
"Cari tahu semuanya." Bicara Adit kepada orang yang berada disebrang telpon. Adit langsung mematikan ponselnya, karena Dita sudah kaluar dari kamar mandi.
Mereka berdua segera keluar, untuk menemui penghulu. Adit langsung mengucapkan ijab kabulnya dengan sangat mantap. Kata {Sah} sudah keluar lagi mulut semua para saksi, menandakan bahwa Dita dan Adit sudah Sah menjadi sepasang Suami Istri.
Karena tak kuasa, Pak Aji pun akhirnya menangis dipunggung Ibu Sasa. Ibu Sasa sangat senang, karena baru pertama kali, Pak Aji mau sedekat ini.
Semua orang sudah bubar, Adit dan Dita segera pulang menuju rumah Dita. Saat sudah sampai didepan rumah. Dita menyuruh Adit menunggu diluar saja, karena Dita tidak ingin kalau Adit merasa tidak enak nantinya.
Dan benar saja, rambut Dita langsung dijambak oleh Nyonya Sarah dengan sangat kasar. Karen Nyonya Sarah sudah diberitahu oleh Yona.
"Dasar anak sialan. Kau enyahlah dari hadapanku." Menghemaskan tubuh Dita kelantai dengan sangat kasar. Dahi Dita terbentur sangat keras ditempok, hingga mengeluarkan darah segar. Iya pun segera bangkit, dan mengambil baju-bajunya.
Sedangkan Nyonya Sarah, terus saja mengeluarkan sumpah serapah kepada cucunya.
Adit yang melihat keadaan Dita yang sangat memprihatinkan, sangat merasa bersalah. Iya pun segera membawa Dita kekontrakan yang sudah iya siapkan sebelumnya.
Kontrakan yang Adit sewa lumayan besar untuk mereka berdua. Adit segera membawa Dita kedalam kamarnya, karena kondisi Dita yang terus diam. Dita membaringkan tubuhnya dan segera memejamkan matanya. Air matanya tidak lagi keluar, iya sudan pasrah dengan semuanya.
Semantara Adit. Iya saat ini tengah menelpon Nyonya Lusi, untuk memberitahukan semuanya.
"Mah, aku sudah menikah." Perkataan Adit, membuat Nyonya Lusi sangat terkejut. Iya ingin sekali menjewer telinga Putra pertamanya itu, karena berani bercanda yang sangat kelewatan.
"Kau jangan bercanda, Dit." Sahut Nyonya Lusi, yang sama sekali tidak mempercayai perkataan dari Adit barusan.
"Aku serius." Kata Adit dengan keseriusan dari sebrang telpon. Karena mendengar perkataan Putranya yang sangat serius. Nyonya Lusi pun mulai mempercayainya.
"Ceritakan, semuanya." Balas Nyonya Lusi yang juga sangat serius.
Adit langsung menceritakan semuanya kepada Nyonya Lusi. Nyonya Lusi yang mendengar semua cerita dari Adit, merasa sedikit senang. Meskipun cara seperti ini, yang penting iya sudah mempunyai menantu pilihan putranya sendiri.
"Kami merestui kalian, Berdua." Balas Nyonya Sarah kegirangan. Adit yang merasakan kebahagiaan dari ibunya, juga ikut senang.
"Aku akan disini, dulu." Ucap Adit. Karena iya masih ingin membiasakan berdua bersama Dita.
"Baiklah. Tapi, jangan lama-lama ya. Kami ingin sekali berbicara dengan istrimu, itu." Balasan dari Nyonya Lusi, hanya diiya oleh Adit. Adit langsung memutuskan ponselnya, dan kembali masuk kedalam.
Adit memandangi wajah Dita yang sedang tertidur pulas. Iya pun segera ikut berbaring disebelah Dita.
Hari sudah pagi. Namun, Dita masih belum membuka matanya. Sedangkan Adit, iya kini tengah menyiapkan makanan untuk Dita. Karena Adit juga sangat pandai dalam memasak makanan. Iya memasak nasi goreng, untuk iya makan bersama Dita.
__ADS_1
Karena cahaya mengenai mata Dita, iya pun mulai terbangun. Dita mengucek-ngucek matanya, mengumpulkan nyawa yang setengah kabur dari tubuh Dita. Setelah sudah terkumpul Dita segera menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.
Saat iya melalui dapur, langkahnya terhenti. Dita kini tengah memperhatikan Adit yang sedang menyiapkan sarapan.
