Istri Kecil Kesayangan Tuan Muda

Istri Kecil Kesayangan Tuan Muda
Koma


__ADS_3

Sudah satu minggu Bella terbaring di brangkar rumah sakit, namun ia masih belum membuka matanya. Sudah satu minggu pula, Adit berdiam diri disamping istrinya.


Bella dirawat di mansion milik keluarga Raharja, karena Bella dinyatakan tidak akan membuka mata satu sampai dua bulan, bahkan bisa sampai satu tahun.


Mendengar pernyataan dari pihak Dokter, membuat Adit sangat terpukul, ia terus menangis saat menatap sendu wajah istrinya yang sangat pucat. Bella baru 2 hari dipindahkan ke mansion, karena sebelumnya, kondisi Bella terus memburuk.


Saat ini Adit sedang berada di Markas besar miliknya, untuk mengurus Pak Aji yang masih belum ia habisi. Adit berjalan dengan tegap dan berwajah dingin, ia hari ini berencana untuk menghabisi Pak Aji dengan sangat sadis.


Kini Adit sudah berada didalam ruangan bawah tanah, banyak sekali yang berjaga diruangan itu. Mereka yang melihat kedatangan Tuannya langsung menjadi pias dan gemetar.


"Bagaimana kabar mu?." Tanya Adit dingin


"Heh! Aku sangat baik!... Apa istrimu sudah tiada?." Pertanyaan itu membuat rahang wajah Adit mengeras, kini wajahnya sudah merah padam, karena tak bisa menahan lagi, Adit langsung menghantam Pak Aji.


"********!!!." Pekik Adit


Bughh


Krekk


Argh


Bughh


Cress


Plakk


Krekk

__ADS_1


Adit terus menghantam Pak Aji secara bertubi-tubi, dan sesekali mematahkan tulang tangan Pak Aji. Kini Pak Aji sudah terkapar dilantai dengan bersimbuh dengan darah segar.


Sedangkan Adit, ia menatap Pak Aji yang sudah terkapar itu dengan sangat tajam, ia masih menahan amarah akibat ucapan Pak Aji tadi.


"Hahaa... Habisilah aku! Lagipula istrimu tidak akan selamat." Tawa lirih dari Pak Aji keluar, ia merasa kesakitan disekujur tubuhnya.


"Kauu!!!." Adit langsung mengambil belati tajam miliknya lalu mencolokkan belati itu dikedua mata Pak Aji.


Arkhhhh


Pak Aji berteriak saat Adit mencolokkan belati itu dikedua matanya. Tak cukup bagi Adit jika menyiksa Pak Aji dengan cara kecil, ia kembali menyayat jari-jari tangan Pak Aji.


"Arghhhh.. Cepat habisi aku!!!." Pekik Pak Aji tak kuasa menahan sakit ditubuhnya. Namun bukan Adit namanya, jika berhenti menyiksa orang yang sudah mengganggu miliknya. Para penjaga yang melibat itu ingin memuntahkan isi yang ada didalam perutnya, mereka terus bergidik ngeri saat melihat Adit menyiksa musuhnya.


"Ambilkan air garam." Dingin. Para penjaga itu tersentak kaget saat mendapatkan suruhan dari Adit, salah satu para penjaga mengangguk dan segera mengambilkan air garam yang diminta Adit.


Arghhhhhhh


Teriak Pak Aji, saat Adit menumpahkan air garam itu, betapa pedihnya yang dirasakan Pak Aji saat ini, tak sebanding dengan rasa sakit Adit saat mengingat istrinya yang terkena tembak malam itu.


"Kau ingin matikan?." Tanya Adit dingin, dengan cepat Pak Aji mengangguk.


Dorrr


Dorr


Dorr


Adit menembak bagian belakang tubuh Pak Aji 3 kali, sasaran itu tepat dimana Bella juga terkena tembakan dari Pak Aji. Karena sudah tidak tahan lagi, Pak Aji menghembuskan napasnya dengan sangat kasar. Pak Aji meninggal dengan sangat memprihatinkan, dengan tubuh yang banyak luka, ditambah tubuh yang diselimuti dengan darah.

__ADS_1


"Berikan kepada, Anjing." Ucao Adit lalu segera pergi dari ruangan yang bau amis akibat darah itu.


Adit berjalan keluar dari markasnya dan seger menghampiri mobilnya yang lumayan jauh dari markas tersebut. Tak terasa kini Adit sudah sampai ditempat mobilnya terparkir, ia pun segera masuk dan segera menjalankan mobilnya.


Ia tak sabar lagi untuk menemui istrinya dirumah, ia berharap pernyataan dari Dokter pribadinya itu salah. Sebelum sampai di mansion, Adit terlebih dulu mampir dipinggir jalan, ia segera turun dari mobilnya dan menghampiri orang yang berjualan Gula kapas dan rujak.


"Paman, saya beli semuanya." Ucapan dari Adit membuat pedagang pinggir jalan itu terkejut.


"B-baik, Tuan." Balasnya, dan langsung menyiapkan pesanan rujak dari Adit. Adit kemudian menghampiri pedagang berjualan Gula kapas yang bersebelahan dengan pedagang rujak.


"Paman, saya borong semuanya." Pedangan Gula kapas itu juga ikut terkejut dengan ucapan Adit, ia sangat senang dagangan miliknya akan cepat habis.


"B-baik, Tuan." Balasnya.


Tak lama Adit menunggu, kini kedua pesanan nya tadi sudah selesai disiapkan. Adit pun segera memberikan uangnya kepada pedagang pinggir jalan.


"I-ini banyak banget, Tuan."


"I-iya, Tuan. Itu harganya hanya 350 ribu." Sahut pedagang yang berjualan Gula kapas, karena Adit memberikan kedua pedagang itu masing-masing 2 juta.


"Ambillah buat kalian, do'akan semoga istri saya sudah bangun dari komanya. Saya permisi." Ucap Adit dengan penuh semangat, berharap istrinya sudah menunggu kepulangan nya itu. Sedangkan kedua pedagang yang mendengar ucapan Adit menjadi sedih.


.


.


🌹*Jangan lupa kasih Like, Vote, Coment dan Ratenya ya, karena itu sangat berharga bagu Author.🌹


Mampir juga kekarya Author judulnya 'Nanda & Claundia' sama 'Wanita Pembunuh Berantai' nama penanya 'Asnah*'

__ADS_1


__ADS_2