berdiri dihadapan nya sambil memegang sebuah tongkat masing-masing.
"Kau tidak aku ijinkan kemana-mana lagi!." Tegas Adit, karena ia takut jika kejadian seperti ini terulang lagi.
"Baiklah sayang. Aku mau makan." Pinta Dita cemberut
"Tunggu sebentar, aku akan membelikan makanan kesukaan mu. Mah, Pah, jagakan istriku." Ucap Adit dan segera pergi keluar.
"Kau beristirahatlah, Ta. Agar kau dan anakmu lekas sehat." Suruh Nyonya Lusi
__ADS_1
"Ia, Mah." Langsung memejamkan matanya, sambil menunggu Adit kembali
------------
Dua hari kemudian, kini kondisi Dita mulai membaik. Saat ini ia tengah berbicara dengan Adit. "Dit, ingin rujak." Pinta Dita dengan wajah imut
"Komisi?." Tanya Adit menyeringai
Cup....!
Dita langsung mencium pipi suaminya dengan sangat mesra, sehingga membuat Adit ingi membalasnya, namun ditahan oleh Dita.
"Belikan dulu." Cemberutnya
"Awas kau! Kalau bohong!." Ancam Adit sambil mengusao perut Dita dengan lembut
"Janji! Kalau aku ingat." Balas Dita cengengesan
"Kau tunggulah disini sebentar." Balas Adit dan segera pergi dari ruangan istrinya. Saat Adit sudah pergi, tiba-tiba saja ada seorang pria yang masuk keruangan Dita.
.
.
🌹*Jangan lupa kasih Like, Vote, Coment dan Ratenya ya, karena itu sangat berharga bagu Author.🌹
__ADS_1
Mampir juga kekarya Author judulnya 'Nanda & Claundia' sama 'Wanita Pembunuh Berantai' nama penanya 'Asnah*'