
"Paman beli." Ucap Adit ngos-ngosan. Sedangkan paman yang melihat Adit ngos-ngosan hanya bisa menahan tawanya.
"Udah habis." Sahut paman yang berjualan Gula kapas tadi dengan santainya, tanpa melihat ekspresi Adit yang saat ini sangat kesal.
"Pergilah!." Ketus Adit. Paman itu pun segera pergi sambil menahan tawanya
Adit segera kembali untuk menghampiri istrinya yang sedang menunggu nya tadi. Namun saat Adit sudah berada ditempat nya semula, iya sangat terkejut karena tidak melihat keberadaan istrinya sekarang. Perasaan Adit sangat kacau dan cemas, iya terus saja berteriak memanggil nama Dita namun tidak ada sama sekali sahutan dari Dita.
"Kau kemana." Dengan suara khawatir. Adit langsung menelpon orang suruhan nya untuk mencari Dita, namun baru saja hendak menelpon iya langsung tersentak saat mendengar ucapan lembut dari seorang wajita.
"Sayang." Panggilnya dengan lembut dari belakang badan Adit. Adit yang mendengar itu langsung berbalik dan memeluknya dengan sangat erat.
"A, aku sesak." Dengan suara kecil dari balik dada bidang Adit. Mendengar suara kecil dan parau dari Dita, Adit langsung melepaskan pelukannya dan mencium bibir Dita sekilas.
"K, kau kemana saja?." Tanya Adit dengan nada seribu khawatir
"Beli ini." Menunjukkan kepada Adit. Lagi-lagi Adit sangat terkejut melihat kantong kresek yang sangat besar ditangan kiri Dita, iya pun langsung mengambil dan melihatnya.
"Buat apa?." Tanya Adit dengan suara dingin
"Hiks, aku hanya ingin memakan nya hiks." Dengan disertai tangisan yang berpura-pura
"I, ini terlalu banyak." Balas Adit dengan suara yang khawatir, karena iya tidak ingin istrinya nanti sakit gigi akibat kebanyak makan Gula kapas.
"Hiks, itu hanya 1, tapi dikali 6 hiks." Ucap Dita tanpa dosa yang masih berpura-pura menangis. Adit yang melihat istrinya terus menangis merasa tidak tega, iya pun segera menenagkan istrinya agar tidak menangis lagi.
"Ya udah, tapi jangan terlalu sering lagi makan ini." Kata Adit dengan lembut dan memusut rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Hem, Terima Kasih sayang." Balas Dita gembira dan seger memeluk Adit tanpa melihat orang-orang yang berada disekitarnya.
"Apa kau mau pulang?." Tanya Adit lembut
"Naik mobil yah, Aku cape." Pinta Dita memeles. Adit yang melihag istrinya memelas langsung menggendong dan membawanya keparkiran.
"Tunggu disini." Suruh Adit yang baru saja mendudukkan istrinya dikursi paling depan.
"Jangan lama-lama." Sahut Dita manja yang diikuti bibir manyun nya.
Cup...!
"Aku sebentar saja sayang." Balas Adit yang barusan mengecup bibir Dita singkat.
"Hem pergilah." Suruh Dita lembut. Adit pun segera pergi untuk membelikan sesuatu buat istri kecilnya itu.
Lima menit kemudian Adit baru kembali dan segera masuk kedalam mobilnya, saat iya masuk ternyata istrinya sudh tertidur dengan nyenyak.
"Kau terlihat pucat sayang." Dengan suara khawatir dan membenarkan rambut Dita yang berserakan diwajah mulus dan cantiknya itu.
Adit pun segera menjalankan mobilnya menuju pulang kerumah. Sepuluh menit kemudian akhirnya mereka berdua sudah masuk digerbang rumah mewah miliknya.
Karena Dita masih belum bangun Adit pun langsung menggendong tubuh istrinya untuk masuk kedalam. Adit yang melihat wajah istrinya semakin pucat merasa sangat khawatir, iya segera membawa istrinya kedalam kamar.
__ADS_1
Setelah sudah berada dikamar, Dita masih belum bangun. Karena merasa takut, Adit segera menelpon Dokter pribadinya untuk kerumah.
"Segera kemari!." Bicara Adit dengan orang sebrang dan langsung mematikan telponnya.
Sepuluh menit kemudian, Dokter pribadi keluarga Raharja baru saja sampai, karena tadi dijalan sangat macet.
"M, maaf Tuan, tadi macet." Kata Dokter itu yang bernama Dokter Suandi dengan tergagap-gagap karena ketakutan.
"Cepat lakukan tugas mu!." Ketus Adit dengan nada amarah. Dokter Suandi yang mendengar iya langsung memeriksa kondisi Dita dengan tangan bergetaran dan keringat dingin yang terus keluar.
