
"Sayang, ingin itu." Tunjuk Dita dengan manja kepada orang yang sedang berjualan Gula kapas.
"Apa kamu gak mau Ice Cream?." Tanya Adit
"Eh?!. Ice Cream aja." Sahut Dita berbinar
"Mari ikut." Ajak Adit menarik tangan istrinya ke-sebuah kedai Ice Cream yang ada didekat taman.
"Yang mana?." Tanya Adit yang sudah berada dikedai bersama istrinya.
"Yang enak-lah." Balas Dita sambil melihat-lihat jenis Ice Cream.
"Tunggu sebentar." Ucapan Adit hanya diangguki oleh Dita. Iya pun segera mencarikan Ice Cream dengan rasa yang enak.
"Ni...." Adit sangat terkejut melihat istrinya yang sedang memegang berbagai macam Ice Cream.
"Heee, enak." Kikuk Dita
"Apa kau yakin?." Tanya Adit
"Yakinlah." Sahut Dita yang langsung keluar dari kedai tanpa membayarnya.
"Ngidam apa doyan?." Gerutu Adit bertanya sendiri. Adit segera membayar semua Ice Cream yang tadi dipilih oleh istrinya sendiri.
-------
"Mana Ice Cream tadi?." Tanya Adit menghampiri istrinya yang sedang duduk ditaman.
"Ice Cream?." Tanya Dita balik sambil mengeryit.
"Iya!. Ice Cream tadi mana?." Tanta Adit yang mulai Frustasi
"Oh!." Balas Ditas sambil menunjuk kerah tong sampah. Adit yang melihat istrinya menunjuk ke-tong sampah langsung melihatnya.
Adit sangat shock melihat isi tong sampah yang banyak sekali bungkusan Ice Cream yang sudah dibuka.
"Apa kau yang memakan-nya sendiri?." Tanya Adit, namun hanya digelengi oleh Dita.
"Lalu?." Tanya Adit mengeryit
"Noh." Sambil menunjuk kearah anak-anak jalanan yang ada didekat keberadaan mereka. Adit langsung berpaling kebelakang untuk melihat kearah yang ditunjukkan oleh istrinya itu.
Lagi-lagi Adit sangat shock sekaligus terharu, karena istrinya sangat baik pada anak-anak jalanan. Iya pun langsung merangkul pinggang Dita dengan sangat erat.
"Ini untuk-mu." Sambil menyerahkan satu Ice Cream yang tadi iya beli.
"Wah kerennya." Sambil bertepuk tangan seperti anak-anak yang baru pertama kali makan Ice Cream.
"Duduk disitu dulu." Tunjuk Adit pada kursi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Tidak!. Aku ingin disini saja." Yang langsung duduk dipinggir jalan. Adit yang melihat istrinya seperti itu hanya bisa menghembuskan napas dengan kasar. Karena percuma melarang, istrinya saja keras kepala sangat.
Sembilan bulan saja Dit, sabat!." Batin Adit menenangkan batinnya.
"Apa enak?." Tanya Adit yang juga ikut duduk disebelah Dita.
"Tidak enak!." Ketus Dita sambil memakan Ice Creamnya.
"Kenapa?." Tanya Adit mengeryit.
"Tau. Kalau mau enak ya minta saja lah." Sahut Dita asal. Adit hanya tersenyum kecil, padahal batinnya saat ini tersiksa melihat kelakuan istrinya.
"Sayang pengen itu lagi." Tunjuk Dita manja kearah orang berjualan Gula kapas.
__ADS_1
"Habiskan dulu." Sahut Adit lembut sambil menusut kepala Dita pelan.
"Tidak!! Harus sekarang!!. Cepat belikan!." Tegas Dita yang hendak berdiri, namun terlebih dulu ditahan oleh Adit.
"Kau disini saja. Aku akan kesana dulu." Ucapan Adit hanya diangguki kecil oleh Dita. Kini Dita sedang senyum-senyum sendiri memikirkan perubahan-nya yang 180° menurun.
"Nak ikut." Kata Dita sambil tersenyum kecil. Adit tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa menganggukkan kepala dan segera menggandeng tangan istrinya.
"Beli satu." Ucap Adit pada paman yang berjualan Gula kapas
"Dua Paman ya, gak usah dengarin apa kata dia." Sahut Dita ramah. Paman yang berjualan Gula kapas itu hanya mengeryitkan dahinya, dan segera membuatkan dua Gula kapasnya.
"Nanti gigi-mu sakit loh." Cemas Adit menatap istrinya lekat.
"Nangis nih." Balas Dita yang hendak memulai Aktingnya.
"Eh! Iya-iya dua." Sahut Adit yang langsung membujuk istrinya agar tidak menangis.
Rasain lu, hahhaa ngakak we." Batin Dita terkekeh.
"Ini Tuan, Nona." Sambil menyerahkan satu-satu kepada Adit dan Dita.
"Punyaku." Merebut Gula kapas dari tangan Adit dan pergi ketempat dimana sepedanya di-taruh.
"Ngidam ya? Istri Tuan?." Tanya Paman yang berjualan Gula kapas
"Iya paman." Sahut Adit mengangguk dan menyerahkan uangnya.
"Jaga dia baik-baik, jangan sampai dia terkena..." Sahut Paman yang senghaja-nya dipotong.
"Kenapa ya?." Tanya Adit mengeryit
"Tidak ada apa-apa Tuan." Sahut Paman lagi.
