
Saat ini Adit berada didalam ruang bawah tanah pribadi miliknya, ia saat ini tengah menatap Pak Aji dengan sangat tajam seperti ingin membunuhnya, tapi ia tidak ingin membunuh Pak Aji dengan mudah, ia terlebih dulu menyiksa tubuh Pak Aji.
Sedangkan Pak Aji masih belum sadarkan diri, dengan tangan yang terikat kebelakang. Wajah Pak Aji sudah babak belur, dan banyak luka goresan benda tajam disekujur tubuhnya.
"Ambilkan banyu!." Tegas Adit. Anak buah Adit yang berada didalam ruangan itu segera mengambilkan seember air dan lamgsung menyerahkan kepada, Tuannya.
Byurr
"Uhukk.. Uhukk." Batuk Pak Aji tersadar setelah disiram dengan air dingin. Kini Pak Aji sudah sepenuhnya sadar dan langsung mendongak melihat orang yang berdiri tegap dihadapan nya.
"Sudah puas? Kenapa kau melakukan itu bodoh?." Geram Adit mencengkram kerah baju Pak Aji
"Hahaa.. Aku sangat puas! Kalau aku tidak bisa mendapatkan nya! Maka kau juga tidak akan bisa!." Dengan sitemani tawa yang menggelegar didalam ruangan tersebut.
"Breng*ekk!!!! Tua berdebah!!."
Bughh
Krekk
Bughh
*Bughh
akhh
__ADS_1
krek
A*dit terus memukul Pak Aji secara bertubi-tubi, dan sesekali mematahkan tulang tangan Pak Aji. Kini Pak Aji tersungkur dilantai dengan darah yang mengalir segar disudut bibirnya.
"Bunuh saja aku! Lagipula, istri dan anakmu tidak akan selamat! Hahaa, aku sangat senang." Tawa Pak Aji seperti orang gila yang hilang akal(kan orang gila emang hilang akal wkwkk)
"Aku tidak akan membunuh mu! Sampai kau sendiri yang membunuh dirimu sendiri!." Pekik Adit menahan amarah
Pak Aji sangat terobsesi dengan kecantikan dan kebaikan yang Dita miliki, bahkan orang-orang tidak mengira, bahwa Pak Aji bisa berbuat sekeji itu demi mendapatkan orang yang ia inginkan.
"Siram dia dengan air garam." Suruh Adit dan langsung keluar dari ruangan bawah tersebut. Ia segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit, ia masih tidak tahu bagaimana kabar istri dan anaknya.
Tak selang beberapa menit, Adit sudah sampai diparkiran rumah sakit dan segera masuk kedalam.
"Bagaimana istri dan anakku, Mah?." Tanya Adit getir menatap ibunya lekat sabari menunggu jawaban dari sang ibu.
"Istrimu koma, dan anakmu tidak selamat." Sahut Darren yang baru datang kerumah sakit. Mendengar sahutan dari Darren membuat tubuh Adit terkulai jatuh kelantai, ia terus menyalahkan dirinya karena sudah sangat ceroboh dan tidak becus menjadi seorang suami.
Tak terasa kini cairan bening sudah lolos dipelupuk mata, Adit mulai menjatuhkan air matanya hingga membasahi pipinya. Ia terduduk sambil memeluk kedua kakinya dan merebahkan kepalanya dikedua lutut yang ada dihadapan nya.
"A-aku suami tidak becus! M-menjaga istri dan anakku saja tidak b-bisa! B-buat apa banyak harta? S-semuanya sudah hancur... A-aku tidak berguna." Lirih Adit terbata-bata, meruntuki nasibnya yang sangat malang itu. Tak selang beberapa menit, seorang Dokter keluar dari ruangan ICU tempat Bella dirawat.
"Kondisinya semakin buruk, kami tidak tau, apa kami bisa menyelamatkan nyawa nya, karena dia banyak sekali kehilangan darah akibat itu, ditambah bayi yang ada didalam kandungan nya, membuatnya semakin melemah." Jelas Dokter itu dengan panjang lebar, ia juga sangat merasa sangat bersedih melihat atasannya yang sangat memprihatinkan.
Adit yang mendengar penjelasan dari Dokter pribadinya langsung membeku ditempat, perasaan bersalahnya terus menghantuinya, bahkan ia saat ini masih mengenakan baju yang banyak bercak darah milik Bella(panggilannya sekarang Bella ya say, karena nama asli Anandita Kusuma adalah Bella Jovanka Kusuma).
__ADS_1
"Lakukan lah yang terbaik buat adikku." Balas Darren.
"Kami tidak bisa berjanji, tapi kami akan melakukan semaksimal mungkin agar nyawanya selamat. Kalian berdo'a saja, agar kondisinya semakin membaik... Dan jika kalian ingin melihat kondisinya, hanya satu orang saja yang boleh masuk. Saya permisi." Ucap sang Dokter panjang lebar.
Mendengar itu Adit segera berdiri, dan mengambil baju steril yang berwarna hijau yang sudah disediakan pihak Rumah sakit. Kini Adit berdiri didepan pintu ruangan ICU, sambil menguatkan dirinya. Ia pun segera mengambil napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan nya dengan sangat sesak.
Adit memegang gagang pintu ruangan ICU dan langsung membukanya dengan perlahan. Baru saja membuka pintu, kaki Adit sudah mulai gemetar, ia pun menguatkan dirinya untuk masuk kedalam.
Dengan langkah gontai, Adit memasuki ruangan ICU . Adit menatap istrinya dari kejauhan, terlihat banyak sekali alat-alat rumah sakit tertancap diseluruh badan istrinya. Kini Adit sudh berada disebelah brangkar istrinya. Adit menatap sendu wajah istrinya yang terlihat sangat pucat pasih, ia segera mengambil kursi kecil dan duduk disebelah istrinya.
Adit menggenggak tangan istrinya dengan sangt erat, tak terasa air bening lolos dipelupuk matanya. Adit terus menciumi tangan istrinya itu dengan sangat lembut.
"K-kau jangan m-meinggalkan ku sayang. A-aku lebih baik hidup susah, daripada harus kehilangan dirimu... A-a-aku s-sudah m-menangkap pelakunya." Bicara Adit terbata-bata, karena ia mulai sesigukan.
Dokter dan beberapa suster memasuki ruangan itu dan mendekati Adit.
"Maaf, Tuan. Waktu Anda habis, silahkn keluar." Ucap Dokter yang bernama Fahri. Mendengar suruhan itu, Adit terpaksa menuruti, demi kabaikan istrinya sendiri. Adit mengecup kening Bella dengan sangat lama, seperti akan terpisah untuk selamanya.
"K-kau harus kuat sayang, n-nanti k-kita buat dede baru lagi. A-aku keluar dulu." Bisik Adit lirih ditelinga Bella.
.
.
🌹Jangan lupa kasih Like, Vote, Coment dan Ratenya ya, karena itu sangat berharga bagu Author.🌹
__ADS_1
Mampir juga kekarya Author judulnya 'Nanda & Claundia' sama 'Wanita Pembunuh Berantai' nama penanya 'Asnah'