
2 hari lagi adalah hari Pernikahan Adit dan Dita. Semua orang tengah sibuk mendekorasi Mansion Keluarga Raharja itu, karena Dita tidak ingin acara nya dilakukan dihotel atau gedung.
Tidak terasa hari waktu berlalu, kini jam sudah menunjukkan pukul 16:30. Saat ini Dita tengah bermain air ditepi kolam renang bersama Irfan. Sedangkan Adit, ia tengah melihat istrinya dari kejauhan sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Fan!." Panggil Dita sambil melambai-lambaikan tangan nya di Air.
"Iya, Kak?." Tanya Ifran menoleh kearah Kakak iparnya itu
"Jika teman mu ada yang berkhianat, apa kau akan memaafkan nya?." Pertanyaan yang dilontarkan oleh Dita membuat Irfan mengeryitkan dahi nya. Sedangkan wajah Dita, kini sangat pucat seperti orang yang baru sadar dari pingsan.
"Emang kenapa, Kak?." Tanya Irfan kepo
"Tidak ada. Kakak hanya bertanya, bagaimana?." Tanya Dita sekali lagi, dn dijawab oleh Irfan.
"Jika ia berkhianat, tapi untuk alasan yang baik, mungkin aku akan memaafkan nya. Tapi, jika ia senghaja! Aku tidak rela memaafkan semua kesalahan yang ia perbuat." Balas Irfan dengan tegas
"Hem. Kau sangat pintar, Fan." Puji Dita dengan wajah senyu
"Kak Dita, kenapa?." Tanya Irfan menghampiri Dita. Adit yang melihat ke Khawatiran diwajah Irfan langsung menghampiri keduanya.
"Ada apa, Fan?." Tanya Adit cemas memegang tubuh lemah Dita.
"Aku tidak apa-apa, Sayang." Balas Dita tersenyum. Tanpa aba-aba, Adit langsung menggendong tubuh istrinya untuk masuk kedalam dan membawa nya kekamar mereka berdua.
"Mataku hanya mengantuk saja, Dit." Ucap nya dengan lesu, namun tidak didengarkan oleh Adit.
Kini Adit sudah sampai dikamar nya, dan segera membaringkan Dita diatas ranjang yang empuk itu.
"Kau beristirahat lah disini, jangan kemana-mana!." Tegas Adit menatap istrinya dengan tajam.
__ADS_1
"Kau sangat galak, Dit." Gerutu Dita menutupi wajahnya dengan selimut
"Aku galak? Itu semua karena aku takut kehilangan mu. Aku sangat beruntung, karena dipertemukan oleh Bidadari seperti mu itu. I love you Sayang." Ucap Adit dengan tulus membelai ujung kepala istrinya dan mengecup nya, namun tidak ada sahutan sama sekali dari Dita.
"Cih! Ternyata bocahnya sudah ngebo." Kesal Adit yang melihat istrinya sudah tidur. Ia pun kembali mengecup kening Dita sambil berkata...
"Jangan pergi! Aku mohon!." Bisik Adit lirih ditelinga Dita, dan segera pergi keluar.
---------
Kini hari sudah semakin gelap, tapi didalam Mansion itu masih sangat banyak orang-orang yang tengah melakukan pekerjaan nya masing. Sedangkan Dita, ia terus saja merengek disebelah suaminya sambil berbicara tidak jelas. Ia terus saja mengoceh tanpa henti, dan sesekali menusuk kedua telinga suaminya itu.
"Dit! Nak makan." Pinta Dita cemberut
"Mari ikut kedapur." Ajak Adit yang mau menggandeng tangan istrinya itu, namun ditolak oleh Dita.
"Tidak nafsu!." Ketus Dita memalingkan wajahnya dari hadapan Adit. Ingin rasanya Adit menelan istrinya itu hidup-hidup, tapi itu tidak mungkin baginya. Adit pun mengambil napas nya dalam-dalam, sedalam cinta ku kepada mu, dan berkata...
"Ingin Martabak." Mengedip-ngedipkan matanya kepada Adit sambil tersenyum Pepsodent.
"Aku akan memesankan nya untuk mu, tunggu sebe...." Belum lagi Adit selesai berbicara, Dita langsung memotong nya
"Keluar." Cengir Dita sambil menggembongkan kedua pipinya itu.
"Kau bersiap-siap lah." Suruh Adit yang bangkit dari duduknya
"Tidak perlu, sekarang saja berangkat nya." Ajak Dita menarik tangan suaminya seperti anak kecil.
"Nanti kau masuk angin, Ta." Tegur Adit merasa cemas
__ADS_1
"Tidak akan! Ayolah!." Rengek Dita lagi, dengan berat hati Adit mengiyakan permintaan istri kecilnya itu.
Mereka berdua pun segera pergi keluar untuk membeli martabak yang Dita minta tadi. Kini Adit lah yang menyetir mobilnya, sedangkan Dita, ia tengah bermain boneka beruang yang dulu Adit belikan untuknya.
Adit terus menyetir mobilnya, sambil melirik kesegala arah, mencari orang yang berjualan martabak, namun sampai saat ini ia masih belum menemukan nya.
Adit hampir putus asa, namun untunglah nasib baik masih berpihak kepadanya, kini ia sudah menemukan orang yang berjualan martabak dipinggir jalan. Ia segera memberhentikan mobilnya dipinggir, dan ingin mengajak Dita untuk turun, tapi nyata nya...
"Ck! Jauh-jauh keliling, orangnya malah tidur!." Dengus Adit yang melihat istrinya sudah tertidur. Ia pun turun dari mobilnya dan segera menghampiri orang yang berjualan martabak.
"Beli semuanya, Pak." Ucapan Adit membuat Bapak pria paruh baya itu terkejut sekaligus bersyukur. Ia pun mengangguk dan segera membungkus kan semua martabak yang ia jual.
"230 Ribu, Tuan." Menyerahkan beberapa kantong plastik kecil kepada Adit, Adit pun menerima kantong plastik itu dan menyerahkan beberapa lembar uang miliknya.
"Ini kembalian nya masih banyak, Tuan." Kata Bapak itu yang merasa tidak enak menerima semua uang yang Adit berikan.
"Anggap saja ini semua rezeki Bapak hari ini. Saya permisi, Pak." Ucap Adit undur diri, dan segera kembali kedalam mobilnya.
.
.
***Jangan lupa kasih Vote, Like, dan Coment-nya ya para Readers!. Karena itu sangat berguna untuk Author!.
Instagram:@anahmsr
Facebook:AnahMsr
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG***.....