"Oh, kalau begitu terima kasih." Kata Adit yang hendak menemui istrinya yang sudah jauh.
Sedangkan ditempat lain, saat ini Ina sedang bersembunyi dibelakang semak-semak taman. Karena iya terus saja dikejar-kejar oleh seseorang yang mencintainya.
"Cape gue." Gerutu Ina ngos-ngosan.
"Ina!!!." Teriak seorang pria yang dekat dengan keberadaan Ina.
Jangan sampe ketahuan." Batin Ina ketakutan.
"Kau tidak akan bisa kabur dariku!!!." Teriak-nya lagi.
Pria itu terus mencari keberadaan Ina kesana-kemari. Saat hendak berbalik iya melihat seseorang yang sedang bersembunyi disemak-semak.
Aku sudah menemukan-mu." Batin pria itu gembira.
"Mau-kah kau menjadi istriku!."
"Iya!." Sahut Ina keceplosan. Pria yang mendengar sahutan itu langsung memeluk Ina dengan erat.
"Sudah ku duga." Bisiknya ditelinga Ina dengan lembut
"A, aku tidak senghaja bilang begitu." Gelagapan
"Tidak bisa diulang lagi sayang." Sahutnya sambil tersenyum licik.
Ina yang mendengarnya hanya bisa terdiam mematung ditempat, karena iya sudah membuat kesalahan yang sangat besar hari ini.
"Satu bulan lagi kita akan menikah." Katanya merangkul pinggang ramping Ina.
__ADS_1
"T, tapi ka.."
"Tidak ada tapi-tapian atau penolakan!." Tegasnya. Orang itu adalah Arka, iya sangat mencintai Ina, sejak pertama kali mereka berdua bertemu. Dimana yang satu gaje dan satunya caper awokkawok.
"A, apa kau serius?." Tanya Ina gugup. Sebenarnya iya juga mencintai Arka, namun iya takut untuk mengungkapkan nya, karena Arka adalah orang yang cukup terkenal dan banyak digemari para wanita-wanita cantik dan sexy.
"Aku sangat serius sayang." Sahut Arka dan berlutut dihadapan Ina sambil mengelurkan satu cincin berlian yang sangat mewah.
Ina yang melihat cincin itu sangat terkagum-kagum, saat ini mulutnya tidak bisa berkata-kata lagi. Arka yang melihat calon istrinya terbengong hanya bisa menahan tawanya.
"Apa kau bersedia menjadi istri dan ibu dari anak-anakku nanti." Kata Arka dengan tulus dan lembut.
"Aku bersedia." Sahut Ina serius sambil tersenyum. Arka yang mendengar jawaban yang sangat serius dari Ina sangat gembita, iya pun segera memasangkan cincin tadi dijari manis Ina.
"Ini sangat mahal." Kata Ina sambil melihat-lihat cincin yang ada dijari manis tangan kirinya.
"Aku akan membelikan apapun untukmu, selagi aku masih bisa." Balas Arka memeluk Ina.
"Apa kau lapar sayang?." Tanya Arka memusut kepala Ina dengan lembut.
"Sangat lapar." Balas Ina tanpa malu-malu. Iya sekarang sudah tidak malu-malu lagi dengan Arka, karena iya sudah pernah membuat dirinya sendiri malu saat pertemuan pertama.
"Apa kau mau digendong?." Tanya Arka lembut.
"T, ti...." Tanpa mendengar penolakan dari Ina, Arka langsung menggendong tubuh calon istrinya itu menuju parkiran.
Setelah sudah sampai diparkiran, iya segera memasukkan Ina kedalam mobil dan mendudukkan-nya dikursi paling depan.
"Tunggu disini dulu." Kata Arka dan menutup pintu mobilnya. Iya segera menelpon sesorang untuk memberitahukan sesuatu.
"Aku sudah mendapatkan-nya." Ucap Arka dengan orang yang mendengarnya dari sebrang telpon.
"............"
"Baiklah, aku mau pergi bersama-nya dulu." Balas Arka dan mematikan sambungan telponnya.
"Maaf lama." Ucap Arka yang baru masuk kedalam mobilnya.
"Tidak apa-apa sayang." Sahut Ina tersenyum kearah Arka. Arka pun membalas senyuman dari Ina dan segera menjalankan mobilnya menuju lestoran mewah.
--------
"Mau lagi." Rengek Dita yang baru selesai memakan Gula kapasnya tadi.
"Tidak boleh!." Tegas Adit dan menatap Dita tajam
"Hikss, hiks. Kau jahat." Sambil memukul lengan Adit dengan sangat kencang, namun tidak membuat Adit kesakitan.
"Huh! Satu aja ya." Balas Adit lembut.
"Emmmm! Dua." Dengan wajah imutnya dan mata yang senghaja dikedip-kedipkan nya
"Satu." Yang masih lembut dan sabar
"Tiga!." Ketus Dita menatap Adit dengan tajam dan wajah datar
"Itu pamannya udah pergi." Tunjuk Adit kepada paman yang berjualan Gula kapas tadi yang hendak pergi dari taman itu.
Hiksss
Hiks
Tangisan Dita pecah saat melihat kearah yang Adit tunjuk tadi. Adit yang mendengar tangisan dari istrinya langsung gelisah.
__ADS_1
"T, tunggu disini." Suruh Adit dan segera berlari menghampiri paman yang sudah mulai menjauh.
Lari terosss." Batin Dita terbahak-bahak.