"M, maaf Tuan, sepertinya Nona Muda kelelahan dan harus dipasang inpus." Ucapan Dokter Suandi membuat Adit ketakutan.
"L, lakukan segera!!." Perintah Adit cemas. Dokter Suandi pun segera menelpon orang yang berada dirumah sakit, karena iya tadi tidak banyak membawa peralatan Dokter.
Tak berapa lama menunggu, dua orang Suster baru sampai dirumah mereka dengan membawakan berbagai alat kesehatan.
Dokter Suandi dan dua Suster itu segera menangani Dita yang masih tidak sadarkan diri. Mereka menusukkan jarum inpus ditangan kiri Dita dengan perlahan-lahan.

"Ini obat untuk Nona Muda. Diminum saat mau tidur nanti malam." Menyerahkan beberapa obat kepada Adit.
"Terima kasih, Dok." Sahut Adit. Mereka bertiga pun hanya mengangguk dan segera pergi dari kediaman Adit.
"Cepatlah sadar." Lirih Adit sambil meletakkan telapak tangannya didahi istrinya dengan tersenyum.

"Mah Dita pingsan." Ucap Adit dengan lirih kepada Ibunya yang berad disebrang telpon.
"Mamah dan Irfan akan kesana." Sahut Nyonya Lusi. Karena Tuan Dimas saat ini sedang mengurus perusahaan yang ada diluar kota.
"Kalau bisa mamah menginap beberapa hari disini, untuk menemani istriku." Kata Adit
"Baik mamah dan Irfan akan menginap dirumah mu." Dan langsung mematikan sambungan telponnya.
Adit kembali kekamar untuk menemui istrinya. Saat iya baru saja masuk kedalam kamar, ternyata istrinya sudah sadarkan diri, dengan langkah cepat Adit menghampiri isrtinya.
"Istirahatlah dulu sayang." Ucap Adit yang melihat istrinya hendak duduk.
"Aku ingin makan mangga muda." Pinta Dita dengan suara parau
"Aku akan mengambilkan nya." Sahut Adit tersenyum yang hendak berdiri
"Eh! Aku ingin langsung dipetik dari pohonnya." Dengan memelas
"Tunggu mamah datang dulu." Balas Adit dengan sabar
__ADS_1
"Hem, baiklah." Dan kembali memejamkan matanya. Tak berapa lama Nyonya Lusi dan Irfan sampai dikediaman Adit dan Dita. Mereka berdua segera menuju kekamar tempat Adit dan Dita berada.
"Bagaimana, Dit?." Tanya Nyonya Lusi cemas yang baru masuk kedalam
"Dia baik-baik saja." Balas Adit yang terus memandangi wajah istrinya.
Dita yang mendengar suara dari Nyonya Lusi langsung membukakan matanya dengan perlahan-lahan.
"Mah, Irfan." Panggil Dita yang berusaha untuk duduk. Adit yang melihat istrinya hendak duduk langsung membantunya dengan lembut.
"Kau istirahatlah sayang." Ucap Nyonya Sarah lembut
"Anak kak Dita harus cowok ya." Suara dari Irfan menggoda.
"Diam! Kau bocil!." Ketus Adit
"Bleeee." Yang hanya menjulurkan lidahnya
"Mamah juga ingin cucu laki-laki." Sahut Nyonya Lusi membela Irfan.
"Noh! Mamah aja ingin cucu laki-laki. Bleeeee." Balas Irfan. Dita yang melihat perdebatan kedua kakak beradik itu hanya tersenyum kecil, sedangkan Adit merasa kesal karena kali ini Adiknya yang menang.
"Cepat carikan!." Suara Dita yang tiba-tiba. Mereka yang mendengar suara itu langsung mengeryit sambil melihat kearah Adit.
"Oh iya, aku lupa." Kikuk Adit yang baru ing permintaan dari Istrinya.
"Dia mau apa kak?." Bisik Irfan pelan
"Gak perlu tau!." Dengus Adit
"Mah, aku mau pergi dulu." Ucap Adit
"Yang sabar, Dit." Sambil menahan tawanya. Adit yang mendengar itu hanya mengangguk dan segera pergi untuk mencarikan mangga muda untuk istrinya.
"Fan, kau temani kakak iparmu dulu. Mamah mau buatkan makanan untuk kalian." Kata Nyonya Lusi yang langsung pergi.
.
.
***Jangan lupa kasih vote, like dan comentnya ya sayang wkwkk. Biar Author lebih semangat ngetiknya🤭. Harus ya sayangku cintaku anjay bambang😆.
Ig Author:@anahmsr
Fb Author:@AnahMsr
.
.
BERSAMBUNG***....
__ADS_1