"Mandilah dulu." Sontak membuat Dita terkejut. Iya tidak menyangka bahwa Adit merasakan kehadiran-nya saat ini.
"Eh!, hhaha.. Baiklah." Balas Dita kikuk, iya segera menuju kamar mandi.
Setelah selesai. Dita segera menuju kedapur untuk sarapan, karena perutnya sudah sangat lapar.
"Kau sangat pandai memasak." Puji Dita yang sudah menyuap makanan kedalam mulutnya.
"Biasa saja." Merendah. Dua pasangan pengantin baru itu tidak berbicara lagi. Mereka berdua hanya pokus menyuap nasinya.
"Apa kau mau rujak?." Tanya Adit, yang tengah melihat Dita sedang melamun. Mereka berdua hari ini tidak masuk kampus, karena tidak memungkinkan harinya saat ini.
"Tidak." Balas Dita yang tersadar dari lamunannya
"Lalu?." Tanya Adit lagi, kini iya sudah berada disebelah Dita. Mereka berdua duduk dihalaman kontrakan mereka, sambil menatap kearah jalanan yang mulai ramai.
"Tidak ada." Sahut Dita tanpa memandang Adit
"Maafkan, aku." Lirih Adit. Kejadian malam tadi, membuat perasaan-nya sedikit bahagia, karena akhirnya bisa bersama dengan wanita pujaannya. Namun sedih, karena telah menghancurkan masa depan wanitanya itu.
Tak terasa hari sudah mulai gelap. Dita dan Adit tengah belajar bersama, karena sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian. Tiba-tiba saja, perut Dita berbunyi.
"Tunggu sebentar." Adit pun segera pergi keluar untuk membeli makanan buat Dita. Tidak butuh waktu lama, adit sudah kembali kekontrakan-nya.
"Makanlah." Sambil menyerahkan bungkusan nasi kepada Dita. Dita segera kedapur untuk mengambil piring, agar lebih enak memakannya.
Adit dan Dita melahap makanan-nya sampai habis. Mata keduanya mulai mengantuk, Dita segera membaringkan tubuhnya diatas kasur, sedangkan Adit, iya diam-diam pulang kerumah-nya.
"Semua bukti sudah hilang, Mah." Ucap Adit kepada Nyonya Lusi. Adit sudah berada dirumahnya, Adit tidak meninggalkan Dita sendirian. Dikontrakan-nya saat ini banyak sekali yang berjaga didekat kontrakannya itu.
"Rencana mereka sangat mulus ternyata." Balas Nyonya Lusi. "Tapi, tidak apa-apa jika buktinya hilang. Mamah sangat senang, akhirnya mempunyai menantu yang sangat cantik dan baik." Sorak Nyonya Lusi kegirangan
"Pilihan Adit gito loh." Bangga Adit
"Wuih. Pengantin baru datang." Bicara Irfan yang baru keluar dari kamarnya
__ADS_1
"Ngapa lu." Sewot Adit
"Ngapa da." Dengus Irfan, iya pun kembali kekamarnya lagi. Nyonya Lusi hanya bergeleng kepala, melihat tingkah kedua Putra-nya itu.
"Kenapa tidak kau bawa saja dia kemari." Kata Tuan Dimas yang baru ikut gabung bersama Istri dan Anaknya.
"Nanti saja, Pah." Sahut Adit menyeringai. Tuan Dimas pun mengerti apa yang dimaksut oleh Putra pertamanya itu. Sedangkan Nyonya Lusi hanya mengeryit melihat keduanya saling menyeringai
"Good." Mengacungkan jempolnya diudara
"Apaan?." Tanya Nyonya Lusi pada Suaminya.
"Good sleep, Istriku." Sahut Tuan Dimas dengan suara menggoda, sehingga membuat Nyonya Lusi tersipu.
"Mah, Pah. Adit pulang dulu." Sambil menyalami kedua tangan orang tuanya. Adit segera melajukan mobilnya menuju kontrakan yang iya tepati sekarang. Saat sudah sampai, iya menyerahkan mobil tadi kepada penjaga yang berada didekat rumah-nya itu.
.
.
Bab Author perbaharui🙏
.
.
Follow Ig Author:@anahmsr
Fb:anahmsr
Email:hasnahmr05@gmail.com
.
.
JANGAN LUPA VOTE, RATE, LIKE, DAN COMENT-NYA.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.....